|
Metro
Perhitungan Susut PLN Tidak Transparan
Selasa, 18 Januari 2005 | 10:28 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Perhitungan baru susut (losses) yang dilakukan PT PLN Unit Bisnis Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang dinilai tidak transparan. Perusahaan listrik milik negara itu tidak dapat menjelaskan secara terbuka mengenai penggunaan rumus baru perhitungan susut.
Hal tersebut dikatakan pengamat kelistrikan Dr Muhammad Tasrif. Dia menilai, dengan menggunakan perhitungan lama, susut PLN masih tinggi. Sedangkan dengan perhitungan baru, persentase energi listrik yang terbuang menjadi lebih kecil. "Komponen perhitungan rumus baru tidak bisa dijelaskan oleh PLN, bahkan membingungkan," ujar pengajar pada Departemen Elektronika Institut Teknologi Bandung (ITB) kepada Tempo, Senin (17/1).
Seperti diberitakan Tempo, PLN Distribusi Jakarta dan Tangerang diduga telah melakukan manipulasi penurunan angka susut. Manipulasi dilakukan dengan cara menggelembungkan energi listrik pemakaian sendiri hingga 12 kali lipat atau 3 atau 3,47 persen. Pemakaian sendiri merupakan energi yang digunakan untuk menerangi peralatan dan gardu listrik. Penggunaan listrik pemakaian sendiri sebenarnya tidak lebih dari 0,1 persen dari total energi yang dijual.
Susut merupakan kerugian energi akibat masalah teknis dan nonteknis. Masalah teknis disebabkan oleh kualitas daya hantar listrik. Semakin bagus kualitas daya hantarnya, semakin rendah susut yang terjadi. Sedangkan susut nonteknis diakibatkan oleh kesalahan pencatatan, pemasukan data, dan lainnya. Jika terjadi penurunan susut, hal itu akan berdampak pada peningkatan pendapatan penjualan energi listrik.
Pekan lalu, dalam pertemuan antara PLN dan Pengawas Independen Pemantau Tarif Dasar Listrik, Tasrif mempertanyakan penggunaan rumus baru susut kepada manajemen perusahaan listrik milik pemerintah itu. "Tapi PLN tidak bisa menjelaskan secara transparan mengapa mengganti rumus susut," ujarnya.
Selain itu, kata dia, pemerintah juga tidak mengetahui adanya perubahan perhitungan susut tersebut. Tasrif menambahkan, perubahan perhitungan susut harus ada kesepakatan dari pemerintah. "Pemerintah malah tidak tahu."
Penurunan susut, kata Tasrif, dapat dilihat dari energi yang dibangkitkan dan dijual. "Jika energi yang dibangkitkan 150 dan dijual 100, selisihnya sebesar 50 adalah susut. Kalau susut turun seharusnya energi yang dibangkitkan juga turun," ujarnya. Selain itu, biaya produksi akan turun dan pendapatan akan meningkat. Berdasarkan rencana kerja dan anggaran perusahaan 2004 PLN mentargetkan pendapatan penjualan listrik sebesar Rp 57,5 triliun. Sedangkan realisasinya diperkirakan hanya Rp 57,6 triliun.
Sebelumnya, Manajer Distribusi PLN Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang Moch. Sulastyo mengatakan, penurunan susut dikarenakan adanya perbaikan pencatatan meter dan menurunnya pencurian listrik. "Pencurian listrik berkurang hingga Rp 92 miliar (0,007 persen dari total pendapatan Rp 1 triliun per bulan) pada 2004," ujarnya.
Dia membantah adanya manipulasi perhitungan susut khususnya pada energi pemakaian sendiri hingga 12 kali lipat. "Itu tidak benar," katanya. Sulastyo menyatakan, angka pemakaian sendiri di wilayah Jakarta dan Tangerang mencapai 2,5 persen. "Angka itu masih normal."
Saat ini, kata Sulastyo, pihaknya sedang mengupayakan penurunan energi pemakaian sendiri dari 2,5 persen. "Tapi penurunannya tidak sedrastis yang diharapkan orang," ujarnya. Dia menjelaskan, untuk menurunkan susut idealnya setiap lima kilometer ada gardu induk. "Faktanya setiap 20 kilometer baru ada gardu induk."
Bahkan energi listrik yang dialirkan dari penyulang ke gardu induk berjarak enam kilometer. "Idealnya satu kilometer dari penyulang ke gardu," kata Sulastyo.
Ali Nur Yasin?Tempo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|