|
Jakarta
PT KAI Gunduli Penumpang di atas Atap KA
Senin, 27 Desember 2004 | 20:17 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Jangan heran kalau awal Januari 2005 anda akan banyak melihat orang berkepala plontos di stasiun-stasiun kereta api. Karena PT Kereta Api mulai Januari 2005 akan menindak tegas penumpang yang naik diatas atap, melalui operasi gabungan yang melibatkan Brimob, Karyawan PT KA dan Security Service (SS). "PT KA juga akan mengenakan sanksi bagi penumpang yang membandel," ujar Humas Daop I Akhmad Sujadi melaui siaran persnya, Senin (27/12).
Operasi itu akan dilancarkan mulai dari stasiun Depok, Manggarai, Gondangdia, Tebet, Juanda dan Durenkalibata. Menurut Akhmad, operasi ini akan berbeda dengan operasi yang pernah dilancarkan. Mereka akan mendata nama dan alamat, pekerjaan pelakunya sehingga mudah diindentifikasi. "Sehingga suatu saat kita bisa menjalin kerjasama dengan RT RW untuk melakukan pembinaan," katanya.
Selain melakukan pendataan, Tim operasi juga akan menggunduli setiap penumpang yang naik diatas atap. "Digunduli tidak oleh tukang cukur profesional, sehingga dijamin hasilnya tidak rata,"kata Akhmad. Menurutnya, penertiban penumpang itu merupakan tekad jajaran Perhubungan dalam rangka menyelenggarakan transportasi yang KA yang aman. Selain membahayakan mereka, penumpang di atas kereta juga membebani awak kereta api. "Para masinis juga was-was dengan kondisi itu," ujarnya.
Alasan mereka naik diatas atap biasanya karena kereta penuh. Setelah dilakukan penelitian tim internal PT KA memang tidak salah terjadi kepadatan penumpang pada hari kerja pagi dan sore. Berdasarkan data koridor Bogor -Jakarta merupakan yang terpadat. Oleh karena itu mulai Senin ini divisi Jabotabek melakukan uji ccoba penambahan 1 set kereta rel listrik ekonomi jurusan Jakarta -Bogor berangkat pukul 06.50 wib. "Tambahan ini diharapkan dapat menampung penumpang yang berada di atas atap, mulai 3 Januari mendatang" katanya.
Faktor penumpang di atas atap untuk koridor KA Patas Purwakarta- Jakarta justru karena keengganan penumpang berdesakan. Padahal di bagian dalam kereta ternyata kosong dan cukup menampung penumpang yang berada di atap.
Menurut Akmad mengatasi penumpang di atas atap bukan persoalan mudah. Pihak PT KA juga telah melakukan berbagai upaya seperti dengan menyemprotkan cairan berwarna, memodifikasi atap kereta, melumasi kereta , pemasangan kawat berduri dan operasi yustisi. Upyaa ini dinilai hanya berlaku sementara, karena tidak bisa dilakukan terus menerus karena perlu biaya yang besar.
Ramidi
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|