Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Jakarta

Harga Darah di RS Pemerintah Masih Mahal
Kamis, 17 Maret 2005 | 19:09 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Meski Palang Merah Indinesia (PMI) telah menetapkan harga darah dan pemrosesannya sebesar Rp 87.500 per kantong. Namun, pada beberapa rumah sakit, harga darah dipatok lebih tinggi.
Rumah sakit umum daerah yang nota bene milik pemerintah, juga memasang tarif mahal.

Harga darah di RS Umum Daerah Koja, Jakarta Utara, antara Rp 55-75 ribu per kantong. Rinciannya untuk pasien kelas yang menjalani rawat inap kelas 3 per kantong darah Rp 55 ribu. Sedang kelas VIP sebesar Rp 75 ribu. Sementara itu, pasien dengan kartu keluarga miskin dibebaskan dari biaya pembelian darah.

Kepala Seksi Pelayanan RS Koja yang sekaligus juru bicara rumahs akit dokter Caroline mengatakan, tarif darah ini berdasarkan kebijakan direktur. “Untuk pasien keluarga miskin dibebaskan dari biaya,” katanya, Kamis (17/3). Caroline menambahkan, rumah sakit terpaksa menetapkan tarif darah lantaran harus menanggung beberapa biaya lain seperti petugas pencocok darah dan pemakaian listrik untuk lemari penyimpanan darah.

Sementara itu, Rumah Sakit Islam harga perkantong darah dipatok di atas Rp 100 ribu per kantong. Juru bicara Rumah Sakit Islam Suyanto mengatakan, pembelian darah tidak untuk pemegang kartu Askes. “Mereka ini digratiskan. Bagi yang tidak punya kartu, membayar sekitar Rp 100 ribu,” ujarnya.

Tarif darah yang mahal di rumah sakit ini sudah disinyalir DPRD DKI. Anggota Dewan di komisi E, Syamsidar Siregar mengatakan, beberapa rumah sakit di Jakarta menjual darah jauh diatas harga yang diperbolehkan. “Bahkan ada yang mencapai Rp 800 ribu per kantong darah, “ ungkap Syamsidar kepada Tempo.

Menurut dia, pemrosesan darah oleh PMI membutuhkan biaya Rp 87.500 per kantong. Harga jual rumah sakit pemerintah dipatok Rp 41 ribu dan rumah sakit swasta sebesar Rp 123 ribu per kantong. Artinya, kata dia, ada subsidi bagi rumah sakit pemerintah. Subsidi itu dipungut dari anggaran belanja daerah, bulan dana PMI, serta dana masyarakat. Pada 2005 ini subsidi pembelian darah mencapai Rp 1,6 miliar.

Dian Yuliastuti/Ewo Raswa-Tempo


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

PMI Bekasi Siap Hadapi Lonjakan Permintaan Darah
PMI Serang Kekurangan Stok Darah
Hidayat Nur Wahid Himbau Masyarakat Donorkan Darah untuk Korban Tsunami
PMI Solo Berangkatkan 25 Relawan ke Aceh
PMI Bangun Rumah Sakit Lapangan di Meulaboh
PMI Solo Siap Berangkatkan Bantuan Tenaga Medis ke Aceh
PMI Bekasi Temukan Darah Terinfeksi HIV
Stok Darah PMI Bekasi Kosong
Enam Pendonor Darah Terinfeksi HIV
PMI Tangerang Temukan Kantong Darah Mengandung HIV
> selengkapnya...


Referensi

Demam Berdarah

Website

Palang Merah Indonesia


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< March,2005>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data