Samosir Dari Pesisir P. Samosir berada di Danau Toba, di sana terdapat kota
pangurupan ibukota Kecamatan Pangurupan. merupakan obyek
pariwisata, terdapat kuburan tua, demonstrasi merajut ulos dan
permainan sigale-gale. |
ALKISAH pada zaman dahulu pulau Samosir mendjadi satu dengan
Sumatera. Oleh Belanda kemudian daratan penjatu itu
diterobos-sehingga pulau jang luasnja 40 x 60 km itu terpisahkan
oleh sebuah terusan selebar ¤ 8 meter dengan pandjang sekitar 100
meter. Sedjak saat itu sahlah Samosir mendjadi pulau jang
"berdiri sendiri", di "laut" Danau Toba.
Terusan jang terletak dibarat laut perairan Danau Toba itu kini
bukan main dangkalnja. Tanda-tanda untuk mangeruk nampaknja
belum ada -- dan konon itu sudah berlangsung lama--ketjuali
sebuah kapal keruk ketjil terdampar disitu dalam keadaan rusak.
Tapi itu tak beralti lalulintas air mendjadi matjet. Dengan
mematikan mesinnja, kapal-kapal ketjil--atau disana dikatakan
kapal-dapat lalu diselat jang dangkal itu. Hampir tiap hari ada
kapal menudju Tiga Ratus terutama bila ditempat dekat Pematang
Siantar itu #dang berlangsung hari pasar. Djuga kapal menudju
Parapat jang terletak hampir didaerah barat daja Danau. Djuga
tiap hari kapal menudju kampung-kampung sepandjang pulau Samosir
sampai-sampai keseberang didaerah Tapanuli Utara/kota-kota
Bakkara, tempat Sisingamangaradja, Muara bahkan Balige.
Lalulintas air jang boleh dibilang ramai ini tentu tak
mengherankan bila diingat bahwa diterusan ini terletak Kota
Pangururan--ibukota Ketjamatan Pangururan, Kabupaten Tapanuli
Utara --jang merupakan kota terbesar dipulau berpenduduk 100.000
itu disamping Ibukota Ketjamatan lainnja.
Sebagai pulau, Samosir menjediakan dirinja mendjadi objek
pariwisata. Dikampung Tomok -- « djam dengan speedboat dari
Parapat--ada kuburan jang tuanja konon sudah 380 tahun. Bagi
setiap pelantjong jang datang sudah tersedia kisah begini:
Adalah radja jang merupakan nenek mojang dari marga Sidabutar.
Pada suatu hari ia mentjanangkan pertunangannja dengan seorang
gadis--dan rakjatpun sudah diberi mafhum. Tapi diluar dugaan,
sigadis ingkar akan djandjinja. Maka tak urung: radjapun naik
murka dan segera menghukum sigadis. Hukuman bukan berupa
radjaman, tapi dengan mengguna gunainja sehingga mendjadi tidak
waras fikiran. Pada bagian depan kuburan jang sudah berlumut itu
tertjogok patung sang radja sedang pada ekor kaburan ada patung
patjar nan ingkar. Bagi anak tjutju, inilah makna tjarita:
djangan mengehianati djandji.
Ada djuga pribumi jang disamping ingin mentjapai hasilnja, djuga
setjara demonstratif menundjukkan kebolehan meradjut ulos. Pada
bagian lain dari kampung itu bisa dipertontonkan permainan
sigale-gale.
|