Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 24/I/14 - 20 Agustus 1971
   
Ekonomi dan Bisnis

Meramal Rezeki Nasional

Yayasan indonesia mengadakan diskusi tentang ekonomi indonesia di balai budaya. pertumbuhan ekonomi indonesia sulit diramalkan. namun dalam waktu 1-2 tahun ada kenaikan 7%.

BENAR dengan perbaikan perekonomian Indonesia selama tiga tahun
terachir sekarang telah didapat kenaikan pendapatan nasional
setahun. Tapi apakah kenaikan sebesar itu akan terus terdjadi
dalam sepuluh tahun mendatang? Diruang Balai Budaja jang
biasanja dipakai tempat pameran lukisan atau rapat-rapat untuk
persiapan demonstrasi, empat djuru-ramal mengemukakan
pendapatnja dihadapan hadirin Rabu malam tanggal 3 Agustus jang
lalu. Tiga diantaranja jaitu Emil Salim, Suhadi Mangkusuwondo
dan Dorodjatun Kuntjoro-Jakti berasumsi bahwa kenaikan demikian
akan terdjadi dalam sepuluh tahun mendatang. Tapi dukun ekonomi
jang seorang lagi, Prof.Sarbini Sumawinata, ternjata tidak
seoptimis ketiga rekannja.

Geleng kepaia. Menurut Sarbini, mungkin sadja kenaikan jang
tjepat seperti sekarang masih akan berlangsung satu dua tahun
lagi, tapi selandjutnja kenaikan pendapatan nasional tidak akan
lebih dari 5% bahkan barangkali hanja sekitar 35%. Apa sebab?
Karena, kata Sarbini, jang kita lakukan sampai sekarang
sesung-guhnja baru tahap rehabilitasi alat-alat produksi dalam
arti jang umum. Kenaikan jang begitu tinggi lebih disebabkan
karena kemauan baik dari pada karena kita betul-betul telah
kerdja keras. Ambil-lah tjontoh dibidang pertanian. Dengan
diperkenalkannja bibit unggul, insektisida dan sebagainja, maka
telah ditjapai kenaikan produksi jang besar sekali. "Tapi
djangan lupa", kata Sarbini "8 djuta luas persawahan di
Indonesia ini, 4 djuta hektar diantara-nja di Djawa. Dari jang 4
djuta itu 1 djuta hektar jang telah di- airi Belanda, tapi 75%
diantaranja dalam keadaan rusak jang sekarang ini setjara
pelan-pelan diperbaiki Sutami. Tapi untuk perbaikan keseluruhan
diperlukan investasi jang besar. Projek Djatiluhur jang sekarang
adalah hasil kerdja sepuluh tahun dengan investasi jang besar
sekali.

Maka jang dimaksud oleh Sarbini mampukah kita melakukan
investasi jang lebih besar sctelah tahap rehabilitasi sekarang
ini terlam-paui? Diambilnja tjontoh Djepang. Negara itu harus
menjisihkan 31% pendapatan nasionalnja setahun untuk mendapatkan
tingkat kenaikan pendapatan nasional 9% sekarang. "Kalau Djepang
jang sudah begitu madju harus menjisihkan 31% untuk mendapatkan
kenaikan 9O pendapatan nasional, maka saja sudah tjukup bermurah
hati untuk memberikan angka 2-3% kenaikan pendapatan nasional di
Indonesia jang hanja bisa melakukan investasi sekitar 13% dari
pendapatannja", kata Sarbini jang disambut dengan gelak tawa
hadirin serta geleng-geleng kepala Emil Salim.

Kwalitatif & Kwantitatif. Bagaimanapun, memang tidak mudah
meramalkan pertumbuhan ekonomi lebih-lebih di Indonesia, untuk
masa sampai sepuluh atau lebih mendatang. Soalnja seperti
dikata-kan Suhadi Mangkusuwondo jang bertindak selaku moderator
diskusi "Melihat Kedepan -- Perspektif Ekonomi" jang
diselenggarakan oleh Jajasan Indonesia itu -- berbeda dengan
dalam djangka pendek, dalam djangka pandjang "faktor-faktor
non-ekonomi tidak lagi bisa dianggap sebagai parameter tapi
harus diperlakukan sebagai variabel-variabel jang mempengaruhi
dan djuga di pengaruhi oleh variabel-variabel ekonomi". Dan
disini soalnja mendjadi djelas bahwa seperti jang disistimatisir
oleh Suhadi malam itu, dan jang ditekankan betul oleh
Prof.Sarbini, pembangunan ekonomi tidak hanja dengan mentjapai
kwantitas tertentu akan tetapi djuga kwalitas tertentu.
Dirumuskan dalam pertanjaan, soalnja akan begini: Apakah gunanja
setjara kwantitatif pembangunan ekonomi telah mentjapai tingkat
pendapatan nasional sampai 6-7%, padahal setjara kwalitatif ia
tidak mengurangi djumlah penganggur, pembagian rezeki idak
merata dalam masjarakat?

