Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Jakarta

Supiah Bertahan Tunggu Uang Kerohiman
Minggu, 16 Januari 2005 | 14:00 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Supiah, perempuan 70 tahun, sedang bercakap-cakap dengan seorang tentangganya ketika Tempo menghampiri, Minggu siang (16/1). Nenek tua berbibir kemerahan bekas sirih itu tampak kuyu dengan rambutnya yang kusut masai, walaupun telah dikonde. Sorot matanya bersahaja.

Supiah yang asli Madura itu merupakan satu-satunya warga yang bertahan di lokasi pembongkaran di daerah Bongkaran, Tanah Abang. Beberapa waktu lalu Pemda menggusur gubuk-gubuk liar yang menempati lahan milik PT. KAI. Para penghuni telah mendapat uang pengganti atau uang kerohiman Rp 500 ribu per kepala keluarga.

Supiah bersama tiga warga lainnya, masih bertahan karena mereka belum mendapat uang kerohiman. "Saya akan tetap bertahan hingga mendapat keadilan," ujar dia kepada Tempo, Minggu (16/1).

Utra, 49 tahun, yang sedang bercakap-cakap dengan Supiah sebelumnya, juga mengaku belum mendapat uang kerohiman tersebut. "Sedangkan gubuk saya sudah dibongkar. Emak tetap bertahan karena dia yang paling lama di sini," kata dia. Supiah mengaku telah tinggal di sana dari 1998, pasca tragedi Mei.

Utra menjelaskan memang ada 23 buah gubuk terakhir yang akan dibongkar Pemda. Namun, hanya 19 buah yang dianggarkan memperoleh ganti rugi. "Jadi kami belum mendapat uang kerohiman tersebut," kata dia yang juga menyesali tindakan Pemda tidak akurat mendata jumlah gubuk yang tersisa.

Sehari-harinya, ibu dari 3 orang putra itu berjualan rokok dan minuman botol di gubuk seluas 2x4 meter persegi miliknya. Ditemani putra angkatnya, Agus, 30 tahun, Supiah akan bertahan hingga uang kerohiman yang dijanjikan itu turun. "Uang itu nantinya akan saya gunakan untuk mengontrak rumah dan jualan," tuturnya.

"Jika Mayor Fadli masih ada, mungkin keadaannya tidak seperti ini," keluhnya. Ia lalu menjelaskan Mayor Fadli adalah salah satu putranya yang telah meninggal karena sakit. "Ia yang mengurus daerah dan orang-orang di sini," tambah Utra.

Nenek yang bertutur santun ini berulang-ulang mengucapkan syukur karena hujan tidak jadi turun. Ketika kami berbincang-bincang, hujan memang sempat turun meski hanya sebentar. "Maklum, emak udah rada-rada pikun," kata Utra menjelaskan kondisi Supiah.

Supiah sebenarnya sangat ingin kembali ke daerah asalnya di Madura, karena masih banyak saudaranya di sana. "Tapi ongkos kesana kan mahal, Nak. Bisa sampai jutaan," ujar Supiah yang mengaku pernah naik pesawat terbang ketika mengantarkan putra jenazahnya untuk dikebumikan di Madura. "Buat makan sehari-hari saja sudah susah," kata dia.

Gubuk miliknya memang satu-satunya yang masih bertahan di daerah yang sekarang hanya ada tumpukan sampah kantong plastik dan puing-puing. Karena itu sangat mudah untuk dikenali, sehingga berulang-ulang dua orang petugas Polisi Pamong Praja dan Tramtib Linmas yang sedang bertugas, bolak balik mengawasi kami ketika sedang bercakap-cakap.

Iskandar, seorang petugas Polisi Pamong Praja yang sedang bertugas mengatakan belakangan ini situasi cukup aman. Pasalnya ketika pembongkaran berlangsung beberapa waktu lalu, situasi sempat memanas antara warga dan petugas. "Kami belum tahu akan bertugas sampai kapan, karena belum ada instruksi lebih lanjut," kata dia yang mengaku bertugas dari pukul 08.00 WIB pagi hari ini hingga waktu yang sama keesokan harinya.

Daerah tersebut kini dijaga lebih dari 50 orang petugas Polisi Pamong Praja dan Tramtib Linmas gabungan dari Walikotamadya Jakarta Pusat dan Kecamatan, setiap harinya. Pagar seng juga tampak membatasi daerah tersebut dari rel kereta api. "Agar warga tidak bisa mendirikan gubuk-gubuk lagi," katanya menjelaskan.

Supiah akan tetap menuntut uang kerohiman itu hingga batas waktu Senin (17/1) sore besok.

Percakapan berakhir karena nenek yang telah menderita sakit di kedua lututnya itu minta diantarkan Agus untuk buang air di toilet umum yang tak jauh dari gubuknya.

Ami Afriatni

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Tempat parkir sementara sepeda motor operasional Tramtib/ Satpol di Balai Kota DKI Jaya, Jakarta,  23 April 2001 [Koran TEMPO/ Roy Rubianto; K1A/234/2001; 20010516]. Pembongkaran (penggusuran) vila di kawasan Puncak dengan alat berat (buldoser), Jawa Barat. [TEMPO/ Bodi CH; R2A/086/97; 20010227].
Penggusuran Vila
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Kawasan Bongkaran Dibongkar
Ratusan PKL Ditertibkan
PD Pasar Jaya Akan ‘Tabrak’ Sita Jaminan PN Jakarta Pusat
Proyek Taman Ismail Marzuki Dihentikan DPRD
Pejabat Kotamadya Jakarta Selatan Diintimidasi LSM
DPRD Bekasi Panggil Dinas Kebersihan DKI Jakarta
Gubenur Sutiyoso Tetap Gelar Tahun Baruan di Ancol
Forum Masyarakat Kemang Gelar Tahun Baru Ala Betawi
Kasus Korupsi Tukar Guling SMPN 56 Masuk Kejaksaan Agung
Pagi ini Rumah Liar Bongkaran Akan Dibongkar
> selengkapnya...


Referensi

Konflik Sampah, Lemahnya Manajemen Persampahan
Kompos, Salah Satu Jalan Keluar Problem Sampah
Reusable Sanitary Landfill, alternatif pengolahan sampah Jakarta
UU RI No.25 Thn.1999 Tentang Pertimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah
UU RI No. 34 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Propinsi Daerah Khusus Ibukota Negara RI Jakarta
PP RI No.63 Thn 2002 Tentang Hutan Kota
> selengkapnya...

Website

Kepolisian Negara Republik Indonesia
Situs Transjakarta-Busway
PT Kereta Api Indonesia
Info Jakarta
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< January,2005>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data