Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 52/I/04 - 10 Maret 1972
   
Daerah

Pusri Berseri-Seri

Petani luar Jawa di pedalaman umumnya tak mau memakai pupuk. Tapi para petani di Sumatera Selatan sudah keranjingan menggunakannya. pabrik Pusri terus meningkatkan produksinya.

SEPERTI 9 importir merangkap distributor lainnja, Pusri melempar
pupuk di Djawa tanpa mengalami kesulitan. Berapa sadja
persediaan didjual tetap dapat pasaran Pendeknja laku seperti 9
bahan pokok. Tapi berbeda keadaan diluar Djawa lipun
dipedjal-pedjalkan hasil pemasaran urea sampai sewindu umur
kilangnja, baru mentjapai 9 berbanding 1. Tegasnja dari produksi
setiap tahun rata-rata 100.000 ton, 90% mengalir ke Djawa 10%,
untuk kepulauan diseberang. Hampir tak dapat dipertjaja,
Sumatera Selatan baru menjerap kurang 3% dari total produksi.
Itupun "berkat Bimas, hasil penjuluhan dan tjampur tangan
Pemerintah", kata Agus Ridwan. Insinjur kepala Kantor Pemasaran
Wilajah disingkat KPW Pusri daerah Djambi Bengkulu dan Sumatera
Selatan itu mengemukakan pengamatannja bahwa tingkat kesadaran
petani didaerahnja masih rendah. Konon keadaan demikian umum
terdjadi didaratan Sumatera "Petani di Sumatera belum
pupuk-minded karena masalah tradisi sehingga djauh ketinggalan
dengan petani di Djawa", kata Sorie Junus, Kepala Humas Pusri.

TSP Bangka. Sementara itu peredaran urea Pusri agaknja belum
lengkap: pemakaian pupuk tidak melulu terdiri djenis N jang
diprodusirnja. Sekalipun dalam dosis-dosis Bimas-baru,
Bimas-biasa djumlah setiap hektar pemakaian N lebih besar, tak
urung tanpa P tidak akan djadi. Itu sebabnja mengapa Bimas/Inmas
MH 1971/1972 heboh gawat gara-gara tak tersedia P target dan
produksi paling banter mentjapai 25%. Apa arti 25% bagi Sumatera
Selatan jang senantiasa digandjel beras impor? Maka dalam wadjah
kening jang sudah mengkerut Gubemur Asnawi bergelar Mangku Alam
meraih 33 ton stok TSP Bangka. Dalam keadaan darurat dipindahkan
ke projek Bimas terhesar di Musi-Rawas dan Ogan Komering Ulu.
Tapi kebutuhan P djauh masih belum mentjukupi. Apa daja?
Beberapa ton didatangkan dari Lampung. Di daerah Semendo P
dibeli Rp 100 sekilo. Itu sama dengan harga hampir 3 kilogram
urea jang didjual pengetjer ditempat itu. Mengapa TSP begitu
disuka? "Tanah pertanian di Sumatera Selatan memerlukaun Fosfat
sebagai pupuk utama. Sedang nitrogen ada pada urea sebagai pupuk
tambahan" kata Romli Senapi. Pendapat ahli pertanian itu
diperdjelas Dahri Amar, Kepala Humas Diperta Sumatera Selatan.
Katanja: "3 unsur pokok diperlukan tanaman. N, P, dan K. Chusus
di Sumatera Selatan unsur P djadi utama, tapi harus bersama N
plus K". Djelas TSP dan urea unsur-unsurnja berbeda. Namun
pemakaian pupuk belum menemukan dosis-dosis positif. Sebab itu
perlu diadakan penelitian tanah.

Urat-kantuk. Tapi bagi petani di Pulau Panggung dan Kota Agung,
ketjamatan jang berpredikat kerandjingan-pupuk di Sumatera
Selatan itu sudah positif. Sjahdan 4 tahun sebelum Belanda
bertekuk-lutut pada Djepng 2 ketjamatan itu djadi sasaran
pembinaan dan penjuluhan pertanian oleh Landbouw Cosulent dengan
menjebar pupuk DS. "Kami memberi penjuluhan langsung. Membuka
sawah pertjontohan dengan menggunakan bibit unggul dan pupuk DS
ditengah sawah-sawah rakjat", kata Abdul Madjid berkisah. Bekas
manteri pertanian, kemudian djadi guru, terachir pensiunan
Inspektur Pendidikan Djasmani kini diam di Lahat. Ia menjatakan
diamannja penjuluhan tidak gampang diterima petani. Mereka mau
melihat kenjataan lebih dahulu. "Tapi kalau sudah kena
urat-kantuknja, kita pelintir telinganjapun mereka menurut".
Bagaimana saratnja? "Gampang sadja: kesungguhan. Berikan
perhatian sesuatu jang disampaikan mereka. Misalnja terdjadi
kelainan tanaman, maka kita harus tjepat urus". Abdul Madjid
sambil ketawa mengenang pengalamannja, Madjid berkata pula:
"Kami dulu tidak keluar belandja lauk-pauk. Kita pulang selalu
dibekali telor, sajur, beras ketan tembako sebagai oleh-oleh
gratis sehingga tak terangkut dengan sepeda". Dan kini Abdul
Madjid melihat banjak perobahan. Kemadjuan bidang pertanian
berkat penjuluhan dimana ia sendiri pernah mondar-mandir
Lahat-Bogor mengambil bibit-bibit padi, kol, sawi, wortel dan 8
djenis ubi-ubian. Apa jang ada sebelumnja? "Padi ekor kerbau,
sajurnja terung bundar", katanja.

