Payung Sudah Tersedia Yayasan Lembaga Konsumen, yang diketuai Ir Sanusi dengan
alamat jl. Taman Lawang 3, Jakarta, diperkenalkan pada
pers. Tujuannya melindungi kepentingan konsumen & meneliti
mutu barang, apa sesuai dengan iklan. |
1001 ragam barang yang bertumpuk dan tersusun dengan rapi di
etalase-etalase toko selain menitikkan air liur juga menambah
problem pembeli. Soalnya, si pembeli alias konsumen harus
memilih. Misalnya dalam hal bahan cuci-mencuci, mana yang harus
dipilih sabun batangan yang "nyata benar beda nya" ataukah
sabun bubuk detergent yang konon "dapat mencuci sendiri". Atau
dalam soal memilih bahan pembungkus badan -- mana yang lebih
menyenangkan: kain tetoron buatan Jepang, atau organza, katun
atau sutera alam Bugis dan Mandar? Dan betulkah anggapan orang,
bahwa bikinan luar negeri dan harga paling mahal selalu
mencerminkan mutu yang paling jempolan? Dalam soal-soal yang
sangat relatif begini dan banyak tergantung pada keampuhan
iklan, soal selera tidak lagi menjadi sesuatu atribut yang
pribadi sifatnya dan lebih tergantung pada kelihayan penjual.
Pramuniaga. Nah, untuk melindungi konsumen dari kemungkinan
dikibuli para pedagang atau produsen, di berbagai negara sudah
lama tumbuh organisasi-organisasi perserikatan pembeli atau
perlindungan konsumen. Misalnya yang dipelopori oleh Ralph Nader
di Amerika Serikat. Tugasnya memberikan penerangan pada
masyarakat tentang tiap jenis barang yang bolak-balik di
pasaran. Indonesia rupanya tak mau ketinggalan, meskipun sudah
lama ketinggalan gerbong. Dengan meminjam tempat di rumah Nyonya
Lasmidjah Hardi, Yayasan Lembaga Konsumen diperkenalkan pada
masyarakat Ibu kota lewat pers. Hampir 80% dari pengurus Yayasan
itu terdiri dari nyonya-nyonya rumah-tangga, yang menurut
ketuanya yang bukan nyonya -- Ir Sanusi langsung terlibat dalam
urusan kebutuhan sehari-hari. Sebab meskipun di mana-mana
terpampang slogan " pembeli adalah raja" dalam kenyataannya apa
yang dibeli oleh sang raja di sini masih ditentukan oleh orang
lain. Bahkan menurut Insinyur yang pernah menjadi Menteri
Perindustrian RI, "selama ini konsumen Indonesia dijadikan
bulan-bulanan para produsen. Karena itu YLK bertujuan membuat
para konsumen jadi cukup pintar agar tidak terus-menerus
dikibuli produsen yang juga berniat mencari makan.
Memang selama ini saking pintarnya para penjual, tidak jarang
terjadi pembeli pulang mengantongi barang-barang yang bukan
pilihannya sendiri, tapi pilihan pramuniaga-pramuniaga yang
manis-manis. Atau karena dari rumah sudah berangkat dengan benak
yang sarat dengan lagu-lagu iklan buah kerongkongan Emilia
Contessa atau penyanyi luar negeri. Padahal tidak mustahil
barang buatan luar negeri itu berkwalitas jelek, semcntara
produk-produk dalam negeripun masih banyak yang di bawah
standar. Nyonya dokter-gigi Jetty Noor yang duduk di situ
sebagai Ketua II YLK menyebutkan beberapa contoh. Misalnya
kompor-kompor yang suka meledak dan sering menimbulkan
kebakaran, timbangan yang suka korupsi bobot, dan kain yang
mudah luntur meskipun digembar-gemborkan bakal awet sampai
seabad. Bahkan yang lebih serius lagi menurut itu dokter gigi
yang sudah nyonya, belakangan ini banyak beredar obat-obat
pencegah kehamilan contraseptic yang dipalsukan. Celakanya
obat-obat palsu ini bisa mengakibatkan pendarahan di
bagian-bagian vital para pemakainya.
Udang. Menampung dan menyalur kan keluhan konsumen terhadap
barangbarang yan, telah dibelinya -- itulah tujuan didirikan
Yayasan Lembaga Konsumen itu. Dan meskipun ketua Yayasan itu
bukan seorang nyonya melainkan suami yang juga aktif sebagai
anggota DPR dan terkenal keras suaranya dalam soal pribumi dan
non-pribumi, "YLK bersifat tidak mencari keuntungan dan non
politis" bak ujar Ir Sanusi. Dan dokter gigi Nyonya Jetty Noor
menambahkan pula dengan sungguh-sungguh: "tidak ada udang di
balik batu". Maksud Yayasan yang beralamat di jalan Taman Lawang
3, Jakarta itu semata-mata untuk melindungi kepentingan
konsumen, agar dengan uang yang terbatas mereka dapat membeli
barang yang tepat. Karena itu, konsumen-konsumen yang merasa di
rugikan dapat mengajukan keluhannya kepada Yayasan dengan
menghindari hal-hal yang bersifat konfrontatif. Selain itu, YLK
yang bermaksud meneliti apakah semuanya yang digembar-gemborkan
dalam iklan-iklan yang menantang memang sesuai dengan mutu
barang. Caranya adalah melalui lembaga-lembaga riset yang tidak
memihak. Namun pada akhirnya, sukses dan manfaat Yayasan atau
Lembaga itu tergantung pada kesadaran konsumen Indonesia, yang
85% masih tinggal di luar kota, 96% di luar Jakarta dan sekian
persen lagi belum bebas BH.
|