Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 21/III/28 Juli - 03 Agustus 1973
   
Kota

Siap Melawan Api

Jakarta siap menanggulangi bahaya kebakaran. Personil & sarana Dinas Pemadam Kebakaran DKI ditingkatkan. Tapi daerah tanah sereal yang masih belum sempat dibenahi, masih rawan terhadap bahaya kebakaran.

MUSIM kemarau sudah tiba. Buat Jakarta, ini lebih banyak berarti
bahaya kebakaran daripada musibah kekurangan air. Musim
kebakaran mulai tepercik minggu lalu di pabrik korek-api
Jamavac, jalan Manggadua. Di samping kerugian materiil tercatat
15 orang karyawan pabrik itu menderita luka-bakar. Untunglah
barisan pemadam kebakaran yang ketika itu sedang sibuk melerai
perkelahian pelajar di Jalan Budi Utomo, buru-buru datang
sebelum api sempat menjalar ke mana-mana.

Cuma satu rumah. Mungkin setelah melihat pengalaman tahun-tahun
sebelumnya lalu di mana frekwensi kebakaran cukup kerap --
sampai diadakan kampanye anti kebakaran tahun lalu kini Dinas
Pemadam Kebakaran DKI bersiap-siap untuk menghadapi kemungkinan
yang belum bisa diramalkan. Ditambah tiga buah yang baru-baru
ini diserahkan Presiden Suharto, seluruh mobil pemadam kebakaran
yang dimiliki dinas anti-api berjumlah 45. Jumlah itu akan
dilipatduakan lagi dalam tahun ini juga. 32 buah lagi segera
datang dari Jepang. Kcpala.dinasnya sendiri Sukmadihardja
selamaa rninggu berada di Osaka dan Tokyo untuk mempelajari
baik-baik keadaan kendaraan itu sebelum digunakan oleh
anak-buahnya. Pospos juga sedang diperbanyak. Telepon tidak
terlalu diandalkan sebab dinas ini sudah mempersiapkan cadangan
berupa radio telepon. Sementara di menara penglntai yang
terletak di depan markas besar di jalan Ketapang itu, secara
bergilir diadakan piket pengintaian kalaukalau ada kepulan asap
yang mencurigakan. Pasukan berseragam kuning dengan topi baja
ala serdadu Inggeris itu, dari 1083 akan ditambah menjadi 2022
orang.

Tetapi usaha menekan bahaya kebakaran tidaklah semata-mata
tergantung pada peralatan yang numplek di markas tadi. "Yang
lebih penting adalah pencegahan. Masyarakat supaya jangan lalai
dengan kompor, lampu, rokok ataupun obat nyamuk", harap
Sukmadihardja.

Pekerjaan menanamkan kesadaran ke arah itu nampaknya jadi
pekerjaan yang hampir musykil. Tetapi Sukma boleh berlapang dada
dengan pesatnya perbaikan kampung yang dijalan atasannya, Ali
Sadikin. "Tempo hari terjadi kebakaran di kampung Kerendang.
Cuma satu rumah yang habis. Saya tak bisa membayangkan bagaimana
jadinya kalau perbaikan kampung belum sampai ke situ. Paling
dihitung 40 rumah ludes. Karena dengan gang-gangnya yang begitu
sempit selama ini, tak mungkin kendaraan kita masuk ke pusat
api", katanya. Dan perhitungan telah dibuat masak-masak sebelum
membeli puluhan kendaraan baru itu. Enam buah di antaranya
terdiri dari unit yang lebih kecil. yang dengan gampang bisa
masuk ke lorong yang sempit.

Sudah OK. Tentang mobil branwir mukibat yang diserahkan Presiden
Snharto yang panjang tangganya hampir separo lapangan bola,
untuk sementara diparkir di jalan Ketapang. Tapi tak lama lagi
ketiga-tiganya akan dipindahkan ke Nusantara Building. Sebab
unit mobil macam itu ditujukan untuk mengamankan gedung
bertingkat yang berjejer di sisi jalan Thamrin. Lagi pula, kata
Sukmadihardja, "kalau dibiarkan di sini repot juga. Beratnya
saja lebih 20 ton Seperti tank saja. Jalanan di sini bis rusak.
Apalagi kalau harus lewat jembatan. Saya takut bisa ambrol".

Nampaknya segala sesuatu sudah disiapkan secara rapi. Jadi
apakah masih ada sesuatu yang menoernaskan? Ada. aerah Tanah
Sereal yang masih helum sempat dibenahi Dinas Tata Kota masih
merupakn daerah yang rawan. Tahun lalu, di daerah ini tercatat
tiga kali kebakaran habis-habisan. Tentang persediaan air sudah
ok. 20 kran baru sudah dipasang tersebar di mana-mana. "Tetapi
bagaimanapun saya harapkan masyarakat supaya membersihkan kali
dekat rumah mereka. Hingga kalau kita pedu air tak perlu
luntang-lantung menyedot ke tempat lain". Tambah dekat sumber
air, tambah cepat api dipadamkan, begitulah kira-kira
fikirannya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data