Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 16/II/24 - 30 Juni 1972
   
Daerah

Nelayan Adalah Ikan

Nasib nelayan muncar, banyuwangi, terkatung-katung karena mereka terjerat cukong. mereka diberi kredit namun pelelangan, pemasaran ikan ditentukan para cukong. mereka bagai ikan terjaring cukong.

DI PANTAI-PANTAI Indonesia, djuga dipantai Banjuwangi, para
nelajan tidak kundjung merasa bahwa mereka punja pembela. Bulan
Maret jang lalu komisi B (Pembangunan) DPRD jawa Timur
mengundjungi Muntjar (Banjuwangi) pusat ikan ke--2 sesudah
Bagansiapiapi. Mereka kesana bukan hanja sekedar menindjau tapi
djuga untuk mempelajari kemungkinan pembelian kapal currier 30
PK. ice mixing Unit kapasitas 2000ton (per hari) cool box,
canning, perawatan ikan all-in dan banjak rentjana muluk
lainnja. Semuanja masih dalam bahasa Inggeris. Muntjar memang
termasjur tapi ada satu hal jang tidak kurang pentingnja: bahwa
nelajan-nelajan disana tidak berbahagia, sedang
koperasi-koperasi nelajan jang djumlahnja hampir sekodi itu
bukan sadja gawat malah bertungsi sebagai tjukong makelar.

Bagaimana tjaranja? Konon bermula pada bantuan management jang
diberikan oleh Dinas Perikanan Laut (DPL) kepada
koperasi-koperasi: San Samodra. Sumber Redjeki, Permata, Ngupojo
Mino Misojo Sari dan 13 lainnja jang bernama mentereng.
Sementara itu para makelar datang pula menawarkan bantuan. Ini
bukan sadja menggontjangkan iman pengurus koperasi, tapi
sekaligus mentjemplungkan realisasi kredit pelelangan,
pemasaran. penimbangan dan pengasinan ikan ketangan makelar.
Sesudah ini tidak ada pilihan lain bagi nelajan. Bagaikan ikan,
mereka telah terdjaring. Pengurus koperasi hanja menjaksikan
bagaimana ikan jang terdjaring itu pun tidak bisa menggelepar
lagi. Dalam pada itu, bantuan lain berupa alat-alat kebutuhan
nelajan djuga tidak bisa di dapatkan dengan mudah. Prosedur jang
berbelit tidak dapat menahan para nelajan untuk bertahan lebih
lama didaratan. Dengan perlengkapan tradisionil mereka menjerbu
laut Selatan dan seperti pasukan jang tidak bersendjata mereka
berhadapan dengan nelajan-nelajan Djepang jang bagaikan siluman
begitu tjepat mengeduk ikan.

Pengandon. Kondisi jang paling djelek mengiring nelajan untuk
memilih djalan sendiri. Dengan risiko sendiri, idjon. Mereka
djadi buruh nelajan dan bisa di temukan hampir disemua tempat:
Muntjar, Geradjagan Banjuwangi, Pinggi Papas Sumenep, Blimbing
Lamongan, Paiton Probolinggo, Trenggalck dan djuga di Puger
Djember. Dikawasan itu mereka dikenal dengan nama " pengadon"
jaitu nelajan jang mentjari ikan dengan perahu oang lain. Perahu
disewa dengan 3 bagian (bahu) dari penghasilan sinelajan. Bila
djuragan perahu atau keluargana ikut bersama maka sewa bertambah
djadi 4 bahu. Achirnja hasil perdjuangan nelajan dilaut semalam
suntuk tidak lebih dari 2 kg ikan ataupun pendjualannja harus ke
Juk Sing kata Sukri, 40 tahun, dengan polosnja Dan Tjina
djuragan pengasinan itu membajar Sukri Rp 200 terhitung
persenan. "Kami punja banjak hutang", ia menambahkan tanpa
ditanja.

Banjak teman senasib Sukri djuga berhutang kepada "pengambek"
(bahasa Madura artinja: pendjemput). Tokoh tokoh pengambek
banjak berkumpul di Muntjar. Kerdja mereka sangat praktis:
menampung pengandon jang datang dari rantau, menjediakan
penginapan, makanan dan uang bagi mereka. Dengan sjarat:
pengandon harus membajarkan 10% dari penghasilannja kepada
pengambek. Maka djadilan pengambek sebagai penguasa produksi
ikan laut di Djawa Timur. Tapi diatas mereka masih ada makelar
atau jang dikenal djuga sebagai penguasa pemasaran. Merekalah
jang menentukan harga ikan dan setjara tidak langsung menentukan
nasib nelajan. "Makelar disamping mempermainkan harga djuga
mentjuri timbangan", berkata Husni Suwarto kepala DPL wilajah
Timur. Akibatnja "para nelajan pengandon jang sesungguhnja
adalah produsen ikan ditjekik oleh uang ambekan".

