Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 11/III/19 - 25 Mei 1973
   
Kolom

Dicari: Payung Konsumen

Belum ada jaminan dan perlindungan bagi konsumen yang menjadi korban iklan. TV sebagai media pemerintah menyiarkan iklan bir, wiski dan rokok, akan membawa dampak negatif terhadap anak-anak yang menirunya.

KEMANA saja kita memandang -- dari kota sampai ke desa -- mata
kita akan tersangkut pada iklan.

Kadang juga telinga kita. Dari bus keliling yang berdagang jamu
dan sabun, dari beca dan bemo yang meneriakkan acara bioskop dan
tontonan-tontonan lain, sampai kepada pedagang obat yang ngampar
di kaki lima dengan membawa pengeras suara.

Tidak cukup dalam koran dan majalah rupanya, juga di atap-atap
bangunan, di pinggir-pinggir jalan, nempel di pohon-pohon -- ini
yang visuil -- juga melalui pengeras-pengeras suara, radio-radio
amatir dan RRI -- ini yang audio -- lalu lewat film di bioskop,
dan lewat TV sampai ke dalam rumah-rumah orang - ini yang
audio-visuil. Lengkap semua ada. Semua mendesak supaya lebih
banyak dikenal orang mau meyakinkan orang. Lain orang
terpengaruh. Yang diiklankan jadi populer. Yang menjadi sasaran
semua itu tentu konsumen, yang didesak supaya "membeli sekarang
juga". Tapi belum ada jaminan tentu nya, benar tidaknya yang
diiklankan itu bermanfaat buat konsumen. Atau sang konsumen akan
jadi korban? Tidak jelas. Juga tak ada jaminan, dan perlindungan
juga tidak jelas. Malah tidak ada barangkali. Cuma yang sudah
jelas terjamin yang menyiarkan iklan itu untung. Juga barnag
yang diiklankan, barangkali.

Kata orang, iklan merupakan ciri khas negara yang sudah maju.
Dan segi ini kita sudah maju tentunya. Consumer affairs begini
ini sudah menjadi consumersim dan consumerism ini lengkapnya
akan bertemu dengan protectionisme, dan karena itu, akhirnya
sampai ke babak berikutnya: Indonesia juga perlu Nader's
Raiders.

Dalam dunia memang sudah ada gerakan-gerakan konsumen ini. Dari
tingkat internasional, nasional, sampai kepada yang lokal.

Makin lama kebutuhan demikian di Indonesia akan makin terasa.
Sebenarnya masalah consumerism dan protectionism ini bidang
umum. Tapi baik juga kalau dipelopori dari dalam dapur oleh
ibu-ibu, yang tentu akan berhadapan dengan pedagang-pedagang -
dari daging ayam yang dijual sudah terkupas di pasar-pasar,
sampai ke daging dalam kaleng, dari bumbu-bumbu masak yang sudah
terbungkus tinggal pakai dengan rasa yang paling enak, paling
gurih, paling sedap dan paling sehat katanya, dari tauco, tahu
dan kecap, sabun cuci, racun serangga, dari bermacam-macam obat
kuat, vitamin-vitamin, untuk pria, wanita hamil dan bayi-bayi,
sampai kepada vasectomi, spiral dan akupunktur.

Di samping ibu-ibu yang mengurus - laboratorium di dapur-dapur
yang harus mendapat jaminan tentang kemurnian barang-barang
dagangan yang dibelinya, juga kebersihan/kesehatan, ramuan dan
timbangannya - perlu juga kemudian turut terjun ahli-ahli
pendidik, ahli-ahli hukum, para dokter dan psikiater.

Dari segi paedagogis dan psikologis yang perlu mendapat
perhatian lebih khusus tentunya iklan via televisi. Selain
pengaruh audio-visuil TV yang jauh berbeda dengan
surat-suratkabar dan majalah -- bahkan dengan bioskop sekalipun
- juga TV secara langsung dan bebas memasuki rumah-rumah orang,
ditonton oleh semua lapisan, termasuk anak-anak. Syahdan, maka
buruk nian pengaruh iklan rokok, bir dan wiski misalnya kepada
anak muda dan anak-anak di bawah umur! Seorang ibu tidak jadi
belanja di toko, sebab anaknya, yang masih kecil, yang
dibawanya, meronta-ronta menangis minta dibelikan bir seperti
yang dilihatnya dalam layar televisi. Rupanya tidak ketinggalan
iapuh ingin menjadi "insan modern ala bir". Anak-anak setingkat
SD/SLP asyik meniru-niru cara orang meramaikan suasana rokok
dalam layar TV dengan segala perlombaan dan perangsangnya.

Pemerintah di satu fihak berusaha hendak memberantas narkotika,
tapi di fihak lain media Pemerintah sendiri, TV yang dibbawah
Deppen dengan bebas menyiarkan iklaniklan yang pengaruhnya bagi
anak-anak kan meresapkan langkah pertama ke arah narkotika.
Sypaya orang jadi "insan modern", minumlah bir, minumlah wiski,
isaplah rokok, sebab inilah lambang dunia yang sudah maju. Dan
untuk mengemukakan dan mengatakan semua itu tentu dengan biaya
iklan yang cukup tinggi. Diiklankan sambil bernyanyi, sambil
beraksi. Ini disiarkan oleh media Pemenntah. Karena biaya
iklannya cukup tinggi dari segi inl(me tentu sudah lumayan.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
26/XXXVII/18 - 24 Agustus 2008

 

Berita lainnya

Zuma untuk Gwen Stefani - 22 Ags 2008 | 10:55 WIB
Sepatu Kasual nan Gaya - 22 Ags 2008 | 10:55 WIB
Presiden : Banyak Unjuk Rasa di Daerah Salah Alamat - 22 Ags 2008 | 10:53 WIB
Pemerintah Dinilai Gagal Mengerem Pemekaran Daerah - 22 Ags 2008 | 10:44 WIB
Batal Tes DNA di Indonesia, WNI Korban Spanair ke Spanyol - 22 Ags 2008 | 10:43 WIB
DPD: Masyarakat Jenuh dengan Pilkada - 22 Ags 2008 | 10:37 WIB
Koalisi Akan Bahas Krisis Pakistan - 22 Ags 2008 | 10:29 WIB
Pagi Ini, Rusia Angkat Kaki dari Georgia - 22 Ags 2008 | 10:09 WIB
Saham di Bursaa Jepang Sesi Pagi Turun 0,67 Persen - 22 Ags 2008 | 10:04 WIB
Bush Tuntut Rusia Segera Keluar dari Georgia - 22 Ags 2008 | 10:03 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data