Gajah-Gajah Di Balik Ilung Di banjar, kalimantan selatan, banyak penduduk berpenyakit
kaki gajah (filaria). pemerintah sedang memerangi penyakit
yang disebabkan nyamuk bernama mansunia yang oleh orang banjar
disebut ilung. |
BERBEDA halnya dengan Sumatera, di Kalimantan tidak ada hewan
besar yang bernama-gajah. Tetapi di daerah Kabupaten Banjar
agaknya tidak sulit mencari penduduk yang mengidap penyakit kaki
gajah, alias filaria. Mudah pula disaksikan, apabila seseorang
mempunyai kaki yang bengkak sampai sebesar kaki gajah, dialah
penderita penyakit ini. Penyebabnya datang dari sejenis nyamuk
bernama mansunia. Hewan kecil yang bersayap ini banyak bersarang
di dalam rimbunan tetumbuhan yang disebut orang-orang Banjar
dengan ilung. Dan celakanya, tumbuh-tumbuhan liar begini memang
banyak terdapat di kawasan desa-desa lingkungan kabupaten tadi.
Karena namanya penyakit,ikhwal yang ditimbulkan mansunia ini
memang tidak langsung memberi ancaman jiwa. Tetapi
sekurang-kurangnya tentulah pula mengganggu kelincahan para pak
tani untuk bekerja, sebagaimana dialami penderita-penderitanya
di wilayah Selatan Kalsel. Kalau sampai kumatnya datang, maka
badan-pun akan terasa panas-dingin 2 hingga 3 hari lamanya. Lalu
nasib sang kaki yang sebelumnya sudah besar karena sudah
dimasuki kuman-kuman lewat air liur nyamuk, makin terlihat
besar. Dan selama hari-hari itulah, profesi para petani berhenti
untuk sementara, walaupun terkadang harus memburu musim. Di
antara sekian banyak desa yang telah diketahui tidak sedikit
penduduknya yang telah berkaki gajah, adalah pula desa-desa
Kaliukan dan Kalampayan yang masing-masing 32% dan 22,23% dari
jumlah penghuninya mengidap penyakit ini.
Tubab. Bagi daerah ini penyakit kaki gajah bukan barang baru
lagi. Sejak tahun 1938 tersebutlah seorang tabib yang dikenal
dsngan nama Dr Karyadi. Tahun-tahun itu dokter ini bertugas di
Martapura dan sudah menyaksikan kakikaki penduduk yang
membengkak. Tetapi apa days Karyadi belum banyak beibuat,
kecuali mengirimkan berbagai laporan tentang segala ikhwal
penyakit dan penderitanya ke atasannya di Batavia. Namun
akhirnya laporannya tidak hilang percuma, sebab semenjak itulah
berbagai ahli mulai mencurahkan minat mereka untuk memberantas
penyakit yang susah disembuhkan ini. Survey telah berulang-ulang
dilakukan dan hanya terhenti ketika zaman Jepang dan Revolusi
phisik tempo hari.
Dengan modal itu pula P4M (Pemberantasan, Pembasmian dan
Pencegahan Penyakit Menular) dari Departemen Kesehatan mulai
galak memeranginya serangkaian dengan ganasnya pelaks4naan
Pelita I. Berturut-turut dalam tahun 1971 dan 1972 adalah
desa-desa Bincau, Candi Alus dan Air Putih, lalu Sungai Paring,
Tambak Anyar dan Sungai Tuan telah ditilik petugas-petugas
Depkes bersama ahli WHO (Organisasi Kesehatan Dunia). Tahun ini
menyusul 7 buah desa pula yang dioerkirakan bagian terbanyak
penduduknya telah menderita tubab, demikian penduduk Kabupaten
Banjar menyebut penyakit jenis ini. Menurut Dr Fauzi Darwis dan
M. Rafie dari Dinas Kesehatqn Kabupaten Banjar, sampai waktu ini
di samping penerangan, kepada penduduk juga telah diberikan
obat-obatan berbentuk tablet. Susahnya, menurut kedua pejabat
tadi, masih ada penduduk desa yang bersembunyi-sembunyi di balik
pintu rumah kalau melihat kedatangan Team Kesehatan ke tempat
mereka. Sebab pengalaman mereka menunjukkan bahwa setiap obat
dimasukkan ketubuh mereka, suhu badan jadi naik. Maka timbullah
anggapan di kalangan mereka bahwa Team Kesehatan bukan datang
untuk mengobati, tetapi hanya untuk menambah penyakit. Kesulitan
begini mungkin akan merigundang para alien-ulama di-sana yang
dikenal selalu mampu menjinakkan hati penduduk - untuk
turun-tangan: Sekurang-kurangnya untuk menjelaskan, demikianlah
untuk sementara adanya keadaan tubuh ketika obat itu mulai
bereaksi.
|