Djepang. Tidak sjak lagi perbaikan nasib nelajan belum tjukup
hanja dengan bagi-bagi djaring nylon tali senar, waring, twine,
lampu gas, grev slirting, pelamiung. nlonltilament dan lain se
baginja seperti jang pernah dilakukan pemerintah daerah Djawa
Timur lewat ONS (Organisasi Nelajan Sedjenis). Soalnja bukan
hanja dilautan, tapi djuga bagaimana mengatur pemasaran
didaratan. Sementara itu. pihak-pihak jang memang bertudjuan
memperbaiki nasib nelajan (tidak usah dari koperasi) agaknja
perlu buka mata terhadap keserakahan nelajan Djepang diperairan
Indonesia jang konon pula bermain bintang dengan
pengusaha-pengusaha Indonesia di daratan. Dan adanja industri
pengalengan tidak banjak berpengaruh pada penghasilan nelajan.
Sekarang ada 5 usaha pengalingarl di Djawa Timur, jang terbesar
adalah PT Blambangan Raya berpusat di Muntjar. Oeloeng, kepala
bagian produksi dari perusahaan itu langsung melemparkan umpatan
kearah makelar jang menentukan harga ikan dipasaran "Meskipun
kami sudah berusaha mentjegat nelajan ditengah lautan", begitu
menurut Oeloeng, "tapi tanpa hasi". Agaknja nelajan lebih takut
kepada pengambek dan makelar daripada partner baru jang belum
ketahuan gelagatnja. Bukan sadja Oeloeng menjesalkan permainan
harga jang tempo-tempo bisa Rp 10 per kg, bisa djuga Rp 70 per
kg, tapi kwantitas ikan tidak memenuhi keperluan Blambangan
Raya. Perusahaan itu jang memproduksi Pronas, Novo Brand, Sun
Flower & My Flower kadang-kadang tidak berhasil mengumpulkan 4
ton ikan per hari sedangkan kapasitas mesinnja bisa mengerdjakan
40 ton ikan sehari. Ketika ditanjakan mengapa perusahaannja
tidak mengadakan kontrak sadja dengan koperasi jang ada. Oeloeng
segera mendjawab "tidak mungkin".

Dalam pada itu terdjadilah kemerosotan produksi ikan laut. Dari
tahun 1969 sampai 1971 produksi ikan menurun dari 52.821.093 ton
mendjadi sekitar 44.000.000 tom Kemerosotan ini bukan sadja
merepotkan Blambangan Raya dan perusahaan sedjenis lainnja, tapi
lebih-lebih mengantjam usaha pengolahan tradisionil seperti
pembuatan ikan asin, pada dan sebagainja. Memang sebab-musabab
bisa sadja dikembalikan pada menghebatnja gelombang
ditahun-tahun belakangan, namun kecilnja pendapatan nelajan
tidak bisa dikesampingkan, Menurut survey DPL pendapatan nelajan
perdjiwa hanja Rp 36,22. Begitu ketjil hingga bukan tidak
mustahil para nelajan enggan menggadaikan njawa mereka untuk
menangkap djenis-djenis ikan jang sulit seperti ikan lajang dan
lemuru. Sebaliknja ikan seperti teri, tongkol, tenggiri, gembung
dan tjumi-tjumi mentjatat kenaikan produksi jang mantap. Sebab
ikan-ikan itu mudah ditangkap. Seperti para nelajan itu sendiri:
mudah didjerat.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Geliat Bisnis Islami - 07 Sep 2008 | 15:06 WIB
Pemerintah Surabaya Jamin Pasokan Makanan Aman - 07 Sep 2008 | 15:05 WIB
Mozaik Kisah Perjalanan Gaghana - 07 Sep 2008 | 14:46 WIB
Jazz, Enak dan Nyaman buat Ngebut - 07 Sep 2008 | 14:37 WIB
'Selamatkan Dunia, Kurangi Makan Daging'   - 07 Sep 2008 | 14:33 WIB
Berlabuh di Kahyangan, Mencicipi Wisata Sumbawa - 07 Sep 2008 | 14:18 WIB
Wayne Rooney Kecanduan PlayStation - 07 Sep 2008 | 14:05 WIB
Setio Rahardjo Meninggal Dunia - 07 Sep 2008 | 14:01 WIB
Menu Istimewa Eros Djarot - 07 Sep 2008 | 13:45 WIB
Jangan Gula Sembarang Gula - 07 Sep 2008 | 13:34 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data