Laguna Tanpa Guna Proyek air minum laguna di ternate, maluku utara, yang
diresmikan presiden soeharto tahun 1971 diperguncingkan. sejak
peresmian itu proyek tersebut tak berguna karena tidak pernah
mengalir. |
PERGUNJUNGAN sedang berkecamuk di Ternate. Yang terkena: Jakub
Mansoer BA Bupati, dan Ir Walter Gang, kepala Dinas Pekerjaan
Umum Maluku Utara. Yang pertama, -- menurut Buku Laporan
Pelaksanaan Pelita Tahap I --, adalah pimpinan pembangunan
Proyek Air Minum (PAM) Laguna sedang yang kedua adalah
pelaksananya. Ceritanya dimulai sejak dua tahun yang lalu.
Suatu hari puhul 9 pagi tanggal 15 April 1971, Presiden Soeharto
meresmikan Proyek Air Minum Laguna di Ternate, ibukota Maluku
Utara. Upacara itu tentu saja seperti biasa diawali raung sirene
mobil pengawal serta musik tradisionil, lengkap dengan tifa dan
gong segala dari perahu-perahu sepanjang pantai. Maka sedan DG I
yang ditumpangi Presiden dan Nyonya pun berhentilah di kampung
Pisang, depan sebuah bangunan tembok yang lebih mirip gundukan
tanah.
Bismillah. Laporan pun disampaikan oleh Bupati. Dan dengan
"Bismillahirrahmanirrahiem," Presiden pun memutar kran. Maka
muncratlah air ke segenap penjuru. Tapi siapa gerangan yang
menduga, bahwa itu adalah muncratan pertama dan terakhil? Hingga
kini, sudah lebih dari dua tahun Presiden ber-Bismillah, PAM
Laguna masih juga tak kunjung berguna.
Pergunjingan pun merembet terus menuju alamat T.L. Heuvelman,
bendahara proyek. Konon, sesuai dengan DIP Anggaran Dati I
Maluku, dari biaya sebesar Rp 29.791.000, baru dipergunakan Rp
23.000.000. Di mana tersangkutnya uang sisa sejumlah Rp
6.791.000'? Apakah belum dilunaskan oleh Pemerintah Daerah
Propinsi Maluku di Ambon ataukah telah terjadi hal-hal lain?
Pertanyaan-perlanyaan semacam ini sesungguhnya tak bakal
berbuntut panjang, kalau saja orang Ternate tidak menyaksikan
pemandangan yang sehari-hari nampak di mata. Apa? Pipa-pipa air
ledeng yang besar itu ternyata pada ongol di sepanjang tepi
jalanan Ternate. Pecah. Bagaimana cara Ir Walter Gang memasang
itu pipa-pipa hingga ramai-ramai bertonjolan di alas jalanan,
hanya dialah yang tahu. Dan hanya dia pula yang tahu, kenapa
reservoir dan saluran air yang menyedot air danau Laguna sampai
terancam pecah. Insinyur yang 'dikenal sangat sibuk keluar-masuk
kamar kerja Bupati Ternate 3 (a) 4 kali sehari itu, ternyata
baru bisa diandalkan kebolehannya membikin rumah-rumah dinas.
Itu pun dengan potongan yang minta ampun. Apalagi membuat
jembatan yang betapapun kecilnya, yang sebenarnya sangat
diperlukan oleh akumulasi kopra di kecamatan-kecamatan di sana
sebagai daerah monokultul.
Akan sang Bupati Jakub Mansoer BA sampai kini tidak juga kunjung
menindak pembantunya yang satu ini, sebab ia terlalu sibuk pula
mondar-mandir Ternate-Jakarta. Saking sibuknya, sepanjang tahun
lalu ia hanya tiga bulan saja berada di Ternate. Selebihnya,
terbang bak pengusaha: Ternate--Jakarta--Ambon Kapan
pulange....?
|