Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 15/II/17 - 23 Juni 1972
   
Nasional

Setelah Tamu Pergi

Setelah kunjungan PM Australia William Mcmahon ke Indonesia dicapai kesepakatan diplomatik. australia memberi tambahan bantuan ekonomi, soal perbatasan laut kontinental, hubungan dengan PNG.

TANPA Sonya Mc Mahon jang tjantik, kundjungan PM Australia
William Mc Mahon ke Indonesia tidak terlalu berwarna-warni.
Apalagi hubungan Indonesia-Australia dalam keadaan balk sekali,
terutama sedjak kundjungan Presiden Soeharto dan Wapangab Djend.
Panggabean kenegeri tetangga itu beberapa waktu jang lalu. Maka
waktu sang Perdana Menteri datang memang tak banjak diperkirakan
akan adanja soal-soal mendesak untuk dibitjarakan antara kedua
negara. Meskipun demikian, seperti ternjata dari pernjataan
bersama jang diumumkan Kamis lalu beberapa djang sebelum McMahon
meninggalkan indonesia menudju Singapura, ada hal-hal kongkrit
jang ditjapai - disamping basa-basi diplomatik. Antar lain:

Pemerintah Australia memutuskan memberi tambahan bantuan ekonomi
kepada Indonesia sebesar A$ 69 djuta, berupa grant seperti
biasanja bantuan Australia selama ini, berlaku selama tiga tahun
segera setelah pelaksanaan bantu an jang sekarang sedang
berdjalan berachir bulan Djuni 1973. Bantuan jang Sedang
berdjalan adalah A $ 5,85 djuta untuk tahun 1970-1973. Disamping
itu, ada bantuan untuk kerdjasama teknik dan pertahanan,
sebanjak A $ 20 djuta, mulai berlaku 1 Djuli 1972. "Bantuan ini
akan dipakai antara lain untuk pembelian onderdil alat-alat
militer" kata McMahon dalam konferensi persnja Kamis siang di
Wisma Negara. Tapi perintjiannja akan masih didiskusikan. Dengan
demikian ketjemasan bahwa setelah Indonesia menerima
pesawat-pesawat Sabre maka hams ada tambahan anggaran sendiri
untuk onderdil, nampaknja tidak betul. Kemungkinan adanja pakta
pertahanan bersama sementara itu ditolak.

Australia dan Indonesia sepakat akan saling memberikan sokongan
pada tjalon-tjalon mereka masing-masing dalam Dewan Keamanan
PBB. Dalam menghadapi RRT jang kini menggantikan Taiwan dalam
Dewan Keamanan, nampaknja kesepakatan ini diperlukan.

Persoalan perbatasan, terutama batas laut kontinental, masih
diperlukan pembitjaraan landjutan. Kepada pers Mc Mahon
mendjelaskan, achir Agustus manti akan diadakan pembitjaraan
resmi antara pedjabat kedua negeri, dan bulan September
pembitjaraan antara para ahli soal-soal teknis dari
masing-masing fihak. Beberapa waktu jang lalu memang ada keluhan
dari fihak Indonesia, karena seolah-olah Australia menjatakan
klaim atas daerah lepas pantai 350 mil, hingga daerah Indonesia
dilepas pantai Timor tjuma kebagian 50 mil. Disini menjangkut
soal eksplorasi minjak. Bagi Indonesia perbatasan harus terletak
ditengah-tengah antara pantai kedua negara. McMahon sendiri
menolak berbitjara lebih landjut mengenai soal ini kepada pers.
Mengenai perbatasan Irian Barat dengan Papua New Guinea, soalnja
tinggal menunggu penjelesaian selandjutnja.

Perdana Menteri McMahon menjambut baik pandangan Presiden
Soharto, bahwa pengertian serta hubungan Jang mesra harus
dikembangkan antara Indonesia dengan Papua New Guinea alias
Irian Timur. Perkara ini mendjadi penting, karena bagian pulau
tersebut sedang menudju kearah kemerdekaan dan pemerintahan
sendiri. Soalnja sampai seberap djauh Australia kelak masih bisa
menentukan sikap Irian Timur menghadapi Indonesia dengan Irian
Baratnja? Pembantu TEMPO di Irian Barat, lbnu Sabil dari
Djajapura menjebut "Perasaan kurang sedap orang-orang Indonesia
Membatja berita-berita dalam koran Papua New Guinea Post Courier
jang terbit di Port Morsby. "Koran ini tak pernah memberikan
sedikitpun lobang kepada penduduk setempat untuk melihat Indo
nesia dengan baik", demikian komentar seorang pedjabat di
Djajapura. Sampai Pebruari 1971 sang koran masih memberitakan
"ke takutan akan kemungkinan serangan Indonesia", dan terachir
mengutip sumber di Negeri Belanda tentang desas-desus didjualnja
Irian Barat kepad Djepang. Tentang jang terachir ini sudah tentu
Courier tidak salah, sebab tjuma mengutip berita jang belum
pasti. Pemerintah Australia djuga tidak bisa diharapkan untuk
memberangusnja. Meskipun begitu, saling pengertianl antara
Indonesia-Australia memang banjak gunanja. Lebih berguna lagi
bila ditjiptakan saling-pengertian antara Indonesia dengan
pemerintah Irian Timur jang bakal datang. Dan ini tidak lebih
mudah.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data