|
Metro
Meski Ditentang, Biksu Tertinggi Abe Niken Tetap Didatangkan
Rabu, 19 Januari 2005 | 22:58 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pengurus Yayasan Pandita Sabda Budha Dharma Indonesia tetap akan mendatangkan biksu tertinggi agama Budha aliran Niciren Syosyu, Abe Niken meski sebelumnya mendapat protes dari sekelompok orang.
"Semua kelengkapan dan ijin dari pemerintah sudah diperoleh," kata Ketua Badan Pengurus Yayasan Pandita Sabda Budha Dharma Indonesia Aiko Seno Soenoto, Rabu (19/1).
Kehadiran biksu tertinggi sekte Niciren Syousu, kata Aiko dalam rangka acara ruwatan kemanusiaan dan doa untuk korban tsunami Aceh yang diselenggarakan oleh Yayasan Pandita Sabda Budha, 27 Januari mendatang. Sebelumnya menurut Aiko, rencana kedatangan biksu tertinggi itu untuk acara peresmian kuil Hosei-Ji, kuil khusus aliran Niciren Syousu di Jalan Padang Manggarai Jakarta Pusat.
"Namun karena kondisi bangsa Indonesia sedang terkena musibah semacam ini, permintaan biksu tertinggi sendiri akhirnya acara peresmian ditunda, dan diganti dengan ruwatan," ujar Aiko. Menanggapi kemungkinan aksi teror oleh sekelompok orang yang tidak menginginkan kehadiran biksu tertinggi, Aiko mengaku telah mempersiapkan pengamanan dan meminta bantuan pengamanan dari aparat.
Dijadwalkan Abe Niken akan berada di Indonesia selama tiga hari, mulai 26 Januari dan mengikuti acara ruwatan kemanusiaan dan pemberian bantuan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk korban Aceh. Aiko sendiri menjelaskan penolakan kedatangan biksu tertinggi Abe Niken, didalangi sekelompok umat Budha aliran Soka Gakkai. Aliran ini, kata Aiko, sebelumnya merupakan bagian umat aliran Niciren Syousu. Namun karena dinilai keluar dari akidah Budha Niciren Syousu, kelompok ini dikeluarkan.
Saat ini, kata Aiko, kelompok ini terus menghalangi kegiatan biksu tertinggi. "Setiap kegiatan biksu tertinggi ke luar negeri selalu dihalang-halangi," katanya. Menurutnya, motif aksi seperti ini juga tidak diketahui. Untuk menghalangi kehadiran biksu tertinggi ke Indonesia, kelompok Soka Gakkai juga menggulirkan isu cabul dan pertentangan dengan agama Islam.
Isu itu sendiri menurut Aiko tidak diketahui dasarnya. Isu itu dikembangkan gara-gara biksu aliran ini menghalalkan untuk menikah. "Kami sendiri beralasan, biksu memang harus menikah. Kalau tidak menikah bagaimana memahami umatnya yang menikah," katanya.
Sedangkan isu yang berkaitan dengan pertentangan dengan agama Islam, menurut Aiko, digulirkan kelompok Soka Gakkai dengan mengutip pidato atau ceramah kelas pendeta tertinggi tentang sejarah umat Budha, dimana biksu tertinggi pernah menceritakan riwayat tentang pembantaian umat Budha saat Islam masuk. "Tapi ini kan, cerita sejarah," katanya.
Ramidi-Tempo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|