Bis Baru, Beban Baru Akan ditambah 500 bis baru untuk mengangkut penumpang di
Jakarta. dari penambahan ini diharapkan pelayanan kepada
penduduk Jakarta lebih baik. tapi akibatnya jumlah oplet yang
ditrayekkan, dikurangi. |
DIRENTJANAKAN 500 bis baru akan turun kegelanggang lalu lintas
Djakarta bulan Maret ini. Bersamaan dengan itu akan dibuka
beberapa lin baru seperti djurusan Djenderal Sudirman-Kota
langsung atau Tanah Abang-Kota langsung tanpa melalui Terminal
Lapangan Banteng. Djuga lin baru Lapangan Banteng-Kota lewat
Mangga Besar dan Lapangan Banteng-Stasiun Djatinegara. Lin-lin
gemuk jang vertikal kelihatannja mendapat djatah bis lebih
banjak walaupun pada lin jang sama telah beroperasi lebih dari
1.000 oplet. Konon kabarnja sebelum ini supir oplet sudah
terpukul karena penambahan bis pada lin jang selama ini mereka
monopoli. Akibatnja djumlah oplet jang ditrajekkan terpaksa
dikurangi dari rata-rata 5 mendjadi 3 oplet. Djumlah ini mungkin
terpaksa akan ditjiutkan lagi lalu sebagai biasa penumpang oplet
akan berfikir tentang trajek luar kota.
Tapi penambahan bis djuga menjebabkan kondektur-kondektur
berfikir tentang trajek luar kota. Lin gemuk Lapangan
Banteng-Kebajoran Baru sekarang didjaga tidak sadja oleh PPD
tapi djuga oleh Medal Sekarwangi dan Binaraja Jaya. "Kita
sekarang benar-benar kekurung", kata Sumandar, 26 tahun,
kondektur bis PPD. "Hantjur deh", sambungnja. "Setoran Rp 12.600
buat rit 5 kali. Mana kerdja kita setengah mati. Dari mulai bis
belum bergerak distasiun kita udah mesti tereak-tereak. Bis lagi
djalan selain musti mungutin duit, djuga musti tereak-tereak.
Saja udah malas-malasan nih. Saja lagi tjari bis luar kota".
Penambahan bis ternjata bukan keluhan, ketjuali untuk 400.000
penduduk Djakarta jang menggantungkan nasibnja pada angkutan
murah itu. Mereka nistjaja belum bisa duduk lega dalam bis,
walaupun nanti ada tambahan 500. Dalam djam-djam sibuk, penduduk
jang tidak beruntung itu masih akan duduk berdempet-dempet
dengan risiko kaki terindjak atau badju kusut ditempeli bau tak
sedap. Tapi apapun risiko seorang penumpang bis, lin-lin baru
akan membuka kemungkinan untuk gerak hidup jang lebih luas dan
dengan sendirinja lebih murah.
Klop. Dengan 500 bis baru berarti menurut perhitungan diatas
kertas ada 1.500 bis jang bersiliweran di Djakarta. Sedang
kebutuhan optimal diperhitungkan 3.000. Sukirno Hadiutomo, 43
tahun, Direktur PT Pelita Mas Djaja, satu dari sembilan
perusahaan jang dianggap bonafide oleh DCI untuk mendapat
tambahan 50 bis, menjatakan bahwa dengan kenaikan tarif Rp 15
dan kenaikan djumlah armada bis, biaja eksploitasi dan pemasukan
diperhitungkan dan dirasakan sebagai "klop sadja." Direktur jang
selalu berdasi tapi tidak keberatan berkantor ditengah-tengah
bengkel itu menjatakan bahwa kenaikan tarif bis paling banjak
bisa menambah pendapatan supir dan kondektur lO% dan tidak 25%
seperti jang diharuskan oleh Gubernur. "Tapi mereka mendapat
pakaian seragam dan pengobatan tjuma-tjuma, katanja menambahkan.
Pelita Mas Djaja diluar penambahan 50 bis baru, punja 100 bis
dengan 80-90 jang beroperasi tiap hari. Perusahaan bis ini
mempekerdjakan 100 karjawan dan sedang membangun pool jang baru
didjalan Djenderal Pandjaitan seluas 2 ha dilengkapi workshop
dan kamar diesel. Dengan kemadjuan seperti ini sukar untuk
memahami keterangan Sukirno bahwa Pelita Mas Djaja tidak untung.
Dia telah menjulap angka atau menjulap kata-katanja sendiri.
Apalagi kalau mengingat bahwa perusahaannja telah melunasi
kredit sebanjak 40% kepada DCI dengan setoran tiap hari sekitar
Rp 3.600.
