Keretakan Ruang Bakar AEG memeriksa kerusakan PLTG Palembang, ditemukan
keretakan-keretakan liner ruang bakar mesin. Masyarakat
cemas. Listrik sering mati meningkatkan kriminalitas.
PLTU diperhitungkan akan beres 2 tahun lagi. |
BARU 2 tahun, Pembangkit Listrik Tenaga disel dan Gas (PLTG)
jang di bangun di Palembang mengalami kerusakan. Ini biasa:
mampu membeli tapi tak mampu memelihara. Dalam ketentuan, pabrik
AEC- Djerman meminta agar setiap 4.800 djam, harus diadakan
pemerik-saan pada saluran gas panasnja. Tapi ternjata meskipun
sudah 2 kali lipat lebih lama (8.000 djam) mesin turbin gasnja
dibiarkan begitu sadja. Dari hasil pemeriksaan teknisi AEG di
ketemukan keretakan-keretakan liner ruang bakar mesin dan sebuah
alat ketjil jang mendjadi urat leher bagian tersebut harus
segera diganti -- dan ini hanja bisa dengan mendatangkannja lagi
dari Djerman. Akibatnja giliran listrik mati di Palembang masih
diteruskan meliwati djandji PLN jang sesungguhnja harus berachir
awal Mei jang lalu. Ini betul-betul mentjemaskan masjarakat
karena pada musim giliran lampu 6 tahun jang lalu: disamping
meningkatnja kriminalitas telah terdjadi pula kebakaran
besar-besaran. Bahkan ditahun 1968 3 kampung seluas tiga
lapangan bola habis di teguk "budjang abang".
Tapi setelah Palembang gelap konon akan segera terbit terang. 2
tahun lagi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di
Keramasan Palembang Barat jang kini telah mentjapai 60% di
perhitungkan akan beres. Projek Pelita jang menelan biaja Rp 2,2
miljar itu akan berkapasitas 2 x 12 MW, sarna besar dengan PLTU
Makassar, ini berarti matahari bisa terbit 2 kali sehari disana.
|