Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 34/II/28 Oktober - 03 November 1972
   
Pers

Hari Tua Seorang Kuli

Wartawan nasionalis, darmosugito, yang meninggal dalam usia 79 tahun. menulis sejak zaman revolusi dan tulisannya banyak dimuat dalam surat kabar budi utomo. kesetiaannya tak diragukan.

USIANYA telah 79 tahun dan terakhir jarang disebut.
Tulisannyapun sudah lama tidak dibaca orang. Maka ketika datang
berita kematiannya tanggal 9 Oktober yang lalu orang kecuali
yang mengenalnya secara dekat) baru sadar ia masih hidup hingga
hari Senin itu. Tapi karena Dannosugito adalah wartawan
nasionalis dan kesetiaannya kepada professi tak diragukan, lalu
diberilah penghormatan yang cukup besar. Muncul tulisan-tulisan
tentang perjuangannya dan ke tika jenazahnya dimakamkan di
pemakaman Taman Siswa Yogyakarta, Menteri Penerangan ikut
mengirimkan karangan bunga. Dengan berpulangnya tokoh ini
barisan wartawan tiga zaman semakin menipis. Apalagi yang masih
aktif di bidang jurnalistik.

Almarhum semula adalah seorang pendidik. Dia lama menjadi guru
dan kemudian aktif pula dalam pimpinan Taman Siswa, membantu Ki
Hajar Dewantara. Melalui petuah-petuah kebanggaannya pada
murid-murid ini akhirnya membawa dia ke pembuangan Nusa
Kambangan. Baru setelah keluar dari penjara ini ia beralih ke
bidang jurnalistik. Dan karier ini begitu panjang.
Tulisan-tulisannya tersebar terutama dalam susat-surat kabar
Budi Utomo. Dalam masa pendudukan Jepang ia masih rajin menulis,
dan setelah kemerdekaan kerjanya masih menonjol. Terutama pada
masa revolusi di Yogyakarta. Hanya usia terlalu tua yang
terkadang menghentikan dia menulis. Tetapi dalam waktu 5-6 tahun
menjelang akhir hayatnya masih juga dia menyempatkan diri
memburu berita-berita walau untuk itu harus tetap ditempuhnya
dengan berjalan kaki.

Seperti kuda. Inilah yang menarik dari Darmosugito. Apalagi
kalau dilibat wartawan-wartawan dari masa penjajahan akhirnya
banyak meninggalkan bidang jurnalistik. Mungkin karena di anggap
segi dapurnya tak begitu mendukung. Karena seperti yang
diceritakan orang pendapatan wartawan generasi lama memburuk
mulai masa pendudukan Jepang. Di samping itu kehidupan pers
dalam masa kemerdekaan ini pernah mengalami keadaan sangat
suram. Ini konon yang dianggap alasan untuk menilai Darmosugito
sebagai pembawa pantangan yang sangat kontradiktif dengan
hidupnya. la dikabarkan sering mencegah orang-orang yang ingin
jadi wartawan.

Walaupun ini tak berarti bahwa ia menyesali karir yang telah
dipilihnya. Karena mungkin dianggapnya tidak semua orang akan
mampu memikul beban hidup seorang wartawan seperti yang telah
dialaminya. "Bekerja seperti kuda, gaji kecil dan sudah tua tak
dihargai", katanya. Dan orang tak percaya bahwa dia
bersungguh-sungguh melarang angkatan kini memilih hidup sebagai
wartawan. Tetapi mungkin yang ingin diucapkannya adalah perlunya
kaum wartawan mewujudkan kesetia-kawanan mereka. Misalnya
membantu rekan-rekannya yang sudah uzur, seperti lazim dilakukan
kini oleh para artis. Sehingga tidak ada lagi wartawan yang
mencapai umur tua seperti Darmosugito yang hanya hidup dengan
belas kasihan beberapa koran yang pernah dibantunya dulu.

Namun bagaimanapun ia adalah sebuah tonggak yang tinggi pula
dalam kehidupan pers di negeri ini. Apakah dengan kehidupan pers
yang kadang-kadang suram dan kadang-kadang lesu akhir-akhir ini
dapat melahirkan lagi orang seperti Darmosugito, masih akan
dilihat.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data