|
Bekasi
Lahan Beralih Fungsi, Banjir Terus Ancam Bekasi
Rabu, 09 Maret 2005 | 16:21 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Banjir diperkirakan terus mengancam kawasan Bekasi. Pasalnya, lahan-lahan terbuka hijau di wilayah itu banyak yang berubah berfungsi jadi perumahan dan pusat industri.
Asisten Teknik Pengawasan Wilayah Sungai Ciliwung (PWSC), Sudady, mengatakan, pembangunan sarana pemerintahan daerah dan perkembangan kota memaksa terjadinya perubahan dahsyat di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) yang melintasi Bekasi.
Di kiri-kanan sungai Cikeas dan Kali Bekasi, misalnya, selama sepuluh tahun terakhir mulai bermunculan tempat industri dan perumahan. Padahal, kata Sudady, sebagian lahan itu sebenarnya berstatus tanah irigasi. "Perubahannya sangat cepat," kata Sudady, Rabu (9/2).
Menurut Sudady, alih fungsi lahan di Bekasi banyak dilakukan tanpa memperhitungkan fungsi semula. Dampaknya, daerah resapan air berkurang. "Karena sistem drainase kota buruk, ketika banjir bandang datang, Bekasi pun kelelep."
Banjir awal Maret ini melanda belasan perumahan di 17 kelurahan di tujuh kecamatan di Kota Bekasi. Ketinggian air rata-rata mencapai satu meter sampai dua meter. Luapan air berlumpur mencapai radius setengah sampai satu kilometer dari Sungai Cikeas dan Kali Bekasi. Air lumpur ini, menurut Sudady, jadi pertanda bahwa di daerah hulu sungai terjadi pembukaan lahan besar-besaran.
Banjir bandang terjadi karena jebolnya sejumlah tanggul penahan air. Yang jebol adalah tanggul sepanjang 200 meter di Kelurahan Jatirasa, Kecamatan Jatiasih, tiga titik tanggul berukuran 3-5 meter di Kelurahan Bojong Rawalumbu, Kecamatan Rawalumbu, dan tanggul sepanjang 15 meter di Kelurahan Kota Baru, Bekasi Barat.
Kerugian pemerintah ditaksir mencapai Rp 30 miliar. Catatan pemerintah Bekasi, ada 7.099 keluarga yang terkena dampak banjir. Tapi, kerugian yang ditanggung warga sejauh ini belum terdata.
Siswanto-Tempo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|