Bila Sukirno menegaskan bahwa kuntji sukses perusahaan bis
adalah kontrol terus menerus, Saleh Muis Direktur SMS djuga
berpendapat sama. "Saja bekerdja keras ngontrol dan meneliti
keadaan bis. Kalau tidak perusahaan akan ambruk", kata direktur
tanpa dasi itu. "Dengan tarif Rp 15 biaja eksploitasi memang
tertutup. Tapi biara soal keuntungan masih tanda tanja. Soalnja
menjangkut dengan harga-harga onderdil". Saleh Muis jang baru
berusia 36 tahun, telah memperhitungkan bahwa walaupun
perusahaan belum bisa untung tapi supir dan kondektur mendapat
tambahan pendapatan jang lumajan. Dengan ketentuan l0 rit satu
hari dan setoran Rp 10.000, mereka masih bisa mengumpulkan Rp
3.000 atau lebih. Djustru keterangan ini bertentangan dengan
tjerita seorang supir. Rustam, 27 tahun, menjatakan bahwa dengan
tarif Rp 10 ia bisa mengumpulkan kelebihan Rp 4.000 tiap hari
sedang dengan tarif Rp 15 paling tinggi ia mengumpulkan Rp
2.000. Kenaikan tarif itu djustru membuat orang memilih oplet
jang masih menerima Rp 10 untuk djarak dekat.
1.000 x. Walaupun pendapatan turun, supir tidak berani memakai
bis seenaknja ditempat-tempat tertentu. Mereka selalu ingat apa
jang disebut law enforcement. Pernah sebuah bis lewat djalan Ir
Djuanda, kentjang lurus. Salah seorang penumpang minta
diturunkan didepan Sarinah. Kondektur jang kesal berkata: "Turun
dihalte bis, djangan disini. Nanti kita jang kena denda". Sambil
menggerutu kedengaran djuga kata-kata: "Kalau denda 3.000, kita
dapat apa". Peristiwa ini terdjadi dipusat kota dalam radius
pengawasan polisi. Ditempat-tempat tidak penting didaerah agak
pinggiran, bis-bis masih berani memungut penumpang disembarang
tempat dan menurunkan mereka bukan pada halte jang telah
ditentukan. Ini sangat mengganggu kelantjaran lalulintas. Ali
Sadikin sudah mempermaklumkan law enforcement satu tahun jang
lalu tapi masih ada sadja orang memandjat pagar pemisah di
boulevard Djenderal Sudirman padahal tangga penjeberangan sudah
disediakan. Betja-betja main sodok, bis-bis djalan dan berhenti
seenaknja. "Tapi", selalu ada tapinja, "kita tidak bisa
mentrapkan sesuatu sekaligus", kata Partomuan Harahap Kepala
Dinas Lalu Lintss Angkutan Darat DCI. "Memang banjak pelanggaran
terdjadi, tidak kurang dari 1.000 x sehari". Tapi keadaan tata
tertib Djakarta tidaklah terus menerus djelek. "Kalau saja
perhatikan setjara umum sebenarnja masjarakat dalam mentaati
peraturan-peraturan lalu lintas makin meningkat baik. Misalnja
kesadaran masjarakat dalam hubungan dengan traffic light, makin
baik. Karena itu dalam tahun ini 100 buah traffic Iight sudah
akan menjala", Partamuan jang bertubuh kekar itu mendjelaskan.
Memperkosa. Seratus traffic light akan menjala, berarti service
lebih baik untuk penduduk Djakarta. Penambahan 500 bis baru
djuga berarti service yang lebih baik, tapi sudah pasti belumlah
sebaik service jang diberikan bis di Singapura atau Kuala
Lumpur. Ketentuan 50 orang penumpang untuk tiap bis menjebabkan
timbul kesan bahwa naik bis bisa lega bagi orang jang kurang
pandai berhitung. Sedang dipihak lain jaitu orang-orang dan
paberik Amerika menurut Saleh Muis timbul kesan bahwa orang
Indonesia memperkosa bis-bis sedang sementara itu karena sistim
monopoli tidak berlaku untuk semua lin, terutama tidak untuk lin
jang gemuk, maka supir-supir bis jang tidak puas dengan djumlah
uang masuk jang diperoleh, terpaksa memperkosa djalan-djalan.
Pada gilirannja terdjadilah banjak pelanggaran. Reaksi berantai
ini mentjapai klimaks dalam ledakan kemarahan Gubernur Ali
Sadikin seperti jang terjadi 15 Pebruari jang lalu didepan
polisi chusus DLLAD.
Saling memperkosa terdjadi dalam angkutan dan lalulintas. Wadjar
kalau dalam keadaan seperti itu akan sukar sekali menegakkan
ketertiban. LimapuIuh penumpang dalam satu bis berarti 30 orang
duduk, 20 orang berdiri. Tentu kelihatannja berdjubel, kata
Sukirno Hadiutomo. Limapuluh penumpang dalam satu bis dengan
tarif Rp 15 belumlah berarti untung. "Ketjuali kalau tarif bis
seperti di Kuala Lumpur jaitu MS 0,35 jang kira-kira sama dengan
Rp 40. Itu baru untung", kata Saleh Muis. Lalu 1.500 bis untuk
djaringan djalan jang telah ada akan berarti muka tjemberut
supir dan kondektur bis. "Bajangin adja. Udah 4 djam baru dapat
satu rit. Bagaimana hasil bisa hebat", keluh Budiman kondektur
bis jang melajani lin Grogol. Memang tidak ada jang bisa hebat
sekaligus karena tarif bis tidak bisa dinaikkan dari Rp 15
mendjadi Rp 40 sekaligus.
|