|
Jakarta
Hambatan Proyek Monorel Sulitnya Pencairan Dana
Kamis, 24 Maret 2005 | 14:22 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Direktur Operasional PT Jakarta Monorel Sukmawaty Sjukur mengatakan, hambatan utama pembangunan monorel di Jakarta adalah pencairan dana (financial closing).
Menurut dia, lembaga keuangan seperti bank umumnya menunutut adanya jaminan Pemerintah DKI terhadap proyek tersebut. Penjelasan Sukmawaty ini disampaikan dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi D DPRD DKI Jakarta, Kamis (24/3).
Dia menambahkan, sedangkan permasalahan yang paling ditakutkan oleh investor adalah masalah politik. Sukmawaty menyayangkan berbagai pemberitaan yang menyudutkan perusahaannya tidak memiliki dana.
Sukmawaty menjelaskan, saat ini sedang dilakukan review dan audit terhadap skema subsidi yang akan diberikan Pemerintah DKI. Selain itu, juga dilakukan review terhadap biaya produksi serta perbandingan nilai kontrak beberapa investor yang sudah masuk.
Investor itu antara lain, Hitachi, PT Bukaka Grup, serta investor dari Cina. Dia mengklaim, kehadiran Monorel dapat menyerap sekitar 10 ribu tenaga kerja selama masa konstruksi dan 4.000 orang selama operasi. “Ini tidak bisa diukur dengan uang,” kata dia.
Dia juga mengatakan, monorel dapat meningkatkan pendapatan Pemerintah DKI Jakarta sebesar US$ 100 juta per tahun jika sistem electronics road pricing Pendapatan diperkirakan juga akan bertambah Rp 300 miliar per tahun akibat kenaikan harga tanah di 27 stasiun monorel pertahun.
Sementara itu, nilai parkir di stasiun monorel diperkirakan menyumbang Rp 60 miliar per tahun.
Rencananya, proyek ini memiliki panjang 27,8 killometer. Terdiri dari dua jalur utama yakni green line sepanjang 14,3 kilometer dan blue line sepanjang 13,5 kilometer.
Pada tahap awal proyek ini berkapasitas penumpang mencapai 300 ribu per hari. Anggota Komisi D, Johny Wenas Pollii, mempertanyakan perhitungan biaya politik dalam penerapan sistem yang ditawarkan. Menurutnya, masalah penting justru memperhitungkan perilaku masyarakat.
PT Jakarta Monorel, kata dia, terlalu banyak membandingkan kondisi Indonesia dengan negara yang sudah maju. “Tidak fair kalau Jakarta dibandingkan dengan Singapura dan Jepang,” kata Johny.
Ewo Raswa-Tempo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
| |
|
|
|
|
 |
 |
| Megawati Soekarnoputri, Sutiyoso, dll
|
|
| Megawati Soekarnoputri dan Sutiyoso
|
|
|
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|