Ada Minyak, Ada Beras ? Ekonomi Indonesia tak mengkhawatirkan dengan adanya inflasi
yang kian menggawat. Ekspor minyak terus naik. Tapi masih
tanda tanya apakah Indonesia sanggup mencari beras dari luar
negeri. |
MANAJEMEN moneter sudah terasa sedikit ketat selama kwartal
pertama tahun ini. Satu tindakan yang sulah semestinya dengan
menggawatnya inflasi. Uang yang beredar hanya naik dengan 6%
jauh lebih kecil dari 15% yang terjadi pada kwartal yang sama
tahun lalu. Proyeksi kenaikan uang yang beredar untuk seluruh
tahun menunjukkan angka 24% saja, dibanding dengan 46 untuk
1973. Akibatnya, jumlah kredit yang dikeluarkan bank-bank
anggota clearing di Jakarta selama Pebruari hanya bertambah
dengan Rp 7 milyar saja: tingkat kenaikan bulanan yang terkecil
semenjak 1973. Ini terjadi sesudah sebulan sebelumnya kenaikan
kredit mencapai angka rekor sebesar Rp 29 milyar. Di atas semua
ini, terjadinya surplus ABN 19j3/197 yang baru ditutup Ali
Wardhana akhir Maret lalu sebesar Rp 7 milyar menambah efek
deflatoir pada kegiatan ekonomi, sehingga membantu mendinginkan
suhu inflasi yang mulai menghangat.
Otot Sadli. Boom ekspor yang pengaruh inflatoirnya dikhawatirkan
memang sudah terjadi selama kwartal pertama 1974 ini. Ekspor
Indonesia selama 3 bulan pertama sudah mencapai US$ 1500 juta,
satu kenaikan 3 kali lipat dari kwartal yang sama tahun lalu.
Ekspor minyak tentu saja yang menyebabkan kenaikan ini. Nilai
ekspor minyak naik dengan 4 kali lipat. Ini tentu saja karena
harga yang terjadi untuk kwartal pertama tahun ini sebesar US
10,80 per barrel, 3 kali lipat harga selama kwartal yang sama
tahun lalu.
Banjir dollar yang akan dialami Pertamina tahun ini bukan tidak
menimbulkan masalah-masalah gawat Bagaimana pengawasan terhadap
harta karun ini akan dilaksanakan oleh aparatur pemerintah yang
baru saja merias dirinya? Belum banyak terlihat kemajuan dalam
pengawasan terhadap Pertamina. sekalipun Undang-undang tentang
PN Pertamina sudah disahkan DPR beberapa waktu yang lalu. Juga
diragukan apakah seorang Dr. Sadli akan cukup kuat punya otot
terhadap Pertamina. Tidak sedikit yang tetap beranggapan bahwa
masih banyak yang belum terbuka tentang Pertamina ini, sedangkan
setiap warga negara merasa hendak mengetahui hal-ihwal PN yang
dimodali pajak mereka. Barangkali sudah waktunya Pertamina
mengumumkan secara penodik neraca rugi-labanya melalui surat
kabar. Bank-bank pemerinlah sudah lama melakukan hal ini.
Lonjakan tajam.
Bahan ekspor tradisionil lainnya di samping minyak rupanya juga
masih menikmati pasaran yang kuat. Devisa yang dikumpulkan dari
ekspor ini sampai Maret lalu sudah melcwati angka US$ 500 juta
periode yang sama tahun lalu hanya mencapai US$ 269 juta. Yang
mengherankan adalah bahwa pasaran komoditi ekspor yang kuat ini
terjadi justru ketika negara industri sedang mengalami resesi.
Kalau benar negara industri akan pulih dari resesi menjelang
akhir tahun ini seperti banyak diramalkan para ekonom Amerika
maka tak ada alasan mengapa ekspor komoditi Indonesia mesti
mengendor tahun ini.
Dengan demikian agaknya bisa dimulai proyeksi sementara dari
devisa ekspor yang akan diterima Indonesia selama 1974. Untuk
ekspor non minyak perkembangan sekarang menunjukkan sejumlah US$
2200 juta akan bisa terhimpun. Ekspor minyak -- yang harganya
dinaikkan menjadi US$ 11,70 per barrel mulai 1 April -- akan
menghasilkan USS 4.900 juta. Proyeksi ini masih bersifat
hati-hati, karena siapa yang bisa menjamin bahwa harga minyak
tak akan naik lagi? Bagaimanapun, total jenderal devisa yang
akan diterima Indonesia tahun ini tak akan kurang dari US$ 7
milyar. Apa artinya angka itu? Tidak lain berarti ekspor
Indonesia sudah melalui ekspor Korea Selatan yang pembangunan
ekonominya sudah lebih jauh dari sini. Jumlah ekspor USS 7
milyar juga berarti bahwa Indonesia sudah mendekati kalau tidak
menyamai -- ekspor Brazil, "Jepangnya" Amerika Latin. Namun
berbeda dengan Korea Selatan dan Brazil yang ekspornya sebagian
besar sudah berupa barang-barang jadi, ekspor Indonesia masih
saja berpijak pada basis yang sama -- bahan-bahan primer.
Kalau ekspor naik dengan lonjakan yano tajam, maka angka impor
yang dikumpulkan oleh Laporan Mingguan Bank Indonesia untuk
Januari dan Pebruari (angka bulan Maret belum siap) menunjukkan
bahwa impor naik tak seberapa, hanya 15%, dibandingkan dua bulan
yang sama tahun lalu. Dari situ jelas bahwa lebih banyak devisa
akan keluar untuk membeli beras dari luar negeri. Impor beras
selama dua bulan terakhir ini nmenandakan jumlah impor yang
paling besal. Jumlahnya lebih besar dari impor pupuk, dan malah
lebih dari nilai impor mesin-mesin dan bahan bangunan. Rupanya
produksi bela dalam negeri masih saja belum cukup. Dan
masalahnya sekarang adalah berapa besar beras yang sanggup
dibeli Indonesia dari luar'?
Tahun lalu devisa yang dihabiskan untuk beras mencapai US$ 403
juta, dua kali lipat dari jumlah yang dihabiskan setahun
sebelumnya. Harga beras di luar negeri sekarang rata-rata
mencapai US$ 500 per ton, yang menyebabkan uang belanja Bulog
juga harus dinaikkan dengan US$ 25 - US$ 50 untuk per ton beras.
Kalau kunci problimnya adalah "ada dollar ada beras", maka
masalah beras untuk Indonesia tahun ini tak kiranya usah
mengganggu tidur para teknokrat di Bappenas. Yang repot adalah:
bagaimana kalau persediaan beras di pasaran dunia tidak
mencukupi kebutuhan kontrak-kontrak yang sudah ditandatangani?
|