|
Tangerang
Proyek Mubazir di Muara Cituis
Selasa, 19 April 2005 | 00:22 WIB
TEMPO Interaktif, Tangerang:Pengerukan di sekitar Muara Kali Cituis di perkampungan nelayan Desa Suryabahari, Kecamatan Pakuhaji, dengan dana sekitar Rp 1,7 milyar dinilai tokoh masyarakat Cituis Raden Sobali, mubazir dan tidak ada manfaatnya bagi warga sekitarnya.
"Apanya yang dikeruk, lumpur masih memenuhi muara kali?" ujarnya.
Lumpur yang dimaksud pernah dikeruk dari dalam air diletakkan tidak jauh dari pinggir kali tanpa ada pembatas atau penyangga membuat lumpur tersebut kembali masuk ke dalam Kali sehingga muara kembali dangkal. Pada saat air surut, nelayan tidak bisa melalui kali ini, sehingga kapal nelayan harus ditarik bahkan karena pendangkalan itu, untuk melalui muara kali, puluhan
kapal nelayan terlihat sangat hati-hati. Mereka khawatir, lunas kapal akan mengenai lumpur dan membuat kipas mesin kapal menjadi rusak.
Di sekitar kanan kiri muara kali sudah dibangun semacam tanggul dengan panjang sekitar 100 meter menjorok ke arah laut. Namun di antara tanggul terlihat lumpur menyembul di beberapa tempat. Tanggul yang terbuat dari bahan material berupa batu kali besar merupakan proyek dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Tangerang berupa proyek Peningkatan Sarana dan Prasarana Pusat Pelelangan Ikan (PPI) Cituis dengan pelaksana proyek PT Hadi Jaya Utama Group.
Manfaat proyek ini seperti disebut dalam plang yang
terpampang guna memperlancar alur perahu dengan biaya
sebesar Rp 1.725.682.000 dengan masa pengerjaan selama 75 hari. Namun baru dua bulan dari penyelesaian proyek, Muara Cituis kembali dangkal. Menurut Raden Sobali karena, kanan kiri pantai di sekitar muara
tidak dibuat tanggul sejajar. Sementara proses membuang
lumpur yang disedot juga tidak jauh dari muara.
Padahal pinggiran laut di Cituis itu sebagian besar sudah terkena abrasi sehingga saat ombak besar datang, lumpur yang dibuang dekat muara itu kembali terbawa arus dan masuk lagi ke muara. "Apa ini bukan mubazir namanya.
Uang negara bermilyar-milyar tidak banyak manfaatnya buat nelayan disini?"kata Sobali.
Sobali berharap pemerintah membangun tanggul
pencegah abrasi. Karena jika tidak ada tanggul bukan tidak mungkin saat pasang atau badai, pemukiman
nelayan akan ikut hanyut. "Hujan badai seperti
akhir-akhir ini membuat banyak nelayan khawatir akan
keselamatan keluarganya,"ujar Sobali.
Joniansyah
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|