Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Tangerang

Ribuan Siswa Tak Mampu Tangerang Belum Terima Subsidi
Senin, 28 Maret 2005 | 09:14 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Sebanyak 30 persen dari 700 ribu siswa tingkat SD, SMP, SMU se Kabupaten Tangerang tergolong siswa tidak mampu. Ribuan siswa tidak mampu ini tersebar di wilayah Utara Kabupaten tangerang seperti, Kresek, Kronjo, Pasar Kemis, teluk naga, Sepatan dan Kosambi. Berdasarkan data dinas pendidikan setempat dari 30 persen siswa tidak mampu tersebut baru 10 persennya yang sudah tersentuh atau mendapat bantuan dari program pemerintah sebelumnya seperti jaring pengaman sosial (JPS). Selebihnya belum sama sekali.

Agung Basuki, penanggung jawab bantuan khusus murid (BKM) yang juga kepala seksi Kurikulum SD,SMP pada Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang mengatakan, jumlah siswa yang tidak mampu dari tingkat SD hingga SMA/K cukup tinggi. Pendataan tersebut berdasarkan standar kemiskinan seperti kemampuan orangtua, kondisi rumah, dan kesehatan. "Para siswa tidak mampu ini umumnya berada di desa tertinggal dan termasuk golongan keluarga pra sejahtera yang berada di kawasan pantau utara Kabupaten Tangerang," ujarnya kepada Tempo akhir pekan lalu.

Berdasarkan data yang ada, kata Agung, dari ribuan siswa yang tidak mampu tersebut baru 10 persennya yang telah mendapat bantuan program JPS. Untuk tingkat SD dari 129.176 siswa, baru 29.176 siswa yang mendapat bantuan JPS masing-masing sebesar Rp 10.000 per bulan dan dibayarkan setiap enam bulan sekali dengan total bantuan Rp 1,75 miliar lebih. Untuk tingkat SMP baru 6.840 siswa dari 35.000 siswa yang tidak mampu yang mendapat dana JPS dengan total bantuan Rp 820 juta. Untuk tingkat SMA/K baru 2.190 dari 13.000 siswa yang tidak mampu yang mendapat bantuan dengan total bantuan sebesar Rp 328 juta. Belum termasuk siswa MI yang diberikan kepada 3.476 siswa dengan total dana Rp 208,5 juta, MTS untuk 2.193 siswa dengan total bantuan Rp 263 juta, dan MA 263 siswa dengan total bantuan Rp 35,4 juta.

Karena masih banyaknya siswa tidak mampu yang belum mendapatkan bantuan dari program sebelumnya, melalaui program beasiswa kompensasi subsidi BBM kali ini, pemerintah setempat berharap jumlah penerima bantuan akan makin bertambah. "Kami berharap ada penambahan Kuota agar kompensasi BBM yang akan diturunkan kali ini bisa menutupi 20 persen yang belum tersentuh selama ini," kata Agung.

Hingga kini, kata Agung, pihaknya belum mengetaui secara pasti berapa siswa yang akan mendapat bantuan beasiswa tersebut. "Cuma masalahnya kita belum tahu berapa siswa yang akan mendapatkan bantuan tersebut karena sampai sekarang juklak maupun juknisnya belum ada," katanya.

Kepala Bagian Tata Usaha Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang Teteng Djumara mengatakan, prioritas siswa penerima bantuan lebih diutamakan kepada siswa tak mampu, yang berada di kawasan pantai utara. Menurutnya, kondisi perekonomian antara masyarakat diwilayah Utara Tangerang sangat jauh berbeda dengan masyarakat yang tinggal diwilayah Selatan, Barat Tangerang. "Secara kasat mata saja terlihat jika daerah Utara jauh tertingal dengan wilayah lainnya," katanya.

Dalam melakukan pendataan, kata Teteng, Dinas Pendidikan menunjuk langsung pihak sekolah. Cara ini sebenarnya memang belum menyentuh siswa yang baru mau masuk jenjang sekolah baru. "Tapi kita akan upayakan bekerjasama dengan Puskesmas karena instansi ini mempunyai data warga miskin," ujarnya.

Selain itu, Teteng juga berharap, warga yang tidak mampu yang ingin menyekolahkan anaknya tetapi belum terpantau dapat melaporkan ke kantor desa sehingga desa dapat memberikan rekomendasi sebagai keluarga tidak mampu, agar anak-anak tersebut bisa menikmati pendidikan.

joniansyah

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Jemuran pakaian para korban penggusuran di Tanjung Duren, Jakarta, Senin, 6 Oktober 2003. [TEMPO/ Santirta M; k19A/456/2003; 20031006]. Seorang anak kecil melepas dua ekor burung dengan latar sebuah apartemen di reruntuhan bangunan bekas penggusuran Tanjung Duren, Jakarta, 6 Oktober 2003. [TEMPO/ Santirta M; K19A/456/2004; 20040123].
Jemuran Pakaian Korban Penggusuran
Anak Kecil Melepas Burung Terbang
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Pemerintah Berniat Gratiskan Biaya Pengobatan
Depdiknas Masih Pikirkan Alokasi Dana Kompensasi BBM
Bekasi Masih Pakai Data Lama Penduduk Miskin
Bulog Siapkan 46.000 Ton Beras untuk NTT
Beras Hilang, Warga Serang Makan Nasi Aking
Jakpus Kesulitan Tentukan Keluarga Miskin
Pemerintah Akan Bagi Beras Gratis di NTT
Pendataan Keluarga Miskin Di Purwakarta Baru 40,47 Persen
Penerima Kartu Sehat di Solo Berkurang
Tangerang Butuh Lebih Banyak Kartu Kesehatan untuk Rakyat Miskin
> selengkapnya...


Referensi

Keppres RI No. 152 Tahun 1999 Tentang Badan Kesejahteraan Sosial Nasional
Keppres RI No. 144 Tahun 1999 Tentang Dewan Ekonomi Nasional
Kepres RI No.20 Thn. 2002 Tentang Pembentukan Tim Sistem Jaminan Sosial Nasional

Website

Departemen Keuangan
Departemen Pendidikan Nasional
Departemen Sosial


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< March,2005>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data