Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 09/II/06 - 12 Mei 1972
   
Kota

Menyelamatkan Jackpot

Jackpot di banjarmasin makin merajalela. hal ini membuat dm univ. lambung mangkurat melancarkan protes namun tidak digubris. berdirinya yayasan dana pembangunan kotamadya banjarmasin dianggap unik.

BIDANG usaha jackpot di Bandjarmasin achir-achir ini
menundjukkan perkembangan jang mengagumkan. Sedjak peresmiannja
bulan Oktober tahun lalu (TEMPO, 16 Oktober 1971 ) sampai kini
sudah ada 156 buah jackpot terserak di 11 tempat dalam wilajah
ibukota Kalimantan Selatan. Djumlah jackpot bertambah terus
agaknja karena gairah petjandu djudi kelihatan tidak
kering-keringnja. Demikianlah, untuk menampung gairah itu sebuah
tok buku dengan suka rela berganti rupa mendjadi arena jackpot
dengan nama baru: Place Pigalle. Biaja perombakan tidak lebih
dari Rp 22 djuta. Sesudah ini dikabarkan akan berdiri sebuah
pusat jackpot lainnja jang konon direntjanakan lebih mewah dari
Place Pigalle. Bagaimana semua itu mungkin terdjadi padahal
belum sampai setahun jang lalu seluruh koran di Bandjarmasin
beramai-ramai memprotes kehadiran jackpot? Begitu pula Dewan
Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat jang katakanlah
merupakan sanggar tjalon-tjalon intelektuil daerah itu telah
tidak ketinggalan mengeluarkan pendapat. Sikap mereka: menolak
jackpot! Dan polisi Bandjarmasin jang pada mulanja ragu-ragu
kemudian memutuskan bahwa mesin bertangan satu tersebut adalah
sarana perdjudian karena itu perlu diamankan.

Unik. Apa jang terdjadi kemudian sungguh diluar dugaan. Sebulan
sesudah jackpot diperkenalkan di Bandjarmasin boleh dikatakan
hampir semua koran tidak menghiraukannja lagi (TEMPO 27 Nopember
1971). Polisi tidak mengambil tindakan apa-apa terhadap niteclub
Sans Souci dan Barito jang menampung jackpot sesudah dikeluarkan
dari sarangnja jang pertama ditoko Mataram. Dan belum lama ini
Dewan Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat penting rupanja
setiap kali tidak mau ketinggalan memperdengarkan pendapatnja
telah mengeluarkan pernjataan dukungan kepada Walikota Riduan
Iman beserta segala kebidjaksanaan pedjabat ini. Termasuk
kebidjaksanaan dibidang jackpot jang dulu habis-habisan mereka
tentang. Dukung mendukung ini kemudian diperkuat dengan
berdirinja sebuah Jajasan dibawah nama jang tjukup mejakinkan:
Jajasan Dana Pembangunan Kotamadya Bandjarmasin (JDPKB). Riduan
Iman bertindak sebagai Ketua Umum Jajasan, tapi jang dianggap
unik oleh banjak orang adalah kenjataan bahwa beberapa wartawan
tertjatat namanja sebagai Pengurus Jajasan tersebut. Dimulai
dengan djabatan Ketua I berada ditangan seorang wartawan senior
Sjar'i Musjaffa SH jang djuga adalah Pemimpin Umum Harian
Indonesia perdjuang, Ketua Umum PWI tjabang Bandjarmasin dan
anggota Dewan Kehormatan Pers. Dalam daftar anggota pengurus
Jajasan tertjatat djuga nama-nama wartawan Anang Adenansi dan HJ
Djok Mentaya, pemimpin umum Bandjarmasin Post. Dari nama-nama
ini kelihatan bahwa Riduan Iman merasa senang kalau
pentolan-pentolan wartawan berada terus disekelilingnja.

