Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Tangerang

Pedagang Bensin Eceran Panik Jual BBM
Selasa, 01 Maret 2005 | 17:49 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pasca kenaikan BBM yang diumumkan secara resmi Senin tengah malam, masyarakat Kota Tangerang di kawasan Cipondoh mulai panik. Terutama para pedagang bensin eceran. Mereka terpaksa menjual bensin per liter Rp 3.000 dari harga di SPBU Rp 2.400, setelah mengalami kenaikan secara resmi dari semula Rp 1.810 per liter.

Dalam pantauan Tempo para pedagang eceran rela mengantri di sejumlah SPBU, dua diantaranya di SPBU di jalan Hasyim Ashari, Cipondoh. Didi, penjual bensin eceran di Cipete rela bolak-balik beberapa kali untuk mengangkut bensin yang dibelinya dalam kemasan jerigen berisi 20 liter. Ia menggunakan sepeda kayuh untuk mengusung bensin
dari SPBU ke rumahnya.

"Kalau BBM sudah dinaikan begini, ya saya harus menjualnya Rp 3.000 per liter," katanya. Didi dan puluhan para pedagang bensin eceran ini sejak Senin sore sudah mulai mengantri di SPBU guna mendapatkan bensin. Antrian pembeli BBM mengalami dua kali lipat dari hari-hari biasa.

Tak hanya Didi, pedagang bensin eceran lainnya Syamsul juga memborong bensin untuk dijual lagi. Supaya tidak diketahui petugas ia mengutus saudaranya untuk beberapa kali pergi ke pom bensin.

Sementara itu angkutan kota yang beroperasi jurusan Ciledug- Cikokol hingga Selasa (1/2) belum menaikkan tarif. Untuk jarak dekat penumpang masih dikenakan Rp 700. Sedangkan untuk jarak jauh Rp 1.200 dari Cipondoh sampai Cikokol.

Menurut sejumlah sopir angkot yang beroperasi di Ciledug, teman-temannya berencana menggelar aksi demonstrasi nanti setelah satu bulan kenaikan BBM. "Sekarang sih belum demo, tapi kalau sudah sebulan biasanya sopir mulai menyikapi karena merasa berat membayar spare part, dan setoran juga kemungkinan naik," kata Harahap.

Ayu Cipta-Tempo


Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Nelayan tradisional Muara Angke membeli solar di pompa bensin/ SPBU 34-0134, Jakarta, 22 Mei 2001. [TEMPO/ Awaluddin R.; 32D/346/2001; 20010621]. Protes Forkot (forum kota) menolak kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak), telepon dan listrik dengan spanduk
Pompa Bensin
Protes Menolak Kenaikan BBM
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Angkutan Umum Mogok, Pelajar Cirebon Terlantar
Sultan HB X: Penggunaan Dana Kompensasi Pengurangan Subsidi BBM Jangan Seperti Dulu
Pendidikan Dapat Tambahan Rp 4,2 Triliun Dana PKPS-BBM
Presiden Akan Memantau Situasi Pasca-Kenaikan BBM
Harga Minyak Tanah di Surabaya Naik 50 Persen
Tarif Angkutan Naik 7-10 Persen
Jelang Kenaikan Harga Permintaan BBM Melonjak
Pemerintah Siap Jawab Hak Angket DPR
Sopir Angkot Kupang Mogok
Pelajar di Palembang Keluhkan Kenaikan Tarif Angkot
> selengkapnya...


Website

Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral
Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC)
PT Pertamina


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Lawan Georgia, Italia tanpa Gattuso
KPU Tak Risau Aksi Massa Gus Dur
Dibantu Lemak Badan, Seorang Pria Terhindar dari Maut
Citarasa Kolak Campursari
PKB Surakarta Belum Kerahkan Massa ke KPU

<< March,2005>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data