|
Jakarta
Pengamat Astronomi: Meteor Sporadik Meledak di Angkasa Jabodetabek
Minggu, 19 Desember 2004 | 11:55 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Menanggapi laporan beberapa saksi mata penduduk di daerah Jabodetabek mengenai melintas dan meledaknya beberapa benda mistrius di angkasa, pengamat Astronomi Moedji Rahart memastikannya sebagai Meteor Sporadik. Yakni pecahan meteor yang kebetulan berpapasan dengan Bumi. "Itu Meteor Sporadik, bukann hujan meteor" kata Moedji kepada Tempo, Minggu (19/12).
Dikatakan Meteor Sporadik karena hanya terjadi sekali, sehingga tidak berbahaya bagi manusia sekitarnya. "Kalau hujan meteor, pasti lebih dari satu meteor," jelasnya. Menelisik laporan warga yang tersebar di Jabodetabek, menunjukkan adanya meteor sporadik yang melintas dari timur ke barat, sesuai rotasi bumi yang menuju arah timur, sehinggai sangat mungkin jika berpapasan.
Menurut Moedji, gesekan yang sangat kuat antara meteor dengan bumi dengan kecepatan orbit 100 kilo meter per jam, menghasilkan efek seperti ekor yang dilihat oleh saksi mata. Moedji menganalisa, bahwa laporan saksi mata yang menyatakan benda angkasa itu meledak di langit, disebabkan temperaturnya yang cukup tinggi akibat terbakar di atmosfer.
"Karena sangat panas, gas yang ada di dalam meteor meledak dan hancur di atas langit," jelasnya. Moedji yakin meteor itu pasti sangat panas sehingga menghasilkan nyala yang sangat terang. "Terkena sinar matahari saja masih kelihatan bersinar, apalagi kalau malam," katanya.
Dia menghimbau masyarakat untuk tidak panik. "Fenomena yang sudah-sudah, umumnya tidak sampai mengakibatkan bencana," katanya. Dia memastikan bahwa ukuran meteor, sebelum terbakar dan meledak di atmosfer, berdiameter kurang dari 1 kilometer. Jika lebih dari itu, dia menjelaskan, pasti badan astoromi dari Amerika dan luar negeri lainnya sudah mendeteksi, "Dan memberi peringatan awal kepada negara yang terkena," ujar Moedji.
Hakim Malasan, Peneliti di Observatorium Boscha, yang juga dihubungi lewat telepon pada hari yang sama, sependapat dengan Moedji. Pihaknya sampai saat ini tidak melakukan antisipasi apapun karena yakin bahwa hal tersebut adalah wajar dan tidak berbahaya.
Senada dengan Moedji, Hakim menjelaskan, jika hal itu merupakan hujan meteor, Boscha akan menindaklanjuti dengan melakukan pengamatan pada malam berikutnya. Hujan meteor, menurutnya, biasa terjadi dua malam hingga satu minggu. Namun, jika tidak berulang lagi, maka masalah itu akan diserahkan kepada LAPAN yang menangani keselamatan udara.
Mengenai hujan meteor, Hakim menjelaskan, biasanya ada dua kali penampakan tiap tahunnya. Sekitar Juni hingga Juli, menurutnya, terjadi hujan meteor yang diberi nama Geminit. Sedangkan sekitar bulan November hingga Desember, biasa terjadi hujan meteor Leonit. Penamaan ini didasarkan pada arah rasi bintang dari mana hujan meteor berasal.
Hujan meteor itu sendiri, menurutnya, sebenarnya berasal dari komet yang 'serpihan' batunya tertinggal di orbit saat melintasi matahari. Pada saat tertentu, kumpulan meteor ini akan berpapasan dengan planet seperti palnet bumi. Saat berpapasan, meteor-meteor itu akan terbakar di atmosfer sehingga menimbulkan nyala api dan dari bumi akan tampak seperti nyala kembang api. Penampakan ini biasa terjadi pada malam hari atau menjelang pagi.
Suliyanti-Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|