Tapi bagi Emil Salim, memisah antara kwantitatif dan kwalitatif
itu agak di luar djangkauan. Suatu tingkat pertumbuhan bukan
lain daripada hasil achir dari ichtiar manusia. "Bagai saja",
kata wakil-ketua Bappenas itu "soalnja bukanlah ini atau itu,
melain-kan bersama-sama keduanja sinkron". Maka diambilnjalah
beberapa tjontoh antaranja kenaikan 800.000 ton produksi
pertanian setahun atau sekitar 7%. Dengan wadjah bertjahaja
tjerah, Emil Salim berkata: " Tjoba bajangkan, apa jang terdjadi
dengan para petani kita jang menurut saudara Dorodjatun masih
konservaif itu? Bukan hanja petani kita tanpa di paksa telah
menerima bibit unggul itu, akan tetapi jang penting adanja
perubahan sikap petani untuk menerima proses pembaharuan.
Dibalik kenaikan 7% itu ada tersimpul a change in human mind
......"

Dan Dorodjatun Kuntjoro Jakti, jang menurut Suhadi dalam masalah
soal kwantitatif ini tergolong pada tjara pendekatan Sarbini
--jaitu tidak terhadap pembangunan ekonomi itu sendiri melainkan
jang faktor-faktor diluarnja djustru memperkuat pembuktian Emil
Salim. Ditundjukkannja suatu hasil sensus jang diadakan terhadap
industri di Djakarta -- jang menurutnja kurang diketahui. Sensus
itu menundjukkan bahwa dari sekian djumlah industri jang
hertahan hidup terlihat ketjendrungan mereka sekarang untuk
beroperasi dengan lebih efisien. Dan bukankah ini artinja
perubahan sikap pula?

"Dan djangan lupa", sambut Emil pada kesempatan berikutnja,
"kartu-kartu belum terbuka semua. Kartu minjak misalnja belum
ikut main". Dan jakin masih banjak kartu-kartu jang belum ikut
dimainkan itu, Emil Salim tetap pada ramalannja bahwa tingkat
kenaikan 6-7% pendapatan nasional dalam dasawarsa 70-an ini.

Perubahan appresiasi. Meskipun begitu Emil Salim rupanja bukan
tidak melihat masih banjaknja hambatan-hambatan dan besarnja
masalah-masalah jang harus dihadapi. Diambilkan tjontoh tentang
masalah pengangguran. Di Indonesia masalahnja ternjata bukan
semata-mata menambah banjaknja lapangan kerdja, akan tetapi
djuga merubah appresiasi masjarakat terhadap kerdja. Beberapa
waktu jang lalu misalnja ada kesempatan para sardjana untuk
turut dalam projek kerdja sardjana sukarela. Tapi dari 200
tempat jang disediakan, ternjata hanja dapat sambutan dari 50
orang. Mengapa demikian? "Karena kerdja diidentikkan dengan
kerdja administrasi, pakai dasi dibalik medja, tidak
diidentikkan dengan kerdja lapangan", kata Emil Salim.

Dan pada gilirannja Sarbini berkata: "Kita bisa membangun dengan
pengangguran tetap besar. Ini bukan hajalan". Tjaranja? Undang
modal asing dengan teknologinja! Tapi seperti dikatakan oleh
Sarbini pula: "Apakah kita membangun ini oleh kita, dengan kita
dan untuk kita?" Dan karena itu menurut ekonom jang konon
berbeda pendekatan dengan jang biasa dikenal dengan "Kelompok
Widjojo" itu, pemberian gambaran tentang kenaikan sekian persen
dari sektor ini, sekian persen dari sektor itu tidaklah lengkap.
Jang perlu djuga diberikan adalah dengan tjara apa dan kearah
mana kita ini membangun. Dan Sarbini achirnja menegaskan bahwa
apa jang sesungguhnja akan ia katakan adalah bahwa pembangunan
ekonomi itu adalah suatu kerdja besar dan bukan sekadar
mudah-mudahan --jang menurut dia terlihat sekarang.

"Memang", kata Emil Salim jang optimismenja memang terlihat amat
menjala,"masalah jang akan timbul ditahun dan luar biasa, memang
dahsjat, tapi bukan masalah jang tidak tertanggulangi.
Masalah-masalah itu ada jang setiap negara berkembang harus
menghadapi- nja". Dan pendengar dibarisan belakang ada jang
berbisik: "Dia baiknja djadi Menteri Penerangan". Tapi Emil
Salim tidak hanja memberikan ramalan tentang pertumbuhan
ekonomi jang terang, tapi djuga tentang keadilan dengan
mengatakan: "Jang penting bahwa dalam tjara kita mendjalankan
proses pembangunan itu tetap kita mendjundjung tinggi azas
keadilan sosial dan memelihara agar dalam tjara pembangunan ini
masjarakat kita tetap memiliki wadjah kemanusiaannja jang
wadjar".


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data