Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 16/II/24 - 30 Juni 1972
   
Musik

Ep di lp

Eddie peregrina pentas di klub la-paloma, jakarta. setelah di jakarta dia merencanakan ke surabaya dan bandung. di samping menyanyi ia akan meneruskan karier sebagai produser film.

DIAM-DIAM sadja klab La-Paloma dikaki Monas menawan Eddie
Peregrina sedjak 1 Djuni lalu. Tatkala pers mulai mentjium
baunja penjanji tersebut sulah dipak untuk menjanji ke Surabaja
lantas ke Bandung. Sesungguhnja bukan sedikit penggemarnja di
ibukota disaat ini. Bersama sama dengan Peter Mafay dan Victor
Wood ia seakan menjelingi pasaran suara Tom Jones maupun Andy
William diradio radio amatir maupun pita-pita kaset.

Meskipun Eddie menjanjikan djuga lagu-lagu tjepat, letak
keistimewaannja adalah pada lagu-lagu manis jang sentimentil.
Suaranja jang njaris suara wanita memang tjotjok untuk
melanturkan kesedihan tjinta remadja, kebimbangan harapan, dan
sebagainja, mendjadi suatu suguhan jang tjuku menarik dan tjukup
ringan. Memang tak sia-sia ia dinobatkan oleh sebuah madjalah
musik dikandangnja sendiri sebagai kampun tiga tahun
berturut-turut: 1968-69--70. Dan bila ada jang meremehkannja
karena djenis-djenis njanjiannja kebanjakan djenis pasaran
(djulukan "bakiak singer" untuk menjanji lagu demikian) - Eddie
berkata kepada TEMPO: "Saja djuga menjanjikan lagu-lagu tinggi".
Kurang djelas apa jang dimaksu-lnja dengan istilah "level
tinggi". Apa itu lagu-lagu tjepat, atau lagu-lagu
djingkrak-jingrak?

Marijuana. Eddie jang telah menarik urat lehernja untuk 500
singlerecord dan 7 album-record (lima lagu diantaranja
tjiptaannja sendiri) telah membuktikan di La-Paloma sambil
memegang gitarnja bahwa disamping menjanjikan lagu-lagu seperti:
"I do love you", "Don't ever go", jang di bawakan dengan
tenang-tenang sadja, iapun bisa aksi djongkok dan sebagainja
dengan lagu-lagu rock. Dengan rambut sepandjang bahu jang selalu
disisir rapih, pakaian gemerlapan jang sesuai dengan alam klab
malam, iapun tak lupa turun dari panggung untuk bersalaman
dengan para penonton. "Selamat malam Terima-kasih", adalah dua
buah kalimat Indonesia selalu tak lupa diutjapkannja untul
mendapat tempat dihati penonton dan bila ia tjepat-tjepat
menghilang setelah tarik suara untuk "show-time" gelombang
pertama, Leo penggiring atjara La Paloma muntjul memantjing
penonton untuk mengatakan "More, more!". Ia sendiri mengerling
kepada Eddie minta biduan itu menambah lagunja. Disini biduan
itu mendapat kesempatan lagi memamerkan negerinja dengan
menjanji beberapa buah lagu asli sana.

Eddie jang tak sepaham dengan sembojan "free love, free sex"
djuga jang tak suka mengetjap marijuana untuk kedua kalinja,
sudah menjanji sedjak usia 7 tahun. 5 tahun kemudian ia bentuk
grup dan seterusnja menjanji di klab malam. Masa sesudah itu
kepertjajaan mulai membawanja keliling ke Djepang dan Taipei.
Pulang dari pengembaraan ia membuat perusahaan film jang
disebutnja: EDVPER. Lengkapnja Eddie Victory Peregrina. Ini
bukan usaha sok-sokan. Mother's song, Tears in every song,
Memoires of love, Make laugh not war, adalah empat hasil
perusahaar si Eddie ini. Kepada TEMPO ia menjatakan akan
meneruskan kariernja sebagai produser film-film jang berbau
musik disamping ingin menjanji di Eropah dar Amerika.

Tidak ada jang terlalu istimewa dalam pertundjukan Eddie di La
Paloma. Hal-hal jang remeh seperti, bara berpakaian, keramah
tamahan sudah lumrah sebagai persjaratan kalau orang mau di
nikmati dalam suasana kelap-kelip. Gaja Eddie masih belum lebih
hebat dari Emilia Contessa misalnja. Suaranjapun kalau mau
ditakar setjara modal tidak sebagus Broery misalnja. Tetapi mau
di kata apa, Eddie ini mempunjai lagu-lagu jang memenuhi selera,
disamping itu maklumlah dalam alam klab malam memang ada selera
senang akan bau-bau jang datang dari djauh, disamping djuga
bau-bau jang selalu berganti ganti. Sedang kebalikannja, Eddie
jang ternjata gemar kepada Lulu dan Bee Gees inipun mempunjai
komentar kepada Djakarta. "Saja harap seandainja 2 tahun lagi
saja mengundjungi Indonesia, chususnja Djakarta, suasana akan
lebih indah dan lebih madju dari sekarang. Karena sampai
sekarang Singapuralah jang paling saja senangi".


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data