|
Jakarta
BMG Tidak Dapat Meramal Terjadinya Hujan Es
Selasa, 01 Pebruari 2005 | 18:25 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Selasa (1/2) sore, terjadi hujan es di daerah Jakarta Timur. Hujan es seperti ini ternyata tidak dapat diramalkan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG). "Sangat sulit diprediksi kecuali kita melihat langsung bentuk awannya," kata Kepala Sub bidang Ramalan dan Jasa Meteorologi BMG, Achmad Zakir.
Zakir menggambarkan, bentuk awan yang memiliki indikasi terjadi hujan deras atau hujan es disertai angin adalah awan yang berbentuk seperti sayur kol, tebal dan berlapis. "Namanya awan cumulu nimbus," tambahnya.
Zakir menjelaskan, awan tersebut memliki tebal lebih dari 8 kilometer dengan dasar awan 300 meter. Ketebalan awan ini, menurutnya, diukur radar hujan. "Dasar awan itu adalah ketinggian awan dari permukaan bumi," kata Zakir.
Adanya awan tebal tersebut, menurut Zakir, menyebabkan satu atau dua hari sebelum hujan, hawa di permukaan terasa gerah dan terik. "Sebagian panas matahari diserap bumi, sebagian lagi dipantulkan. Tapi karena terhalang awan tebal, panasnya tidak bisa kemana-mana sehingga terasa gerah," jelas Zakir.
Hujan es yang disertai angin, menurut Zakir, tidak tampak dalam satelit dan radar hujan. Hal tersebut menyebabkan tidak ada satu pun negara yang memiliki badan peramalan hujan es disertai angin puting beliung.
Zakir menambahkan, hujan yang berupa es dan disertai puting beliung bersifat lokal dan tidak masuk ke dalam sirkulasi global. "Durasinya juga hanya sebentar, tidak lebih dari satu jam," ujarnya.
Zakir yang membenarkan informasi terjadinya hujan di Jakarta timur itu, meminta masyarakat tidak khawatir karena hujan tersebut tidak membahayakan. "Cuma sebesar jagung. Kalau pun kecepatan jatuhnya tinggi, paling hanya akan merusak atap plastik," katanya. Kecepatan jatuh butir jagung tersebut, menurutnya, sangat bergantung pada ukuran es itu sendiri.
Guru besar Meteorologi dari Fakultas Ilmu Kebumian dan Mineral, ITB, Bayong Tyasyono, menjelaskan, hujan es terjadi pada awan dingin dengan suhu kurang dari -10C pada ketinggian yang cukup tinggi dari permukaan bumi. Pada ketinggian tersebut, suhu udara akan semakin rendah. "Dasar awannya memang tidak begitu tinggi, tapi puncak atau ketebalannya bisa mencapai lebih dari 17 kilometer," jelasnya.
Pada suhu itu, menurut Bayong, kristal es dan Air Kelewat Dingin bercampur. Akibatnya, tetes Air Kelewat Dingin tersebut berdifusi atau menguap ke kristal es, sehingga kristal es semakin besar.
Karena sudah cukup besar, kristal yang berdiameter 3-5 centimeter tersebut akan jatuh ke permukaan bumi karena gaya gravitasi lebih besar daripada arus udara ke atas. Selama jatuh, kristal itu akan menguap. "Sehingga yang sampai ke permukaan sudah cukup kecil dan tidak membahayakan," kata Bayong. Butiran batu es yang jatuh ke bumi itu diberi nama hail stone.
Menurut Bayong, hujan es tidak dapat diramalkan secara pasti. "Kita paling hanya bisa melihat bentuk awannya saja," kata Bayong.
Suliyanti
INDEKS BERITA LAINNYA :
|