Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 34/II/28 Oktober - 03 November 1972
   
Daerah

Ngebut dalam kabut

Lalu lintas air di sungai mahakam sering minta korban. banyak kabut tapi pengemudi speed boat banyak yang ngebut. pemerintah turun tangan menertibkan lalu lintas di sungai mahakam.

BANYAK hal yang menyebabkan Mahakam terkenal akan pasut
(lumbalumba), arus deras, kabut, pengemudi speedboat yang ngebut
dan calo-calo. Kecuali yang tersebut pertama tadi semua dianggap
punya hubungan dengan angka korban kecelakaan yang cukup banyak
di bengawan itu. Tahun lalu jumlah korban tercatat 18 orang
tenggelam, termasuk walikota Samarinda Awang Sabran. Tahun ini
konon belum sebanyak itu. Tapi dengan kecelakaan yang terjadi
akhir September yang lalu, agaknya sudah tiba masanya bagi para
pejabat yang berwenang di sana untuk berenung-renung bagaimana
mengurangi korban Mahakam ini. Yang terakhir itu adalah sebuah
speedboat dengan muatan 15 orang dan 300 butir kelapa dari
Samarinda ke Handil II. Di belokan Muara Kembang, 35 km dari
Samarinda, dalam kecepatan 40 mil per jam si pengemudi menabrak
sebuah kapal tinting. Akibatnya boat bersama 4 pemuda tercecer
di dasar sungai. Penumpang lain termasuk 3 bayi selamat bersama
pengemudi. "Kabut menutup pemandangan dalam jarak 2 meter", kata
pengemudi itu kemudian.

SIM. Memang kabut pada saat itu menutup permukaan sungai, namun
orang di Samarinda melihat banyak musabab lainnya. Para pejabat,
misalnya, cenderung menganggap keserakahan pengemudi dan
calo-calo itu sendiri sebagai biang utama kecelakaan itu. Lalu
Dandim Samarinda, Letkol Sudirman, bercerita pula. Sekali dia
datang ke dermaga lengkap dengan mobil dan pakaian dinas.
Tentunya dengan pangkat segala. Tapi belum dia matikan mesin
mobil calo-calo sudah merenggut koper dan membawanya ke kapal.
Tanpa bertanya mau ke mana apalagi minta izin. "Ini sudah
keterlaluan", kata Sudirman. Lalu iapun ingin menertibkan soal
lalu lintas sungai yang kabarnya lebih rumit dari lalulintas di
jalan raya di Jakarta. Kenapa Dandim, bukan instansi lain
seperti Kepolisian, Syahbandar atau Inspeksi Pengangkutan
Sungai. Danau dan Ferry? "Sudah sangat terpaksa". kata Sudirman.

Memang kejar mengejar penumpang dan ritantara
speedboat-speedboat di sana sudah terlalu hebat. Padahal bila
lagi hujan, arus dan kabut merupakan ancaman besar. Tapi
langkah-langkah apakah yang telah diambil untuk menertibkannya
selama ini? Untuk pengemudi speedboat yang celaka bulan lalu itu
oleh Danres Kepolisian setempat perkaranya telah dikirimkan ke
Pengadilan dengan ancaman pasal sekian KUHP kepada pengemudi
yang menyebabkan kematian itu. Tapi usaha lain belum kelihatan.
Syahbandar Samarinda mengatakan pengontrolan hisa dilakukan
dengan sebaik-baiknya. Amat sulit, karena peralatanpun terlalu
sedikit sedang yang akan ditertibkan terlalu banyak. Seperti
kata Kepala PSDF tadi, speedboat di sana umumnya tidak memiliki
perlengkapan dan alat-alat renang. Bahkan pengemudinyapun tidak
mempunyai sertifikat (semacam SIM untuk kendaraan darat).
Berartl lagi penumpang yang diterima melimpah-ruah. Maka baik
Kepala PSDF ini, Panggabean ataupun Syahbandar Maliangkay sudah
lama menganggap pelayaran dari Handil II ke Samarinda tak aman
sama sekali. Perlunya sertifikat tadi rupanya tak begitu
disadari oleh para sopir-sopir di air itu. Menurut catatan hanya
500 dari 4.000 pengemudi yang memilikinya. Padahal, kata seorang
pejabat kantor syahbandar kepada TEMPO, urusan itu, selalu
mudah, walaupun tak segampang mendapatkan kartu penduduk.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data