Manfaat Keluarga Berencana KB memang sedang digalakkan untuk membatasi ledakan penduduk.
Banyak reaksi timbul dari masyarakat. KB buat para suami
sedang dirintis. Masalah abortus tetap diperdebatkan. |
KETIKA Toeti Kakiailatu ditahun 1968, atas undangan IPPF untuk
Asia Tenggara dan Pasilk, ikut Kursus Keluarga Berentjana selama
tiga minggu di Singapura, ia mengalami bagaimana rasanja djadi
pekerdja sosial KB: dalam kundjungan dari rumah kerumah ia tak
djarang mendapatkan perlakuan kasar. Ia diusir, didorong
kepintu, atau disuruh keluar kemudian pintu dikuntji atau
dihempaskan tertutup dengan keras.
Maka agak lega ia melihat bahwa di Indonesia selama ini hal
sematjam itu, sepandjang pengetahuannja, belum pernah terdjadi.
Kalau ada pengumpulan massa di pedesaan, orang akan datang untuk
melihat "pertundjukan baru" tentang penerangan KB. Itu tidak
berarti tugas KB lebih ringan disini tinimbang di Singapura.
Djumlah penduduk disini banjak benar, dan ahli-ahli demografi
maupun ahli-ahli lain meramalkan keadaan suram bila hal itu tak
diatasi dengan KB. Sementara itu tantangan bukan sedikit. Harun
Musawa jang pernah berkeliling Djawa Barat untuk melihat projek
KB di daerah itu, mentjatat misalnja reaksi jang belum tentu
salah dari seorang pastur di Rangkasbitung. Pater Vermeulen itu
misalnja berkata: "Propagandis KB sering over-acting Geredja
hanja memperbolehkan pantang berkala dan soal keluarga
berentjana adalah soal intern". Di Madura para ulama menolak
kalau alasan KB ialah alasan banjaknja anak--mereka hanja
menerima bila alasan KB adalah soal kesehatan. Kaum ibu banjak
djuga jang menolak, karena sang suami djuga menolak. Agaknja
didalam masjarakat seperti kita, dimana fihak suami masih
menentukan "ja" atau "tidak" soal-soal kesedjahteraan keluarga,
penggarapan para suami perlu diintensifkan. Tidak mengherankan
bila Presiden Soeharto sendiri pernah di Palembang beberapa
waktu jang lalu berbitjara tentang kemungkinan "KB" buat para
suami - misalnja pemandulan sukarela. Gagasan ini, sudah
dilaksanakan di India, disini belum setjara resmi dikampanjekan.
Memang, djika KB untuk kaum ibu sadja sudah mengalami tantangan,
meskipun tantangan itu tidak melembaga, apalagi ide pemandulan
seperti di India! Tapi harus diakui, dan Presiden Soeharto sudah
melihat kemasa-depan dengan tepat, bahwa gagasan baru seperti
itu bukan suatu hal jang tabu untuk dipersoalkan, kalau
Indonesia mau selamat dengan djumlah penduduknja. Bagaimana
dengan gagasan legalisasi pengguguran kandungan? Agaknja kitapun
perlu melihat kemungkinan-kemungkinannja, setidak-tidaknja
berani berfikir kearah itu, dengan menindjau pelbagai
konsekwensinja. Itulah sebabnja laporan utama kali ini menjintuh
persoalan abortus, sekadar menarik perhatian masjarakat akan
masalah ini pada dewasa ini--sebelum kita kaget djika ternjata
nanti seluruh dunia, saking mendesaknja soal penduduk, tiba-tiba
serentak menganggap soal abortus sebagai soal jang wadjar, tanpa
tak melupakan segi-segi negatifnja.
Sebab, seperti jang baru-baru ini dikemukakan oleh Menteri
Mashuri, suatu team ahli dari lembaga ilmu-pengetahuan terkemuka
di AS, jakni MIT, telah meramalkan dengan
perhitungan-perhitungan ilmiah, suatu "projeksi malapetaka"
dunia. Sebabnja adalah kelebihan penduduk, berkurangnja sumber
kehidupan, pengotoran lingkungan dan lain-lain. Beranikah kita
menghadapi masa depan dengan melihat kenjataan-kenjataan kini
jang keras, pahit dan penuh tantangan?
|