62 Bukan 9 Laporan Menteri Perdagangan dalam sidang Dewan Stabilisasi
Ekonomi uartal i. ekspor secara keseluruhan merosot, tapi
selama tahun 1971 penerimaan devisa meningkat. Laju inflasi
meningkat 4,07%. |
SIDANG Dewan Stabilisasi 4 April lalu merupakan sidang pertama
sedjak berachirnja kwartal pertama tahun ini. Dan angka-angka
jang dilaporkan Menteri Perdagangan Sumitro dengan sendirinja
mengambil fokus tentang hasil jang ditjapai selama kwartal
pertama tersebut. Kalau angka neratja perdagangan jang
dilaporkan Sumitro itu benar, maka banjak jang mesti didjawab:
mengapa dibanding dengan kwartal pertama tahun 1971, kwartal
pertama tahun ini Indonesia kehilangan devisa sebanjak US$ 16
djuta. Benar, kemerosotan ini berasal dari menurunnja devisa
ekspor tanpa minjak sebesar US$ 11 djuta plus devisa dari ekspor
minjak sebanjak US$ 5 djuta. Ekspor setjara keseluruhan merosot
dari US$ 306 djuta selama kwartal I tahun lalu mendjadi US$ 290
djuta dalam kwartal pertama tahun ini. Dan kalau dibandingkan
dengan tahun 1971, dimana ekpor pada periode jang sama naik
dengan 18 djuta US$ dari tahun 1970, maka kemerosotan ekspor
kwartal pertama tahun ini, memang agak diluar dugaan.
Defisit. Merosotnja penerimaan devisa dari ekspor minjak masih
harus diketahui sebabnja. Tapi tak sulit untuk mentjari sebab
merosotnja penerimaan devisa ekspor hasil-hasil tradisionil.
Ketjuali harga timah jang naik dengan 0,6% dibandingkan harga
rata-rata tahun jang lalu, maka hampir semua harga bahan ekspor
tradisionil Indonesia "andjlok" di pasaran internasional. Harga
karet turun dengan rata-rata 5% dibandingkan harga rata-rata
tahun 1971. Ini seharusnja bisa lebih besar lagi seandainja
stockpile karet jang dilempar GSA sesuai dengan rentjana semula.
Untungnja, selama tahun 1972 ini, GSA hanja melempar 4000 ton
sebulan dan tidak 6000 ton.
Harga kopi dan lada djuga merosot masing-masing dengan 2,6% dan
0,6%. Namun agaknja tidak ada jang lebih parah dari kopra dan
minjak sawit. Harga kopra telah merosot dari 185,52 US $
mendjadi US $ 143,32 per long ton, suatu kemerosotan sebesar
23%. Dan harga minjak sawit merosot dengan 26% hingga hanja
mendjadi US $ 198 per long ton.
Namun sesudah angka-angka tahun 1971 semuanja masuk, maka
dapatlah dikatakan devisa hasil ekspor tahun 1971 masih bisa
bertahan. Sekurang-kurangnja tidak kalah bila dibandingkan
dengan tahun sebelumnja. Ekspor 1971 menghasilkan devisa
seluruhnja sebanjak US $ 1304 djuta, satu kenaikan sebesar US $
117 djuta dari penghasilan tahun sebelumnja. Dilain fihak
penggunaan devisa dari Bursa Valuta Asing untuk impor hanja
menundjukkan angka US $ 373 djuta, satu penurunan sebesar US $
213 djuta dibandingkan tahun sebelumnja. Ini berarti bahwa
selama tahun 1971 neratja perdagangan Indonesia mengalami
surplus. Dan melihat kemampuan ekspor jang makin berkembang,
maka nampaknja defisit dalam neratja perdagangan merupakan
sesuatu jang lampau. Dengan demikian devisa jang tersedia makin
lebih banjak jang dapat digunakan untuk mengimpor bahan baku dan
barang modal, dan makin kurang jang bersifat konsumtif. Impor
bahan baku dan barang modal meningkat dari 64% tahun 1970
mendjadi 72% tahun 1971, sedangkan pada periode jang sama impor
barang konsumsi menurun dari 30 mendjadi 25%, dan persentase
impor barang konsumsi ini dapat dipastikan akan makin turun
dengan makin dipenuhinja kebutuhan barang konsumsi oleh produksi
didalam negeri.
Terasa kentjang. Demikian pula perkembangan indeks harga hanja
terasa sebagai angin lalu. Sekalipun kadan terasa kentjang
ketika baru-baru ini digontjangkan oleh kenaikan harga garam dan
gula. Ladju inflasi berdasarkan indeks harga 9 bahan pokok dan
62 barang kebutuhan hanja merangkak dengan 4,07% dari awal tahun
1971. Tahun jang lalu angkanja 5,78%. Namun agaknja pemerintah
harus berhati-hati dengan penggunaan angka indeks 9 bahan pokok,
karena sering tidak sedjadjar dengan perkembangan angka indeks
62 bahan kebutuhan. Sampai Nopember 1971 jang lalu misalnja,
ladju inflasi dari 9 bahan pokok menundjukkan penurunan sebesar
4,5%. Tapi indeks 62 barang kebutuhan djustru naik dengan 3,4%.
Memang barang seperti tekstil halus, daging dan telor masih
digolongkan 62 barang, kebutuhan. Namun kalau konsumen Indonesia
mulai bergeser kepada barang-barang sematjam ini, karena
pendapatan jang naik, apa jang ditundjukkan oleh angka indeks 62
barang kebutuhan hisa lebih berarti daripada apa jang tertera
pada indeks 9 bahan pokok. Maka dengan sendirinja pemerintah
tidak bisa tenang sadja djika indeks 9 bahan pokok tetap tenang.
|