|
Tangerang
Hrga BBM Naik, Nelayan Semakin Sengsara
Rabu, 02 Maret 2005 | 22:17 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Nelayan di kawasan pantai utara Kabupaten Tangerang mengaku kaget dan tidak tahu bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) sudah naik. Menurut mereka, kenaikan BBM tersebut semakin menyengsarakan hidup mereka yang selama ini hidup di bawah garis kemiskinan.
Sukatna, 50 tahun, warga perkampungan nelayan Giri Baru Dadap, Desa Dadap, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang mengaku baru tahu BBM naik ketika dia hendak kembali mengisi bahan bakar perahu 20 PK yang merupakan barang sewaan. Dia kaget karena harus mengeluarkan uang hampir dua kali lipat dari nilai sebelumnya untuk 10 liter solar. "Kapan naiknya? Kenapa dinaikkan, sih? Kok naik lagi, ya?" katanya saat ditemui Rabu (2/3).
Menurut Sukatna dan sejumlah nelayan lainnya, kenaikan BBM yang disertai kenaikan bahan-bahan pokok lainnya semakin mencekik mereka. Menurut Sukatna, sebelum kenaikan BBM, hampir setiap hari dia harus berutang ke pemilik perahu karena hasil tangkapannya tidak sesuai dengan ongkos melaut.
Sukatna menuturkan, untuk sekali pemberangkatan, dibutuhkan sekitar Rp 100 ribu untuk pembelian bahan bakar dan makanan. Bahan bakar yang dimaksud Sukatna bukanlah solar murni tetapi sudah oplosan. Untuk perahu kapasitas 20 PK seperti yang disewanya, perbandingannya 15 liter minyak tanah untuk 10 liter solar. "Kalau tidak dioplos kami pasti tidak bisa melaut," katanya.
Setelah itu, hasil tangkapan kemudian dijual. Perolehan kemudian dikurangi ongkos melaut. Sisanya baru dibagi lima, masing-masing untuk pemilik perahu, pemilik mesin dan tiga awak nelayan yang berada dalam satu perahu. "Kalau hanya dapat Rp 50 ribu seperti hari ini, jangankan untuk makan, untuk ongkos saja tidak cukup," katanya.
Hal yang sama juga diakui Sarwadi, nelayan lainnya. Menurutnya, pendapatan nelayan di sana akhir-akhir ini makin menurun. "Banyak perahu teman-teman yang bersandar karena hasilnya tidak lagi bagus," ujarnya. Agar terus bisa melaut Sarwadi dan sejumlah nelayan lain biasanya berutang ke pemilik perahu seperti solar dan uang makan.
Kompensasi kenaikan harga BBM belum menyentuh masyarakat tak mampu seperti para nelayan itu. Kurangnya perhatian pemerintah juga dirasakan Muhdi. Warga yang tinggal di perkampungan nelayan pantai Dadap ini mengaku belum pernah merasakan dana kompensasi.
"Kalau untuk anak sekolah, buktinya anak saya yang di SMP dan SD masih harus bayar uang ini dan itu. Kalau katanya ada beras murah, istri saya beli beras mahal di pasar. Kalau katanya untuk Puskesmas, ah tahu sendiri pelayanannya," kata Muhdi.
Joniansyah
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|