|
Metro
Khawatir Nasib Keluarga, Membludak Penumpang Bus Jurusan Medan-Aceh
Kamis, 30 Desember 2004 | 13:00 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sejak peristiwa gempa bumi dan tsunami di Aceh Minggu (26/12) lalu, bus-bus antar kota antar provinsi jurusan Medan dan Aceh dijejali ratusan penumpang. Mereka adalah keluarga dan handai tolan asal Aceh yang ingin mengetahui keberadaan dan nasib keluarga mereka.
“Sejak kejadian penuh terus,” kata Saragih, 39 tahun, karyawan Perusahaan Otobus (PO) PMTOH di Rawamangun, Jakarta Timur, kepada Tempo, Kamis (30/12). Di terminal Rawamangun, memang terdapat banyak bus yang melayani perjalanan ke segenap wilayah Sumatera.
“Mereka yang belum tahu jelas kepastian nasib keluarganya pada pulang,” tutur Saragih yang mengaku sejak kejadian dua bus PMTOH dengan kapasitas 35 penumpang penuh dengan penumpang tujuan Medan dan Aceh.
“Hari ini juga penuh. Bus berangkat siang ini, kebanyakan sudah pesan dan panjar kemarin,” lanjut Saragih. Menurutnya, kejadian gempa dan tsunami kemarin membuat angkutan darat dipadati penumpang, karena pada hari-hari biasa penumpang lebih memilih angkutan udara. Setiap harinya, tidak lebih dari 10 orang penumpang berangkat ke Aceh.
Sama dengan PO. PMTOH dua armada lain, PO. Kurnia dan PO. Pelangi juga telah menjual habis tiket jurusan Aceh dan Medan, sejak 28, 29, dan 30 Desember.
Doni, 28 tahun, dengan wajah muram dan tampak tergesa-gesa tanpa banyak membawa bekal berlari menuju bus yang akan berangkat ke Aceh. Ia adalah satu dari beribu orang yang ingin segera kembali ke Aceh. “Saya lihat ditelevisi ada di-shoot rumah-rumah di depan Masjid Baiturrahman (desa asal Doni) sudah habis berantakan. Saya menduga keluarga dan handai tolan ikut jadi korban,” kata Doni.
“Saya tidak tenang, saya coba hubungi berulang-ulang tapi tidak bisa. Saya benar-benar berharap keluarga saya tidak ada yang jadi korban,” kata dia.
Lain dengan Ismiyanto, 31 tahun, pria asal Banda Aceh ini, mendengar kabar bahwa keluarganya ada yang menjadi korban sehingga dirinya bergegas pulang ke Aceh untuk mengikuti pemakaman keluarganya.
Wak Don, 36 tahun, sopir PMTOH, mengatakan perjalanan dari Jakarta ke Aceh atau Medan, bisa ditempuh 3-4 hari. Namun dirinya menyangsikan, apakah situasi angkutan memungkinkan perjalanan mereka akan lancar. “Saya tanya kemarin tidak semua mobil bisa sampai ke Banda Aceh, mungkin jalan-jalan banyak yang rusak, lalu BBM juga nggak ada. Jadi kalau masuk ke sana kami bawa BBM sendiri dari Medan biar bisa jalan lagi,” kata Wak Don, pria bertubuh tambun ini.
“Kami usahakan bisa masuk (Aceh). Kasihan juga mereka banyak handai tolan, tunggal mamak, bapak, jadi korban,” tambahnya.
Agus Supriyanto-Tempo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
| |
|
|
|
| Maumere Setelah Badai Tsunami
|
|
|
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|