Krisis Bahan Kalimantan Barat kekurangan bahan pokok. gula dan premium
pernah lenyap dari pasaran. gula dapat ditemukan di pasar tapi
mahal harganya. konon ini disebabkan meningkatnya harga beli
di daerah ini. |
KALAU krisis beberapa bahan pokok sedang menimpa Kalimantan
Barat, beginilah jadinya. Seperti pada permulaan Maret tadi, si
manis yang bernama gula pasir tiba-tiba senyap dari pandangan
umum di pasar-pasar maupun warung. Jika rajin berbisik-bisik
dengan sementara pengecer, bahan pemanis itu dapat juga
diperoleh dengan harga paling rendah Rp 200 per-kg. Lalu bahan
bakar yang dikenal dengan nama premium itu. pernah pula
menghilang dan sekaligus diam-diam muncul di kaleng belakang
para penimhun. Kendaraan-kendaraan dari segala rnerk makin
berkepanjangan mengerunluni pompa-pompa maupun kios-kios. Belum
lagi jejeran jerigen atau kaleng biasa yangberjejal bagai hendak
saling menghimpit. Ini terjadi terutama dalam bulan Pebruari
tadi.
Kata mereka yang punya ke-empuan tentang harga, menghilangnya
kenaikan gula pasir di sana tidak lain karena akibat kenaikan
harga bahan-bahan ekspor. Ini berekor pada meningkatnya daya
beli dan menyebabkan permintaal1 juga meningkat. Lalu menurut
Drs H. Rasyidi Hamid, Kepala Biro Ekonomi Kalimantan Barat,
penyebabnya juga berasal dari berita-berita koran setempat yang
sudah menyebut perkiraan kenaikan harga. Tetapi Rasyidi Hamid
tidak pula lupa menghitung, bahwa dari 2.000 ton kebutuhan gula
per-bulannya untuk propinsi itu, rata-rata hanya terpenuhi 1.750
ton. Dan kekurangan yang biasa nya ditutupi oleh
pedagang-pedagang ternyata dalam bulan itu tidak seorang pun
yang mendatangkan gula. Karena, kata Kepala Dolog Kalbar, hingga
bulan Juni nanti tidak ada panen tebu di Jawa. Meskipun begitu,
karena merasakan betapa pahitnya keadaan propinsi itu kalau
tanpa gula, Dolog telah mempersiapkan jumlah 2.000 ton untuk
bulan Maret.
Cap Go Meh. Dan adapun tentang premium, sekali lagi kesalahan
dialamat kan kepada berita-berita di surat-surat kabar yang
menyebut rencana kenaikan harga bahan-bahan bakar. Meskipun
pejabat-pejabat daerah yang mengurusi nya menyebut pula sebagai
kesalahan adanya perayaan tahun baru Imlek dan Cap Go Meh,
tetapi tidak pelak lagi tersedotnya bahan minuman mesin itu
telah menyebabkan kenaikan harganya sampai 100% dari ketentuan
semula. Namun kalau kemudian harga itu dapat disedot kembali
setelah supply Pertamina ke kios-kios ditingkatkan dari 9
menjadi 12 ton sehari, maka tentulah penyebab sebenarnya karena
barang cair itu tidak mencukupi sebagaimana yang dibutuhkan.
Beruntung bahwa Kalimantan Barat tidak tertimpa pula bencana
harga beras yang melangit, sebab sampai saat-saat terakhir harga
di pasaran masih berada antara Rp 80 sampai Rp 90 per kg.
|