|
Jakarta
Pendidikan Inklusif Terhalang Penerimaan Orang Tua Murid
Senin, 02 Mei 2005 | 11:55 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Pengembangan pendidikan inklusif masih terhalang masalah penerimaan orang tua murid lain terhadap siswa berkebutuhan khusus. Padahal, tujuan model ini untuk memberikan kesempatan pada anak berkebutuhan khusus untuk bersekolah yang sama dengan siswa normal.
"Kebanyakan orang tua murid lain masih menolak," ujar Mujito, Direktur Pendidikan Luar Biasa Departemen Pendidikan Nasional, saat ditemui ketika sedang menunggu upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional di Sekolah Luar Biasa (SLB) A Pembina, Lebak Bulus, Jakarta, hari ini (2/5). Alasannya, menurut Mujito, orang tua murid merasa sekolah berubah menjadi SLB dengan menerima siswa berkebutuhan khusus.
Menurut Mujito, saat ini terdapat 550 sekolah inklusif di Indonesia dari tingkat pendidikan dasar hingga menengah. Sekolah tersebut menampung 5.000 siswa di mana 3.750 di antaranya berasal dari keluarga golongan tak mampu.
Lebih lanjut ia menyatakan, saat ini pihaknya terus berusaha melakukan sosialisasi kepada para pendidik dan orang tua murid terkait dengan masih adanya penolakan ini. "Akhirnya mereka banyak yang mau menerima," ujarnya lagi.
Saat ini, di halaman gedung SLB pembina telah berkumpul para undangan upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional. Mereka sedang menikmati pentas tarian kuda lumping yang dimainkan anak penyandang tunarungu dan tunagrahita.
Sementara itu, di halaman luar ratusan murid SD berseragam merah putih dan Pramuka berdiri berjajar di sepanjang jalan menuju sekolah dengan membawa bendera kecil. Mereka menunggu kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dijadwalkan akan hadir dalam upacara nanti.
Rinaldi Dorasman
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|