Bagaimana daerah pertanian lain jang belum suka pupuk? Marga IV
Suku Negeri Agung dikaki bukit Serelo kabupaten Lahat terdapat
1.400 ha sawah padi gadu ada disana tapi: "Petani kami tak suka
pakai pupuk-pupuk apapun", kata Pasiran Bastari. "Tanah di Marga
kami masih subur. Petani kami tidak ada jang mengambil kredit
Bimas", sambungnja. Tanggapan tentang pemakaian pupuk untuk
meningkatkan hasil produksi pertanian beraneka ragam seperti:
djika dipupuk batang padi terlalu subur, gampang rebah atau:
tanah bakal tuman, tak dipupuk djadi kewalahan. Pendapat
terachir kiranja tidak dianggap remeh, papula pengalaman tahun
ini, tak tersedia pupuk TSP pada waktunja bukan hanja
menimbulkan sumpah-serapah sadja, tapi mengundang lawan usaha
pembinaan penjuluhan. Konon dalam kredit Bimas kabarnja
dosis-dosis pupuk jang disediakan tak pula seluruh dipakai.

Petrokimia. Agaknja Pusri melihat gelagat. Produksi bakal
meningkat akibat perluasan kilang dari 100.000 ton mendjadi
480.000 ton pada tahun 1974. Perseroan Terbatas jang memegang
1/3 seluruh peredaran pupuk di Indonesia itu, konon memiliki
aparat distribusi lebih sempurna daripada 9 importir &
distributir lainnja. Sementara mengedar kan pupuk impor dari
Djepang, Negeri Belanda dan Australia, paling tidak sudah harus
menggarap usaha mentjiptakan pasaran baru. Bulan Maret nanti
pabrik urea Petrokimia di Djatim jang dibangun akan mulai
produksi. Bagi Pusri ini artinja paling tidak muntjulnja
saingan. Maka Pusri melihat keluar Djawa. Nampaknja itulah usaha
keras jang sedang dibina oleh Pusri. Direktur Komersil &
Keuangan Dalil Hasan S.E. menginstruksikan pada seluruh KPW ikut
aktif dalam pembinaan dan penjuluhan langsung pada petani. Tak
diragukan usaha tersebut paling achir titik sasaran peluasan
pemasaran. Sekalipun untuk itu perlu disisihkan budget chusus.
Maka di Sumatera Selatan, Djambi dan Bengkulu usaha kearah itu
sudah dan sedang dilaksanakan setjara terus menerus. Dirut
Pusri, Brigdjen TNI jang tenang, Hadji Hasan Kasim malah tak
segan mengerobok ditengah sawah pertjobaan.

Penjuluhan dalam bentuk mengadakan kursus tani, membuat
kebun-kebun pertjontohan dibeberapa tempat, kursus pemasaran
bagi sub-distributor, ikut dalam perlombaan tani, menerbitkan
brosur dan mengundang petani ke Pusri. Paling achir awal
Pebruari kemarin KPW Sumatera Selatan Bengkulu dan Djambi
membuhul piagam kerdjasama dengan Diperta untuk memadjukan
tingkat pengetahuan serta ketrampilan petani. Tenaga pelaksana
dari Diperta sedang penjediaan sarana-sarana produksi: pupuk,
obat bibit disiapkan Pusri.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Soal Masa Jabatan, Presiden Tunggu Kapolri Pulang Umroh - 05 Sep 2008 | 15:33 WIB
Kementerian BUMN Rombak Komisaris Berdikari - 05 Sep 2008 | 15:28 WIB
Layanan Kesehatan Gratis Di Kebumen - 05 Sep 2008 | 15:26 WIB
Giliran Pendukung Syahrial-Helmy Rayakan Kemenangan - 05 Sep 2008 | 15:15 WIB
PDAM Protes ExxonMobil Yang Akan Menyedot Sumber Air di Dander - 05 Sep 2008 | 15:10 WIB
Hatta Minta Kegagalan Super Toy Tidak Dipolitisir - 05 Sep 2008 | 15:05 WIB
Pemerintah Harus Libatkan Organisasi Guru dalam Sertifikasi Guru - 05 Sep 2008 | 15:01 WIB
Lima Hari, Lima Jenazah Bayi - 05 Sep 2008 | 14:59 WIB
Klub Raksasa Inggris Bertambah Satu - 05 Sep 2008 | 14:58 WIB
Lima Hari, Lima Mayat Bayi - 05 Sep 2008 | 14:56 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data