Hari Tua Seorang Kuli Wartawan nasionalis, darmosugito, yang meninggal dalam usia 79
tahun. menulis sejak zaman revolusi dan tulisannya banyak
dimuat dalam surat kabar budi utomo. kesetiaannya tak
diragukan. |
USIANYA telah 79 tahun dan terakhir jarang disebut.
Tulisannyapun sudah lama tidak dibaca orang. Maka ketika datang
berita kematiannya tanggal 9 Oktober yang lalu orang kecuali
yang mengenalnya secara dekat) baru sadar ia masih hidup hingga
hari Senin itu. Tapi karena Dannosugito adalah wartawan
nasionalis dan kesetiaannya kepada professi tak diragukan, lalu
diberilah penghormatan yang cukup besar. Muncul tulisan-tulisan
tentang perjuangannya dan ke tika jenazahnya dimakamkan di
pemakaman Taman Siswa Yogyakarta, Menteri Penerangan ikut
mengirimkan karangan bunga. Dengan berpulangnya tokoh ini
barisan wartawan tiga zaman semakin menipis. Apalagi yang masih
aktif di bidang jurnalistik.
Almarhum semula adalah seorang pendidik. Dia lama menjadi guru
dan kemudian aktif pula dalam pimpinan Taman Siswa, membantu Ki
Hajar Dewantara. Melalui petuah-petuah kebanggaannya pada
murid-murid ini akhirnya membawa dia ke pembuangan Nusa
Kambangan. Baru setelah keluar dari penjara ini ia beralih ke
bidang jurnalistik. Dan karier ini begitu panjang.
Tulisan-tulisannya tersebar terutama dalam susat-surat kabar
Budi Utomo. Dalam masa pendudukan Jepang ia masih rajin menulis,
dan setelah kemerdekaan kerjanya masih menonjol. Terutama pada
masa revolusi di Yogyakarta. Hanya usia terlalu tua yang
terkadang menghentikan dia menulis. Tetapi dalam waktu 5-6 tahun
menjelang akhir hayatnya masih juga dia menyempatkan diri
memburu berita-berita walau untuk itu harus tetap ditempuhnya
dengan berjalan kaki.
Seperti kuda. Inilah yang menarik dari Darmosugito. Apalagi
kalau dilibat wartawan-wartawan dari masa penjajahan akhirnya
banyak meninggalkan bidang jurnalistik. Mungkin karena di anggap
segi dapurnya tak begitu mendukung. Karena seperti yang
diceritakan orang pendapatan wartawan generasi lama memburuk
mulai masa pendudukan Jepang. Di samping itu kehidupan pers
dalam masa kemerdekaan ini pernah mengalami keadaan sangat
suram. Ini konon yang dianggap alasan untuk menilai Darmosugito
sebagai pembawa pantangan yang sangat kontradiktif dengan
hidupnya. la dikabarkan sering mencegah orang-orang yang ingin
jadi wartawan.
Walaupun ini tak berarti bahwa ia menyesali karir yang telah
dipilihnya. Karena mungkin dianggapnya tidak semua orang akan
mampu memikul beban hidup seorang wartawan seperti yang telah
dialaminya. "Bekerja seperti kuda, gaji kecil dan sudah tua tak
dihargai", katanya. Dan orang tak percaya bahwa dia
bersungguh-sungguh melarang angkatan kini memilih hidup sebagai
wartawan. Tetapi mungkin yang ingin diucapkannya adalah perlunya
kaum wartawan mewujudkan kesetia-kawanan mereka. Misalnya
membantu rekan-rekannya yang sudah uzur, seperti lazim dilakukan
kini oleh para artis. Sehingga tidak ada lagi wartawan yang
mencapai umur tua seperti Darmosugito yang hanya hidup dengan
belas kasihan beberapa koran yang pernah dibantunya dulu.
Namun bagaimanapun ia adalah sebuah tonggak yang tinggi pula
dalam kehidupan pers di negeri ini. Apakah dengan kehidupan pers
yang kadang-kadang suram dan kadang-kadang lesu akhir-akhir ini
dapat melahirkan lagi orang seperti Darmosugito, masih akan
dilihat.
|