Gizi Kuda Dinas peternakan nusa tenggara barat menggalakkan usaha
peternakan ayam dengan kursus gratis dan kredit investasi. Hotel-hotel besar telah menyedot kebutuhan telor karena hasil ternak sapi menurun. (dh) |
KEKURANGAN telor tampaknya menjadi alasan pokok sehingga dengan
banyaknya Dinas Peternakan NTB menganjurkan agar masyarakat
beramai-ramai memelihara ayam ras. Sebab selain daerah ini
benar-benar sedang dilanda bahaya kekurangan telor, juga
dimaksudkan untuk meningkatkan gizi makanan penduduk. Hal ini
bukan lantaran ayam-ayam di kawasan ini sudah ketularan keluarga
berencana atau para peternaknya sudah enggan membujuk sang ayam
agar memperbanyak telor, tetapi tak kurang dari hotel-hotel
besar di daerah ini telah menyedotnya dalam jumlah tidak
sedikit. Tetapi tak hanya telor, daerah Nusa Tenggara Barat juga
akhir-akhir ini dilanda kekurangan daging. Dan tak urung
harganya pun melonjak-lonjak naik. Sampai-sampai para pengusaha
juga merasa kewalahan. Akibatnya golongan tukang potong ini
harus memilih kuda Sumbawa untuk disuguhkan kepada para
penggemar daging. Begitu gawatkah? Tampaknya memang demikian.
"Bagaimana sapi tak akan habis kalau antara kematian dan
kelahiran tak seimbang' kata Ir. Ll. Wijaya Kepala Dinas
Peternakan Lombok Barat. Maksudnya tentu jumlah pertambahan sapi
jauh lebih kecil daripada yang harus dipotong setiap hari. Dan
lebih celaka lagi, karena belakangan NTB dinyatakan tertutup
bagi sapi-sapi yang hendak masuk dari luar daerah, semata-mata
untuk menghindari penularan penyakit.
Karena itu agaknya pilihan harus juga diarahkan kepada ayam-ayam
ras. Untuk itu sejak beberapa waktu belakangan ini, fihak Dinas
Peternakan hampir tak henti-hentinya memberikan pendidikan dan
kursus-kursus glatis perihal cara-cara memelihara ayam ras ini.
Beberapa orang kader sudah berhasil ditelorkan dan sudah mulai
terlihat hasilnya. Sebagai contoh, menurut Dinas Peternakan,
para kader peternak ini sudah berhasil mendapatkan kredit
investasi dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). Tapi tidak itu saja.
Oleh fihak Kabin Kepemudaan Departemen P & K belurn lama ini
telah mulai dikumpulkan para pelajar berbagai sekolah di kota
Mataram untuk diterampilkan dalam hal peternakan ayam ini, dan
diberi nama Proyek Pembinaan Organisasi dan krivitas Generasi
Muda NTB. "Sebenarnya proyek ini dimaksudkan bagi para pelajar
yang putus sekolah, tetapi karena terbentur biaya, saat ini
diambil para pelajar yang masih aktip ujar Drs. M. Saifuddin,
pimpinan proyek.
Menyelenggarakan peternakan ayam ras tampaknya memang
membutuhkan hiaya tak sedikit. Harga bibit saja sekitar Rp 325
per ekor. Dan ini harus didatangkan dari Jakarta. Fihak Dinas
Peternakan memperkirakan setiap minggunya paling sedikit harus
disediakan sekitar 200 ekor untuk mensuplai para peternak yang
sudah dikeranjingkan tadi. Ini belum lagi terhitung usaha-usaha
untuk menatar ayam-ayam kampullg. Dihitung-hitullg, untuk
meningkatkan mutu pemeliharaan ayam kampung di satu desanya tak
kurang dari Rp 450. 000. Sehingga kalau dihitung-hitung pula
jumlah desa yang ada di propinsi NTB, maka angka yang ditemukan
adalah Rp 70 juta. "Biaya Dinas Peternakall ayam (ras dan kampung)
setengah dari biaya itu" keluh Kepala Dinas Peternakan, "dan
itupun baru untuk Lombok Barat saja".
|