Memupuk Cinta Urea Teknik memasarkan pupuk urea dengan mendemonstrasikan
pemakaiannya di sawah dilakukan di Lampung, Jambi, Bengkulu &
Sumatera Selatan. Di Dengkulu para wakil warga dikursus oleh
PT Pusri serta Diperta. |
MASA saling adjuk-mengadjuk sebagai lazimnja orang-orang jang
sedang berpatjaran, konon sedang terdjadi pula antara para
petani dengan pupuk, dipedalaman Sumatra bagian selatan:
Lampung, Bengkulu, Djambi dan Sum-Sel sendiri. Peribaratan jang
kuno itu hanja mengandung arti, bahwa kata-kata belaka sudah
hampir mendjadi hama telinga para petani kalau masih dipakai
djuga untuk mejakinkan kemurahan Urea dalam menjuburkan tanaman.
Apalagi, belum setahun lampau, dibeberapa daerah Sumatera
Selatan instansi pertanian disana pernah membagi-bagikan
sedjenis butiran berwarna kehidjauan diberi merek pupuk. Tetapi
belum dua hari butiran itu disebar disekitar rumpun padi, daun
tanaman jang biasanja berwarna hidjau berubah mendjadi kuning,
lalu tjoklat dan rontok. Kedjadian ini meskipun kemudian diakui
kesalahannja oleh instansi pertanian tjukup melukai kalbu para
petani, baik jang telah mengenjam manfaat pupuk dan terutama
jang belum.
Dan difihak lain, pabrik pupuk PT. Pusri jang megah dikota
Palembang sudah lama agak dirundung gundah gelisah. Sebab,
disamping usaha-usaha terus dilakukan untuk menambah produksi
urea dengan memasang mesin-mesin baru, djuga karena tidak
disangsikan lagi bahwa para petani dike-4 propinsi disekitarnja
tidak sampai 10% dari seluruh produksi jang memakai pupuk
buatannja. Angka ini tjukup memakan hati apabila dilihat pada
sebuah kabupaten di Djawa-Tengah jang selalu memesan pupuk itu
lebih dua kali lipat dari djumlah dipropinsi-propinsi tadi.
Diperta. Akalnja mudah diusut. Mula-mula tentulah bersumber dari
para petani sendiri jang masih banjak belum melek pupuk, tetapi
djuga "hantu" jang membuahkan "pupuk makan tanaman" harus diusir
dulu dari kepala mereka. Tetapi jang lebih penting lagi ini:
rahasia-rahasia penjubur tanaman itu harus diuraikan, berikut
melampirkan nomor tjontoh setjara tjuma-tjuma.
Usaha pontang-panting mendjadjakan pupuk keliling desa seperti
menawarkan mpek-mpek, dianggap para petani sebagai kurang
"kontemporer". Karena itu dipilihlah berbagai petak sawah
dibeberapa desa untuk didjadikan projek "demonstrasi". Artinja,
ditengah sawah, mulai dari kerdja pabul mematjul sampai pada
hari-hari panen, para pak tani bersama-sama dengan
petugas-petugas Pusri dan Dinas Pertanian Rakjat (Diperta)
setempat berada ditengah pematang. Disini diperbintjangkan
seluruh seluk-beluk mengenai bibit, pupuk, tjara menjebar pupuk,
menanam padi, djenis tanah, berbagai hama dan obatnja, irigasi,
merawat tanaman itu hingga bidji-bidji padi terdjerang diatas
tungku. "Pokoknja membuat hubungan antara petani dan pupuk
sebagai ikan dengan air" seperti dikatakan Ir. Agus Ridwan,
kepala pemasaran PT Pusri di Palembang. Dan tampaknja sawah
demonstrasi tadi telah tjukup dianggap para petani sebagai air
jang sedjuk dan mengandung banjak umpan.
Dengan praktek didalam lumpur itu, rupanja memantjing minat
Bupati Redjang Lebong (Bengkulu), M. Daud Mustafa, untuk
memanggil para wakil marga sebagai murid kursus ditengah
pematang tadi. Diminggu kedua bulan Pebruari lampau,
petani-petani dari berbagai marga itupun telah berlumur lumpur
sawah didesa Babakan Baru Ketjamatan Tjurup, daerah batas
propinsi Bengkulu dan Sum-Sel. Pemberi petundjuknja terdiri dari
para ahli bibit, ahli tanah, pupuk, penjakit tanaman, ahli
pengairan bahkan ahli kredit dari PT Pusri maupun Dinas
Pertanian Rakjat. Dari para kursis diharapkan akan menjebarkan
ilmu jang mereka dapat kepada seluruh petani dimarga
masing-masing. Hingga bukan sadja tjukup alasan untuk memadatkan
isi lumbung, tetapi bagi Pusri, suara mesinnja akan makin
njaring mengeluarkan urea.
|