Es & Listrik Sebagian besar penduduk Kodya Ppematang Siantar belum mendapat
aliran listrik. Pemakai listrik baru terbatas pada orang-orang
tertentu. Mesin pembangkit listrik yang dari Jerman baru
dipakai pabrik es. |
DI Siantar pelita sudah lama terlantar. Sejak lebih dari 3 tahun
dan sampai hari ini penduduk di kawasan kotamadya itu lebih
banyak menggantungkan daya tangkap mata mereka kepada sinar
matahari atau lampu teplok dan patromak bagi mereka yang
terbilang mampu. Ada juga pelita yang bernama listerik tetapi
ini terbatas hanya bagi rumah pejabat-pejabat besar di sana
walaupun hanya beberapa gelintir dan selebihnya hanya mendapat
aliran dua kali atau sekali dalam seminggu. Penduduk biasa,
bernama lengkap apapun tetapi tanpa pangkat, dapat juga
berpelita listerik asal sanggup menyediakan uang peluncur bagi
pejabat-pejabat urusan lampu ini.
Alasan bisa disebut berderet-deret. Contoh terkenal tentulah
karena kurangnya daya bangkit aliran yang ada, sehingga harus
serba berhemat. Alasan lain masih banyak, tetapi
pokok-pangkalnya hanya satu: perlu duit. Tetapi sementara itu
orang-orang kota berpangkat bisa saja menyedot aliran itu
melalui bergumpal-gumpal kabel lewat transformator atau cantolan
langsung, sebab posisi mereka cukup jadi jaminan tak seorang
juru lampu Kotamadya-pun yang berani mengutik. Dan itu belum
cukup. Sejak bioskop-bioskop di kota Pematang Siantar
dikontrakkan kepada para pengusaha Cina, pertunjukan matine
sampai sore hari dan malam cukup banyak menggotong aliran
listerik tanpa cincong maupun protes suatu kejadian yang selalu
dilarang pihak Kotamadya ketika tempat-tempat pertunjukan tadi
masih di tangan pengusaha-pengusaha pribumi.
Hankam. Walikota Laurimba Saragih mengakui sakit-sakitan
penyuluh rumah penduduk kotanya dengan alasan satu juga: aliran
sangat terbatas. Menurut pejabat ini sumber penerang itu
satu-satunya hanya dari pabrik es di kotanya. Tetapi menurut
keterangan lain kota Siantar sesungguhnya dapat terang benderang
setiap waktu kalau pihak Kotamadya mau membayar atau mencicil
hutang-hutangnya yang sudah lama menumpuk pada pihak pabrik es.
Taroklah hutang itu memang belum sempat diangsur namun dua buah
sumber tenaga listerik lainnya yaitu PD Sandang dan PN Kertas
kota itu kabarnya setiap jam bersedia menghubungkan kabel-kabel
mereka kesegala arah yang dikehendaki. Tetapi kedua perusahaan
ini mengajukan satu syarat, yaitu mereka langsung melakukan
pemungutan bayaran kepada para langganan, pihak Kotamadya hanya
diberi bagian pajaknya. Alasan mereka: agar Kotamadya tidak
sampai menumpuk hutang terlalu banyak seperti terhadap pabrik
es. Dan walikota menolak syarat itu tanpa alasan yang jelas,
meskipun DPRD Siantar telah menyetujui. Pihak legislatif daerah
itu juga menyarattkan agar urusan listerik tidak lagi ditangani
salah satu instansi Kotamadya, tetapi diserahkan saja kepada
PLN. Usul ini disampaikan karena ternyalt instansi urusan
listerik Kotamadya setiap bulan menyatakan diri sebagai
"mengalami rugi". Tetapi kehendak DPRD ini juga belum
dilaksanakan Laurimba Saragih.
Konon pihak yang paling banyak menunggak hutang listerik di sana
itu adalah instansi-instansi ABRI, lewat kantor maupun
rumah-rumah. Karena itu suatu ketika, beberapa saat menjelang
pemilu lampau, seorang anggota DPR diutus ke Jakarta sambil
membawa catatan bon pemakaian aliran. Alamat yang dituju adalah
Hankam. beruntunglah, kata beberapa pihak bahwa Hankam bersedia
membayar kontan Rp 9 juta. Tetapi sialnya, uang itu sampai hari
ini tidak pernah disetorkan, entah kemana. Kata mereka yang suka
beriwayat, orang itu bernama Loksa Napitupulu, sekarang tidak
menjadi anggota DPRD lagi meskipun Kotamadya tidak akan
menuntutnya. Sekarang si Loksa dikenal penduduk Pematang Siantar
sebagai pedagang minyak premium.
Cuci mesin. Olah si Loksa hampir bersamaan dengan kisah hampir
tiga tahun silam. Waktu itu walikota menjanjikan, urusan
listerik dikotanya akan segera beres dalam waktu singkat saja.
Sebab, ucap Laurimba, dia sudah memesan sebuah mesin pembangkit
listerik dari Jerman. "Sekarang sudah dalam perjalanan dengan
kapal", tambahny ketika itu. Maka beramai-ramailah berbagai
koran memuat kabar itu, seakan-akan mengelu-elukan seorang
pawang hujan yang telah berhasil mengundang air di musim
kemarau. Tetapi cerita selanjutnya ini pula: sampai hari ini
kapal yang membawa mesin itu tidak pernah sandar di sebuah
pelabuhanpun di dunia ini. Dan tidak pula: dimana tenggelamnya.
Hanya berita terahir yang meniup ke telinga penduduk Siantar
bukan soal pesanan itu, tetapi pengumuman walikota baru-baru
ini: karena pihak pabrik es akan melakukan pencucian pada salah
sebuah mesin listeriknya, maka untuk waktu sebulan lebih aliran
hanya diberikan kepada bagian-bagian yang vital saja.
|