Mengaktifkan Lok Tua Anggota perkumpulan pengagum kereta api Australia, datang ke
Ambarawa. mereka menikmati kereta api tua yang dimiliki PNKA.
melihat hal ini, PNKA optimistis membuka trayek khusus bagi
pariwisata. |
WALAUPUN orang Australia lebih maju dari orang Ambarawa, namun
yang disebut pertama itu masih terheran zeran melihat kereta api
didaerah Jawa tengah itu pertengahan Agustus ini. Padahal
penduduk setempat sudah mengaguminya 70 tahun yang lampau. Tapi
masih untunglah rombongan dari mancanegara ini tidak dianggap
udik karena mereka adalah anggota-anggota dari Association of
Railway Enthusiasts, suatu perkumpulan pengagum kereta api di
negeri kangguru. Dan kekaguman mereka tidak diucapkan dengan
kata makian "trembelane" seperti waktu mudanya kakek dan nenek
di sana dulu melainkan dengan menjepret jepretkan aiat
pemotretnya. Malahalat-alat perekampun dipasang nntuk
mengabadikan suara kleneng-kleneng lonceng dan ngos-ngosannya
hidung lok yang tak parau-paraunya sejak tahun 1902. Kagumlah
mereka melihat bagaimana sang kakek ini menghela-hela gerbongnya
di daerah lereng gunung antara Bedono dan Ambarawa itu. Sambil
sekali-sekali membaca buku petunjuk yang dibekali untuk lebih
mengenal lok-lok di stasion-stasion antara dua kota itu, J.P.
Kerr, insinyur bangunan dari Selandia Baru menggeleng-geleng
juga melihat bagaimana sayangnya sang masinis Jawa merawat,
barang antik ini. Sampai-sampai cerobong yang mengepulkan asap
hitam diseka sampai mengkilap. Rupanya peristiwa ini termasuk
kebahagiaan yang terahir pula bagi turis-turis yang sudah agak
berusia itu.
Apa lagi karena mereka sudah mafhum duduk perkaranya. Biarpun
sudah diusut-usut ceritanya tak seduka "saudara-saudara"nya di
Aceh, kereta Ambarawa ini punya kisah yang unik pula. Jasanyapun
sudah cukup banyak. Terutama dalam mengangkut pembesar-pembesar
Belanda dulu serta serdadu-serdadunya ke Jogya atau kearah lain.
Dan rakyat setempatpun tak sanggup membalas jasa kereta keluaran
Esselingen ini. Rodanya diberi gigi karena menjelajahi lereng
gunung Merbabu dan relnya diberi jalur berlobang untuk ditancapi
gigi tadi. Dengan ini, seperti halnya kereta api di Minangkabau,
tenaganya untuk mendorong dan menghela gerbong bertambah. Namun
disamping segala yang istimewa ini nasib telah mendorongnya
kegarasi. Bukan karena pejabat PNKA menganggapnya telah lojo
tapi alat angkutan lain yang berlari sepanjang jalan raya
sejajar dengan relnya lebih disenangi penduduk. Penumpang dan
barangpun kini naik truk dan mobil-mobil. Dan tamatlah riwayat
besi tua ini. Tinggal hanya trajek Ambarawa-Kedungjati dan dua
buah lagi yang melayani Magelang-Jogya yang masih mundar-mandir.
Yang kemarin jalan di Ambarawa itu adalah berkat datangnya
turis-turis tersebut, Karena mereka ingin menikmati yang aneh
ini lok itupun dikeluarkan dari tempatnya. Kunjungan tersebut
rupanya merobah nasib sang kereta. Karena setelah melihat
gelagat 40 pelancong Australia itu, Kepala Bagian Lalulintas
Inspeksi PNKA Jawa Tengah Sri Wiranto mengatakan kepada TEMPO:
"Ini menimbulkan optimisme untuk PNKA membuat trajek husus bagi
pariwisata". Gagasannya adalah suatu package tour bagi pelancong
yang bertamasya dengan kereta api dari Solo Jogya dan Megelang,
ke Ambarawa melalui Secang dan Gemawang. Dari Ambarawa mereka
dapat, menikmati keindahan alam ditepi Rawa Pening menuju
Tuntang dekat Salatiga. Tour ini dapat dilengkapi dengan
berhenti sehari di Bandungan tempatnya berteduh menghabiskan
masa tua. Ia disewa untuk perjalanan antara stasion Bedono dan
Ambarawa, yang jaraknya hanya 10 kilometer dari Wisma PNKA.
Maksudnya mereka dapat menginap di sana dengan servis lengkap
makan-minum.
|