Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
 
   

Internasional

Dua Warga Indonesia Diculik di Irak
Jum'at, 01 Oktober 2004 | 10:08 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Dua warga Indonesia, Rafikan binti Aming dan Rosidah binti Anom, diculik kelompok bersenjata Irak. Dalam video yang disiarkan stasiun televisi Al-Jazeera, penyandera bertanya kepada mereka berdua dalam bahasa Indonesia.

Berita penculikan dua perempuan itu muncul pertama kali di Al-Jazeera. Mereka diculik bersama enam warga Irak dan dua warga Libanon.

"Tentara Islam dari Komando Wilayah Barat telah menyebarkan video yang berisi penahanan 10 sandera," ungkap stasiun televisi dari Qatar itu. Disebutkan, semua korban penculikan bekerja pada sebuah perusahaan listrik. Tidak diungkapkan nama perusahaan itu.

Kepala Bidang Konsuler Kedutaan Besar Republik Indonesia di Doha, Qatar, Ghufron Afero, yang melihat rekaman video di kantor Al-Jazeera, mendengar kedua sandera WNI itu mengaku bernama Rafikan dan Rosidah. "Keduanya mengaku berasal dari Jakarta," kata Afero.

Nama dan asal itu disebut saat mereka ditanya oleh penculik. "Mereka ditanya dua pertanyaan dengan bahasa Indonesia aksen Arab," kata Afero. Padahal, seorang sandera lain, pria Arab, ditanya dalam bahasa Arab.

Fragmen gambar kedua wanita Indonesia itu berdurasi sekitar dua menit. Rekaman memperlihatkan Rosidah memakai daster warna terang dan Rafikan warna gelap, dan keduanya mengenakan kerudung. Para penculik tidak menyatakan tuntutan apa pun sebagai syarat pembebasan tahanannya.

"Mereka duduk di lantai dan tidak diborgol," kata Afero. Sedangkan sandera lain, seorang pria Arab, duduk di lantai dengan muka ditutup dan tangan terborgol ke belakang. "Wajah kedua wanita itu kelihatan sangat takut dan gelisah."

Menurut juru bicara Departemen Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa, saat ini ada 13 warga Indonesia di Irak yang terdaftar resmi. Ini termasuk delapan mahasiswa dan dua karyawan KBRI yang menikah dengan warga setempat. Sedangkan menurut Kepala Penerangan KBRI Amman, Musurifun Lajawa, ada 10 warga Indonesia di sana, termasuk tujuh mahasiswa.

Bulan lalu, warga Indonesia bernama Fahmi Ahmad tewas akibat serangan sekelompok pria bersenjata yang menembaki rombongannya saat melintasi Mosul. Ia warga Indonesia pertama yang menjadi korban konflik Irak sejak invasi Amerika ke negeri itu.

KBRI di Irak sudah mengirim Wahid, seorang staf lokal, untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. "Kita juga berkoordinasi dengan perwakilan kita di Doha, Dubai, Damaskus, dan Amman," kata Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Departemen Luar Negeri Ferry Adamhar.

faisal/adek


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Tawanan Indonesia di Irak Diinterogasi Dalam Bahasa Indonesia
Pemerintah Tidak Bisa Melarang Warganya ke Irak
Fahmi Kemungkinan Dipulangkan Melalui Turki
Polisi Tangkap Tiga WN Cina Pelaku Penculikan
Keluarga Korban Penculikan Melapor ke Komnas HAM
FPP dan MMI Solo Tuntut Pembubaran Densus 88 Anti Teror
Protes Serangan Tentara AS ke Najaf di Depan Kedubes AS
Guru Ngaji Korban Penculikan Masih Depresi Berat
Presiden dan Perdana Menteri Irak dilantik
Lima Penculik Anak Ditangkap
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< October,2004>>
MSnSl RK JS
     01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data