Sinterklas. Sajang hal ini tidak berlangsung lama. Bermula pada
kebidjaksanaan Jajasan jang dalam sikapnja keluar bertingkah
seperti Sinterklas. Roestam E. Nadelsjah dalam laporannja
menjebutkan bahwa uang jang dikumpulkan Jajasan dari jackpot
sampai 22 Pebruari 1972 berdjundah Rp 17.569.922,67. Uang itu
disimpan pada Bank Bumi Daya Bandjarmasin. Dari. djumlah
tersebut jang telah dikeluarkan sebagai sumbangan untuk
rehabilitasi djalan pembangunan sekolah dan landjutan pembinaan
Projek Inpres jang tertunda, ada sebanjak Rp 7.972.200. Sampai
sini semuanja beres, hingga Jajasan memutuskan untuk menjumbang
lapangan Golf sebesar Rp 750.000. Disamping itu masih ada lagi
apa jang disebut Sumbangan Pengamanan Politik (SPP). Masjarakat
geger kembali. Terutama sumbangan untuk lapangan golf telah
membangkitkan amarah rakjat. Menghadapi ini Humas Pemerintah
Kodya Bandjarmasin terpaksa mengeluarkan release jang menjatakan
bahwa bantuan jang dilimpahkan Walikota untuk lapangan golf
bukanlah bersifat ABS tapi benar-benar untuk kepentingan umum.
Pernjataan ini benar-benar sebuah lelutjon jang mendjadi amat
terasa lutju karena Humas itu menambahkan pula bahwa dalam
permainan golf bisa djuga tertjipta idee-idee untuk pembangunan.
Sangat disajangkan Humas itu tidak menampilkan satupun bukti
untuk teorinja itu.

Masih dalam rangka lapangan golf, Harian Media Masjarakat dalam
salah-satu editorialnja telah menilai bahwa alasan walikota
terlalu naif dan ditjari-tjari. Editorial itu mengatakan bahwa
jang benar djustru karena oknum-oknum jang berdiri dibalik
permainan golf terdiri dari, orang-orang VIP jang banjak
andilnja dalam membantu mengukuhkan idee dana inkonvensionil.
Dalam pada itu harian Indonesia Berdjuang jang dipimpin oleh
Sjar'i Musjaffa SH telah mernberi dukungan penuh terhadap
kebidjaksanaan lapangan golf dengan argumentasi sederhana: golf
tidak semata-mata dimaksudkan untuk relax, tapi djuga merupakan
olahraga business, politics & diplomacy karena itu harian itu
setjara pribadi berterimakasih kepada Bapak Pangkowilhan
III/Kalimantan jang kebetulan adalah djuga pemrakarsa lapangan,
dan djuga kepada Walikota Riduan Iman jang berkat bantuannja
telah menentukan perkembangan olahraga di Bandjarmasin. Serentak
dengan meletusnja heboh lapangan golf, Anang Adenansi, itu
wartawan jang djadi anggota pengurus Jajasan menjatakan
mengundurkan diri sedang Djok Mentaya sebulan sebelumnja sudah
mentjopot keanggotaannja. Sampai kini wartawan jang bertahan
djadi anggota Jajasan tinggal 3 orang, 2 diantaranja pemimpin
umum Harian Utama dan Redaktur harian Media Masjarakat.

Akan hal jackpot sebegitu djauh tetap selamat sedjahtera. Riduan
Iman walikota dari Golkar itu djuga tidak tergontjang
kedudukannja. Bahkan Media Masjarakat menjatakan bahwa tanpa
dukung-dukungan rentjana walikota toh berdjalan terus. Dan
rupanja kegiatan mentjari dukungan itu telah membuat suasana
mendjadi lebih padat. Seperti apa jang disebut SPP, ternjata
tidak lain daripada sematjam service untuk pedjabat tertentu
sipil ataupun militer. Konon tidak kurang dari Rp 1,5 djuta uang
jang telah dikeluarkan dari kas Jajasan sebagai imbalan bagi
dukungan. Didalamnja termasuk pula service serupa fasilitas
seperti ticket kapal terbang Bandjarmasin Djakarta p.p., hadiah
pelumas dan lain sebagainja. Orang djadi bertanja-tanja apakah
itu perlu? Mengapa Riduan Iman harus katakanlah memberi upeti
kepada para penguasa, dan bukan pengusaha jackpot jang
melaksanakan tugas antar upeti itu? Mungkin Riduan Iman sekali
waktu akan sempat mendjawab pertanjaan ini.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data