|
Bekasi
Korban Tabrak Kereta Itu Meregang Nyawa
Sabtu, 23 April 2005 | 17:17 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Akhirnya pria berbadan kurus yang tak memiliki identitas, korban terserempet kereta api (KA) Citra Jaya itupun tewas. Nasibnya sungguh ironis, ditemukan sekarat di di perlintasan pejalan kaki liar, di Kampung Buaran RT 1 RW 3, Kelurahan Karanji, Bekasi. Dia meregang nyawa selama 10 jam di IGD RSUD Kota Bekasi.
Pria berkulit cokelat itu terserempet kereta api pada Jumat (22/4) pukul 20.15 WIB dan meninggal Sabtu (23/4) pukul 07.30 WIB. Saksi mata, Nurdin, mengatakan, korban ditemukan tergeletak dengan kepala bersimbah darah. Kemudian, korban dilaporkan kepada petugas Polsek Barat yang tengah berpatroli di sekitar tempat kejadian perkara (TKP).
Petugas patroli yang saat itu menangani korban adalah Aiptu Suradi. Setelah diperiksa, dari tubuh korban tidak ditemukan identitas atau alamat apapun. Kemudian Suradi mengangkut tubuh korban yang menderita luka serius di bagian kepala ke RSUD Kota Bekasi.
Dari catatan pendaftaran di ruang IGD, korban masuk pukul 21.00 WIB. Kemudian korban mendapatkan perawatan pertama di ruangan yang pengab dan berbau anyir darah milik pemerintah itu. Selama mendapat perawatan, nafas korban tersengal-sengal. Pada Sabtu pukul 01.00 WIB,
dari hidung korban mulai mengeluarkan busa bercampur darah.
Meski nafasnya mulai jarang dan terkesan amat berat, pria bercelana jins itu dengan kepala terus yang merembes darah itu tetap di ruang IGD. Padahal, dokter perawat sudah menyatakan, sebenarnya korban menderita luka serius di bagian kepala. Korban tak juga dipindahkan ke ruangan ICU yang memiliki perawatan lebih lengkap dan maju.
Hasil pemeriksaan medis yang dicatat Tempo dari ruang IGD, korban menderita luka robek pada kepala bagian belakang, korban tidak sadar dan mengorok. Usia sekitar 20 tahun. "Perbedaan perawatan di IGD dengan ICU, kalau di ICU kan peralatan monitornya banyak," kata perawat kepada Tempo, di IGD yang tidak mau disebutkan namanya.
Akhirnya Sabtu pagi, pria malang itu tewas di atas ranjang karet dorong di IGD. Setelah itu, korban didorong ke kamar jenazah RSUD Kota Bekasi. Menurut Sri Wahyuni, penjaga kamar jenazah, sampai meninggal, identitas korban tak juga diketahui. "Dia meninggal di IGD, dia tidak ada identitas apapun," kata dia.
Menurut Sri, semestinya korban yang menderita luka serius itu mendapatkan pelayanan perawatan yang lebih baik. Mengingat hasil diagnosa yang dilakukan, ternyata bagian kepala menderita luka benturan berat. "Memang, karena tidak punya identitas itu juga mempengaruhi pelayanan," kata dia.
Dalam waktu empat hari sejak korban tewas tidak ada keluarga yang mengambil, kata Sri, pihak RSUD akan memakamkan korban secara massal di Tempat Pemakaman Umum Perwira, Kelurahan Perwira, Bekasi Utara. "Kalau tidak ada pihak keluarga yang mengenalinya, kita akan kuburkan nanti," kata dia.
Setelah korban tewas, Sri sudah memberitahkan ke kantor Polsek Barat. Maksudnya, agar pihak kepolisian segera mengurusnya identitasnya. "Kalau memang, korban mau di outopsi, segera diambil. tapi pihak polisi ternyata juga belum ketemukan identitasnya," Sri menjelaskan.
Pihak petugas Stasiun Kranji, hingga berita ini ditulis tidak dapat dihubungi. Sebelumnya, Tempo sudah menemui beberapa petugas piket stasiun. Ketika dimintai upaya yang dilakukan stasiun untuk mengurus korban yang tidak memiliki identitas dan akan dikubur massal, petugas tidak berani memberi komentar.
Meski membenarkan korban tewas karena disebabkan diserempet KA, menurut petugas, yang berhak memberikan penjelasan adalah kepala stasiun. Juru bicara stasiun Kranji, Dadan, tidak dapat ditemui karena tidak berada di tempat. "Pak Dadang sekarang lagi di Polres, lagi ngurus SIM," kata dia.
Kepala Unit Lalu Lintas Polsek Bekasi Barat, Inspektur Satu Suhadi mengatakan, korban tewas murni akibat kecelakaan setelah diserempet KA. Saat ditemukan oleh warga pertama kali, korban masih bernafas. "Dia bukan korban penganiayaan, tapi dia asli karena kecelakaan," tutur Suhadi.
Petugas kesulitan menemukan identitas korban. Warga sekitar TKP, kata Suhadi sudah dimintai keterangan, tetapi tidak ada yang mengenali korban. "Kita sudah kembangkan di TKP, pada saat kejadian, kan warga berkerumun, kita sudah Tanya, tapi tidak ada yang mengetahuinya," tutur dia.
Apa upaya yang akan dilakukan saat ini? Suhadi justru melimpahkan ke pihak RSUD. Alasannya, pihak kepolisian sudah berupaya mencari identitas, tapi tidak membuahkan hasil. "Kita sudah melakukan penanganan dan sudah menyerahkan ke pihak rumah sakit, sekarang ini tanggung jawab pihak rumah sakit," jelas dia.
Menurut Suhadi, Karena korban mengalami kecelakaan akibat lalu lintas KA, semestinya pihak PT KAI turun tangan memberikan bantuan kepada korban. "Sekarang ini, tidak ada yang tahu identitas korban, kalau saja dia punya identitas, tentunya mendapatkan pelayanan yang baik dari rumah sakit," kata Suhadi.
Menanggapi hal ini, Direktur RSUD Kota Bekasi, dr. Wirda Saleh mengaku belum mengaku belum mengetahui secara persis kasus pasien tak punya identitas itu. Dia meminta Tempo menemui dokter perawat. Namun, kata Wirda, ketika dokter belum memberikan perawatan lanjutan, kata Wirda, punya alasan yang kuat.
Mengenai prosedur untuk mendapatkan perawatan lanjutan di ruang transit ICU, Wirda menjelaskan, harus ada saksi atau pihak keluarga yang mengetahui dan mengijinkannya. "Kalau nanti memang pasien membutuhkan ICU. Siapa yang mengirimkan itu, siapa yang bertanggung jawab siapa dan mendapa persetujuan dokter IGD," kata dia.
Bukankah ada petugas polisi yang mengirimkan korban ke IGD? Wirda membenarkannya. Petugas polisi juga bisa menjadi pihak yang menandatangani persetujuan pasien mendapat pelayanan medis di ICU. "Tetapi mengenai pasien itu, dokter IGD yang mengetahui pertimbangannya," kata dia.
siswanto
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|