Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 38/I/27 November - 03 Desember 1971
   
Ekonomi dan Bisnis

Komentar Para Pilot

Aksi para pilot belum usai. Syafei, pilot DC-8 menilai insiden hanggar Kemayoran & hukuman pilot terlalu ringan. Saleh Gandhi menuntut jam terbang dikurangi. Kusdjinatin, hukuman yang obyektif pada team.

RENTETAN aksi pilot Garuda sudah usai, meskipun soalnja belum
tentu selesai. Apa sebenarnja latar-belakang dari aksi-aksi itu?
Bersama ini adalah rekaman wawantjara dengan beberapa pilot
senior Garuda.

SJAFEI

Dia termasuk pilot senior DC-8 Garuda jang sudah bermasa dinas
17 tahun. Berasal dari Madura, 41 tahun, Sjafei menilai insiden
dihanggar Kemayoran itu sebagai tidak bisa ditolerir dengan
hanja hukuman tidak boleh terbang tjuma seminggu. "Ini bisa
membawa efek jang tidak baik. Dengan hukuman seringan itu,
dikuatirkan pilot-pilot lain bisa seenaknja berbuat kesalahan
jang sama. Misalnja kalau seorang pilot tidak boleh tjuti, maka
sebagai ungkapan rasa djengkelnja, ia bukan tidak mungkin
berbuat hal jang sama".

Bitjara soal gadji, menurut Sjafei, "sudah mengalami perbaikan
sedjak tahun lalu". "Kalau dulunja seorang pilot menerima Rp
50.000, maka kini uang jang dibawa pulang (take home pay)
seorang pilot senior sebulan adalah sekitar Rp 200.000. Bagi
pilot-pilot Pakistan uang jang dibawa pulang memang lebih besar,
sebanjak US 1.000 dollar sebulan. Di India seorang pilot senior
rata-rata mendapat US 1.500 dollar sebulan, sedang pilot-pilot
KLM kurang, lebih membawa pulang uang 6.000 gulden jang kalau
dikurs mentjapai Rp 600.000".

SALEH GANDHI

Jang satu ini tidak termasuk pilot senior Garuda. Tapi bekerdja
sebagai insinjur udara. Itulah sebabnja gadjinja Iebih rendah.
"Penghasilan sebulan kini adalah Rp 100.000. Dan kalau ikut
terbang ke Eropa mendapat uang saku 4 sanipai 5 dollar sehari".
Baginja, sama halnja dengan Sjafei, jang mendjadi persoalan
adalah djam terbang. "Bajangkan sadja kalau orang harus terbang
selama 15 sampai 16 djam sehari. Dalam penerbangan ke Eropa
praktis kami kerdja malam seperti kalong. Dan belum lagi dapat
istirahat jang tjukup, keesokan harinja kami harus terbang lagi.
Kalau terus-menerus begini kita akan kehabisan tenaga. Dan ini
pasti tidak baik akibatnja".

Nasib lain menimpa kapten Sjafei. "Telinga kiri saja sudah mulai
terganggu, demikian pula mata sebelah kanan ini".

Tapi ada satu hal jang mungkin lupa ditjeritakan oleh kedua
orang Garuda itu: penerbangan ke Eropa didjalankan setjara
ganti-berganti. Dengan begitu untuk satu pesawat seorang pilot
tidak usah terbang tanpa putus dart Djakarta sampai Amsterdam,
jang memang makan waktu antara 15 sampai 16 djam.

KUSDJINATIN

Dan apa komentar pilot jang namanja achir-achir ini mendjadi
tenar karena menjenggol hanggar?. Diruang kerdjanja, dilapangan
udara Kemayoran, Kusdjinatin jang berkumis lebat, tinggi kurus
dan djarang tertawa itu membuka suara: "Dalam persoalan
taxi-incident orang perlu mengetahui latar-belakangnja. Apakah
terdjadinja insiden itu karena kelalaian, ketjerobohan,
kesengadjaan atau kurangnja pengetahuan pilot itu sendiri. Maka
setelah menjelidiki dan mengetahui setjara pasti
sebab-musababnja barulah hukuman dapat diberikan untuk memberi
peladjaran bagi si penerbang".

Dan tentang ringannja hukuman jang diberikan, Kusdjinatin
berkata: "Untuk menetapkan hukuman, haruslah berdasarkan
laporan-laporan jang masuk dan rekomendasi dari suatu team
penelitian.Ini ada dua. Ada team penelitian intern Garuda
dimarta wakil dart Ipsindo duduk didalamnja, ada pula team
Pemerintah jang bernaung langsung dibawah Ditdjen Perhubungan".

Selandjutnja ia mendjelaskan djalannja penelitian seperti
berikut: "Ketua team penelitian intern Garuda melaporkan pada
manager operasi. Andaikata sampai tingkat ini ada jang belum
puas maka soalnja bisa diteruskan sampai tingkat direktur
Utama. Dan kalau masih djuga, belum puas, bisa diteruskan sampai
ketingkat Dirdjen Perhubungan jang selandjutnja akan
menjampaikan kepada Menteri". Dalam kasus Kusdjinatin jang
merangkap sebagai manager operasi, maka soalnja memang agak lain
dari biasa. "Untuk itulah pertama kali saja minta chief pilot
Sachroni untuk menentukan ringan tidaknja hukuman. Dan agar
Basil penelitian itu objektif, sudah ada team jang menjelidiki
dan memberi keputusan. Didalamnja djuga duduk wakil dart Ditdjen
Perhubungan". Achirnja dalam nada jang agak kesal Kusdjinatin
berkata: "Sesungguhnja insiden itu soul ketjil. Protes Ipsindo
tidak semata-mata di tudjukan-pada ringannja hukuman. Antara
lain pertemuanpertemuan untuk menjusun perubahan djam kerdja
jang menemui djalan buntu antara Ipsindo dengan pimpinan
Garuda".


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data