Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 24/IV/17 - 23 Agustus 1974
   
Nasional

Inflasi Bersubsidi

Pengendalian inflasi sudah nampak hasilnya. sasaran 20% selama tahun anggaran ini diharapkan tercapai. Suasana harga dingin akibat ketatnya kredit. Ketatnya kredit bisa menghambat kegiatan ekonomi.

PAKET anti inflasi yang dikeluarkan pemerintah bulan April yang
lalu nampaknya mulai menunjukkan hasilnya. Indeks harga 62
bahan, yang merupakan indeks resmi inflasi selama bulan Juli ini
hanya menunjukkan kenaikan 0,44% dari indeks bulan sebelumnya.
Tingkat kenaikan indeks bulan Juli tahun lalu tercatat 5,27%.
Ada beberapa cara untuk melihat perkembangan inflasi di
Indonesia sekarang ini, dan masing-masing cara bisa menunjukkan
perkembangan yang berbeda-beda. Tingkat tahunan bulan Juli (yang
dihitung dari indeks bulan Juli 1973 sampai Juli 1974)
menunjukkan tingkat inflasi sebesar 37%, yang berarti sudah
terjadi penurunan tingkat inflasi jika dibandingkan dengan
tingkat tahunan bulan Maret lalu yang tercatat sebesar 47%,
yaitu seminggu sebelum paket anti inflasi dilancarkan. Perbaikan
ini juga nampak bila dilihat dari mulainya tahun anggaran, di
mana selama April-Juli tahun anggaran 74/75, tingkat inflasi
tercatat 5,7%. Sedangkan tingkat inlasi selama April --Juli
untuk anggaran yang lalu, mencapai 1,78%. Tapi bila inflasi
dilihat selama tahun kalender sampai Juli, ternyata tahun 1974
mengalami kemunduran dibandingkan dengan tahun sebelumnya:
inflasi sampai Juli ini, mencapai 22%, sedangkan inflasi sampai
bulan Juli 1973, baru tercatat 3%. Kalau melihat bahwa tingkat
inflasi selama April-Juli ini hanya tercatat 5,7%, maka ada
harapan bahwa sasaran inflasi hanya sebesar 20% selama tahun
anggaran ini akan bisa tercapai, sekalipun tingkat ini untuk
negara-negara maju merupakan tingkat yang tak bisa ditolerir.

Harga Dingin

Sejak April kemarin, memang suasana kenaikan harga-harga sudah
tak sepanas seperti bulan-bulan sebelumnya. Indeks harga 9 bahan
pokok terus stabil, bahkan menunjukkan sedikit penurunan
beberapa minggu terakhir ini. Suasana dingin juga sudah mencapai
pasaran harga barang-barang mewah, yang untuk beberapa lamanya
nampaknya harganya tak terpengaruh oleh tindakan anti inflasi
pemerintah. Harga mobil Toyota Corolla dan truk mini Colt bahkan
sudah turun dengan tiga sampai empat ratus ribu rupiah. Di sini
nampaknya kekurangan likwiditas yang diakibatkan oleh ketatnya
kredit perbankan merupakan sebab utama bergeraknya harga-harga
ke bawah.

Resesi

Pengetatan kredit bank juga sudah terlihat pengaruhnya pada
lambatnya pertambahan uang yang beredar. Antara Maret dan Juli,
uang yang beredar bertambah dari Rp 784 milyar, menjadi Rp 813
milyar, yang berarti pertambahan uang beredar setiap bulannya
rata-rata hanya Rp 7,25 milyar. Ini memang jauh lebih kecil dari
pertambahan bulanan selama Januari-Maret yang mencapai Rp 41
milyar. Kenaikan bunga deposito juga berhasil menggaet uang
panas dari peredaran, dan ini juga salah satu faktor yang ikut
membantu terjadinya kontraksi moneter. Antara Maret-Juli,
deposito berjangka melonjak dari Rp 147 milyar menjadi Rp 186
milyar, yang berarti setiap bulan terjadi pertambahan deposito
berjangka sebanyak Rp 9,75 milyar: suatu jumlah kenaikan yang
belum pernah terjadi sejak 1968, ketika deposito berjangka untuk
pertama kalinya diperkenalkan.

Bahkan selama 1973 yang lalu kenaikan deposito berjangka selama
setahun hanya Rp 1 milyar.

Sekalipun pengetatan kredit sudah dilakukan, tapi nampaknya
jumlah kredit perbankan yang mengalir belum bisa dibendung.
Antara Maret-Juli, kredit perbankan bertambah dari Rp 1.090
milyar, menjadi Rp 1.254 milyar, yang berarti setiap bulannya
terjadi pertambahan kredit perbankan sebanyak Rp 41 milyar, yang
merupakan jumlah yang masih lebih besar dari pertambahan kredit
bulanan selama 1973, yang hanya Rp 25 milyar. Pengendalian
kredit bank memang satu-satunya sektor di mana pemerintah mesti
hati-hati sekali dalam usaha membendung inflasi. Kredit memang
perlu diketatkan untuk mendinginkan suhu inflasi, tapi
pengetatan yang terlalu ketat akan menghambat kegiatan ekonomi
dan bisa menimbulkan resesi, satu hasil sampingan yang biasanya
timbul pada setiap usaha pengendalian inflasi. Namun masih
derasnya kredit bank di tengah pengetatan kredit, sekali lagi
menunjukkan satu fakta yang cukup merisaukan: bahwa ada semacam
inelastisitet pada permintaan kredit di sini. Kredit untuk
Bimas, untuk impor pangan dan pupuk, dan terakhir untuk
pengusaha pribumi kecil, merupakan sektor di mana tak banyak hal
yang bisa dikerjakan pemerintah. Mengingat vitalnya sektor
tersebut maka biasanya pemerintah condong untuk lebih murah
dalam memberi kredit kepada sektor-sektor ini dari pada
sektor-sektor lain. Itulah sebabnya dalam ekspansi kredit
perbankan kredit Bank Indonesia untuk Bimas produksi pertanian
dan impor bahan pokok merupakan komponen utama. Dan jumlah
kredit langsung BI ternyata merupakan 34%, dari seluruh kredit
perbankan yang beredar dewasa ini.

Berhasilnya tindakan anti inflasi pemerintah tetap akan
tergantung dari inflasi di negara maju. Kecuali Jerman Barat,
maka negara-negara maju masih belum bisa mengendalikan
inflasinya. Dan hampir di semua negara industri tingkat inflasi
masih berupa dua angka. Hal lain adalah sampai berapa jauh
pemerintah mampu terus-menerus memberi subsidi untuk menekan
harga beberapa bahan pokok. Bila jumlahnya sudah terlalu besar
dan memberatkan anggaran, ini berarti tanda bahwa ekspansi
moneter akan meledak dari sektor APBN, yang selama ini-dengan
selalu terjadinya surplus anggaran, efeknya terhadap ekspansi
moncter masih terus negatif. Tapi saat ini tak ada seorangpun
yang ragu terhadap kemampuan pemerintah dalam memberi subsidi,
dan juga terhadap kemampuan pemerintah untuk "menyetel" indeks
harga.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data