Dicari: Air Meskipun sudah ada waduk sungai pulai, penduduk P. Bintan
masih kekurangan air. Pipa-pipa air bersih hanya mencapai
orang-orang berduit. Pusat air ledeng untuk umum atau mesin
pompa sangat diperlukan. |
SJAHDAN, hata para tjerdik-pintar, dalam beberapa puluh tahun
lagi persediaan air minum diatas bumi ini akan habis. Tetapi
Pulau Bintan sekarang belum mendjadi gurun pasir. Sebab disini
masih terdapat waduk sungai Pulau jang diresmikan Presiden
Suharto tahun lalu. Ini pula: bauksit masih bisa digali disana.
Meskipun begitu kegelisahan 35.000 penduduk kota Tandjung
Pinang, Riau dan sekitarnja dipulau itu sudah tidak ubahnja
sebagai jang selalu menjetani orang-orang digurun sahara.
Kelakuan merekapun telah saling menjerupai, untuk memanfaatkan
segala sumber jang dapat meneteskan air. Tetapi ledeng jang
menjedot air dari waduk tadi? Tentu sadja alirannja hanja akan
menjembur kesetiap rumah dari penghuni-penghuni jang tidak
kurang derasnja pula memberikan bajaran kekantor Bupati. Artinja
pipa-pipa air bersih itu hanja mampu mentjapai orang-orang
berduit, pedjabat-pedjabat tinggi kabupaten, petugas-petugas
bea-tjukai dan segelintir lagi. Lalu, tentu djuga: kelompok
perumahan Kidjang jang mewah dimana tanah bauksit digali
mendjadi dolar. Selebihnja? Adalah mereka jang mendiami
perumahan Angkatan Laut dibagian kota Tandjung Pinang jang
berbukit: menghidupkan mesin menjedot air dari perut tanah jang
dalam.
Longkang. Tetapi selebihnja lagi: bagian terbesar penduduk jang
tak mampu memberesi rekening air ledeng atau membeli mesin
pompa? Beruntunglah para mahluk Tuhan disana apabila Jang -Maha
Kuasa sering mentjurahkan air dari langit. Disaat hudjan begini,
semua sarana dengan nama ember atau kaleng dikerahkan sebagai
penadah. Tetapi kalau tidak? Sementara beberapa bulan terachir
ini berbagai daerah dibentjanai bandjir, pulau disudut Laut
Tjina Selatan itu, dalam 6 bulan terachir ini hanja dua kali
ditetesi hudjan jang agak deras.
Maka meskipun air laut setiap waktu merajap-rajap dibawah
sebagian rumah penduduk, sumber air jang mempunjai berbagai
alias itupun dikundjungi: longkang, atau selokan, got,
pelimbahan dan tjomberan. Ditepi djalan Tabib, sudah sekian lama
terbentuk sematjam empang dengan susunan batu-batu dibagian
udiknja, bertindak sebagai penjaring. Aliran ini tidak bersumber
dari sesuatu mata-air, tetapi adalah sisa sisa pembuangan: mulai
dari pembuangan air Rumah Sakit Umum, segala sisa
tjutji-mentjutji atau mandi dirumah-rumah, kantor dan masdjid,
melalui selokan disepandjang djalan Tabib dan sekitarnja.
Orang-orang tua, muda, amoy-amoy turun kepusat penampungan air
bekas itu. Semua seperti berebutan untuk menguras isinja, dibawa
pulang untuk berbagai keperluan atau "siap pakai ditempat" kalau
berhadjat mentjutji pakaian. Airnja tjukup dapat dikatakan
bening, mungkin berkat saringan batu-batuan tadi, tetapi mungkin
pula karena keinginan mereka jang begitu membutuhkannja. Konon
ada pula sementara warga kota jang memasaknja untuk diminum,
terutama pada saat pasaran harga air ledeng sedang
menenggelamkan kemampuan mereka.
Memang mungkin keadaan air dipulau itu sudah djauh lebih baik
dibanding ketika waduk Sungai Pulai belum ada, beberapa KM
diantara Tandjung Pinang dan kota Bintan. Tetapi nasib mudjur
rupanja masih mendahulukan orang-orang mampu dalam hitungannja
jang tetap: sebagian ketjil penduduk. Ini belum masuk hitungan
mereka jang berkelebat dipulau-pulau disekitar perairan Riau itu
jang selalu menilai air hampir lebih berharga daripada manikam.
Meskipun begitu, hingga sekarang angin laut disana belum pernah
membisikkan kabar-berita tentang rentjana pemerintah daerah
untuk mendirikan pusat-pusat air ledeng untuk umum atau
menghadiahkan mesin pemompa air bagi pulau-pulau terpentjil.
|