Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 38/III/24 - 30 November 1973
   
Ekonomi dan Bisnis

Bila Pupuk & Beras Terkuras

Produksi beras dalam negeri tak mencukupi. Impor tak dapat dihindarkan. 744.000 ton pupuk harus disediakan untuk intensifikasi. Pengadaan dan distri busi pupuk merupakan masalah yang cukup rumit.

NOPEMBER ini sudah mulai menyaksikan datangnya hujan. Dan
biasanya begitu hujan tiba, musim basah akan terus berlangsung
sampai awal tahun depan. Ini merupakan saat yang baik untuk
musim tanam 73/74, yang berlangsung mulai bulan ini sampai
September tahun depan. Musim tanam kali ini akan meliputi areal
sebesar 3,3 juta hektar, yang berarti 600.000 hektar lebih
banyak dari areal musim tanam sebelumnya. Jumlah intensifikasi
pada areal seluas ini tak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan
beras seluruhnya karena kalaupun sasaran areal tersebut dapat
dicapai, jumlah beras yang akan dihasilkan paling banyak hanya
akan mencapai 14,8 juta ton. Berarti 1,2 juta ton kekurangan
mesti dicari dari luar dalam keadaan yang paling tidak
menguntungkan. Harga tinggi di luar negeri sudah berlangsung
beberapa waktu, dan nampaknya belum ada tanda-tanda akan turun.

Menggenjot inflasi. Sulit sekali sekarang ini mencari tempat di
luar yang harga berasnya kurang dari US$ 400 per ton. Ini
berarti harga beras sekarang 60% lebih tinggi dari harga
rata-rata setahun yang lewat. Khmer, salah satu negara gudang
beras, bahkan sudah menjualnya dengan US 450 per ton. Impor
beras Indonesia sampai saat ini sudah mencapai 798.000 ton,
sekalipun sekarang belum seluruhnya masuk. Suka atau tidak,
lebih separoh dari jumlah impor beras ini berasal dari RRC, yang
dibeli lewat Hongkong. Pembelian dari dalam negeri -- mungkin
karena kericuhan BUUD tempoh hari -- baru mencapai 250.000 ton,
dan sampai kini belum di ketahui dari mana kekurangan beras
sebesar 152.000 ton akan dicari. Situasi inilah yang menyebabkan
Ketua Bulo Bustanil di depan DPR tempoh hari mengakui
keprihatinannya terhadap stok beras.

Rekening beras pada neraca pembayaran dengan sendirinya terasa
cukup berat selama tahun ini. Sampai dengan bulan Agustus,
jumlah devisa yang di keluarkan untuk mengimpor beras sudah
mencapai US$ 342 juta, lebih besar dari jumlah seluruh impor
beras selama 1971 dan 1972. Jumlah kredit Bank Indonesia kepada
Bulog untuk impor beras sudah berjumlah 3 kali lipat dari jumlah
kredit yang dikeluarkan seluruh bank swasta nasional di negeri
ini. Diduga jumlah kredit pangan ini ikut menambah efek
menggenjot inflasi, yang masih terasa sekarang, sekalipun harga
beras su3ah berhasil dijinakkan. Diperkirakan subsidi untuk
beras tahun ini akan mencapai Rp 70 milyar, merupakan 16o dari
anggaran rutin APBN 73/74.

Forum Senin. Kalau musim hujan merupakan awal yang menyejukkan
bagi musim tanam kali ini, maka seperti tahun lalu, pupuk masih
cukup memusing kan. Jumlah pupuk yang diperlukan untuk
intensifikasi 3,3 juta hektar jauh lebih besar dari jumlah pupuk
yang diperlukan di waktu yang sudah. Tak kurang dari 744.000 ton
pupuk mesti tersedia untuk keperluan itu, dan pupuk ini mesti
sampai ke daerah-daerah yang memerlukan pada waktunya, kalau
Bimas kali ini tak ingin gagal seperti waktu yang lalu. Berbeda
dengan tahun lalu, kali ini Widjojo Nitisastro tak perlu
menyusup, sendiri ke gudang-gudang pupuk, namuri waktu Emil
Salim rupanya hampir habis untuk memikirkan bagaimana mengerah
kan kereta api, truk dan kapal yang cukup untuk mengangkut pupuk
ketempat yang dituju. Bulan yang lewat 99.000 ton pupuk masih
ditunggu-tunggu di basis produksi. Padahal 250.000 ton pupuk
yang diekspor Mitsui dari Jepang menurut Warta Ekonomi Maritim
sulit diharapkan di Indonesia akhir tahun ini.

Rapat-rapat di Departemen Emil Salim dan "Forum Senin" di
Departemen Keuangan terus terpusat pada bagaimana pupuk mesti
sampai ke "sentra lokasi", untuk seterusnya disalurkan ketempat
lain, bagaimana pupuk bisa sampai ke pelosok-pelosok terpencil,
sebelum jalan becek karena hujan, dan sanksi apa yang mesti
dijatuhkan pada distributor pupuk yang gagal melaksanakan
janjinya. Kenyataannya di Kabanjahe, Sumatera Utara, 7 tanda
tangan harus dipunyai petani yang datang dari desa ke Kabupaten.
Belum lagi harganya yang makin menggila. Harga pupuk pemerintah
sudall dinaikkan dengan 50O menjadi Rp 40 sekilo, karena
pemerintah mesti menekan subsidi yang diberikan untuk pupuk dan
untuk mengurangi beban impor pupuk yang harganya naik dan beban
harga pembelian beras dari petani yang harganya dinaikkan dengan
61 menjadi Rp 21,20 sekilo. Kenyataannya harga pupuk di luar
mencapai - Rp 60 sampai Rp 80 sekilo, dan inipun sulit di cari
barangnya. Permintaan pupuk memang melonjak keras, bukan saja
berkat kampanye Bimas, tapi jugakarena petani umumnya sudah
menyadari manfaat pupuk, dan mereka juga perlu pupuk untuk
tanaman lain - palawija, sayur-mayur tanaman komersiil lainnya
seain untuk padi.

Keadaannya memang sudah cukup rumit. Ketua Umum Perhepi
(Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia), Dr AT Birowo ketika
ditanyapun hanya dapat mengemukakan 2 alternatif yang sama
repotnya. Alternatif pertama, penyaluran pupuk yang toh tinggal
sedikit itu diatur oleh Pemerintah dengan peraturan-peraturan
yang lebih rapi dari pada Surat-Surat Menperdag dan Mentan serta
Badan-Badan Pembina Bims di daerahdaerah yang saling
simpang-siur, yang Justru merangsang permainan-permainan lewat
pintu belakang. Sedang alternatif kedua, adalah pembebasan tata
niaga pupuk pada kekuatan pasar saja.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data