Kegoncangan Harga Beras Ramalan produksi meleset, beras terlambat diimpor. ini
merupakan tanggung jawab bulog, wartawan tempo meliput berita
antrian beras di beberapa daerah & disuguhkan dalam laporan
utama. |
SATU setengah bulan yang lalu, ketika untuk pertama kalinya
TEMPO menampilkan Laporan Utama tentang beras, rencana semula
adalah menampilkan banner "Bulog: Antara Bubur & Bulgur" di
sampul majalah. Maksudnya kira-kira begini. Gara-gara
ramalan-ramalan produksi meleset, kita terlambat mengimpor, nasi
telah menjadi bubur dan sebentar lagi banyak rakyat yang
terpaksa makan bulgur. Dan tanggungjawab pengadaan dan
penyaluran itu semua ada di tangan Bulog. Akan tetapi, banner
ini kemudian dicoret, diganti dengan judul baru: Beras, Gula,
Terigu Goncang. Sebab masih ada sekelumit harapan pada para
pengasuh majalah ini, bahwa impor yang dimulai rada terlambat
dan serba terburu-buru bisa meredakan kegoncangan harga beras
yang masih menjadi bahan utama penenang perut-perut yang
berkeroncongan di negeri ini. Sayang sekali, ternyata harapan
itu meleset, dan gelombang-gelombangan pemasukan beras yang
pertama, yang segera disalurkan ke pasaran liwat jari-jari
Bulog, belum juga berhasil meredakan kegoncangan harga yang
dengan teratur menciptakan kedudukan baru bagi tahun-tahun
mendatang.
Dari Jawa Tengah - yang biasanya malah menjual berasnya ke
Jakarta berita-berita antri beras segera sampai ke
meja Redaksi. Itu sebabnya, reporter Martin Aleida bersama
dengan Redaktur Foto Ed Zoelverdi segera dikirim ke sana,
mengabadikan pemandangan-pemandangan yang pasti mengetuk hati
yang bukan batu. Sementara itu, Syahrir Wahab dan Yunus Kasim
tetap mengikuti perkembangan di Jakarta, bagai mana soal beras
itu membikin pusing wakil-wakil rakyat yang masih sedang
memikirkan pencicilan mobil VW mereka, menambah jam lembur
instansi-instansi yang dituding-tuding sebagai kambing hitamnya
dan menambah penghasilan ribuan orang yang kecipratan rezeki nan
tidak lumrah ini. Tidak ketinggalan pula, pembantu TEMPO di
Banjarmasin, Rustam Nadalsyah serta koresponden Wahab Manan di
propinsi Asnawi Mangku Alam mengirimkan laporan pandangan mata
dari daerahnya masing-masing secara spontan tanpa menanti
penugasan Redaksi. Wawancara eksklusif dengan staf ahli di dalam
dan di luar Bulog, dilakukan oleh G. Yunus Adicondro, yang juga
nyelonong sebentar ke Bandung dimana telah terjadi
demonstrasi-demonstrasi melengkapi laporan yang dikirim Soenarya
Hamid. Pada akhirnya, seluruh bahan yang telah terkumpul itu,
disusun secara ilustratif oleh Associate Editor, Bastari Asnin
dibantu oleh G. Yunus Adicondro yang mencoba memecahkan
teka-teki keteledoran Badan Urusan Logistik mengutak-atik
butir-butir beras sesuai dengan teori bufferstock yang dianut di
negeri ini.
|