|
Jakarta
Pengerukan Kali Tirem Tanpa Melibatkan Warga Sekitar
Senin, 06 Desember 2004 | 13:33 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sejumlah warga yang tinggal di pingiran kali Tirem, Jakarta Utara mempertanyakan kerja pengerukan kali oleh pemerintah Kotamadya Jakarta Utara. Menurut warga, mereka belum mendapatkan penjelasan atau sosialisasi yang terperinci dari pihak yang berwenang.
Pengerukan kali Tirem yang melewati lima kelurahan di Jakarta Utara, sudah dimulai sejak Rabu (24/11) lalu. Kali sepanjang 2 kilometer itu melewati kelurahan Papanggo, Kebon Bawang, Sungai Bambu, Warakas dan Tanjung Priok yang kemudian bermuara di Waduk Pluit. Pengerukan ini ditujukan guna memperlancar aliran air karena pendangkalan sehingga mampu mengatasi genangan di lima kelurahan tersebut.
Berdasarkan pantauan Tempo di lokasi, hasil kerukan berupa lumpur, batu, seng, bambu, dan sampah tidak langsung diangkut, tetapi hanya dipinggirkan ke tepi sungai. Menurut Mohammad Yusuf, anggota Dewan Kelurahan Warakas, sampah yang dibiarkan begitu saja akan kembali terbawa air jika hujan turun. "Anggota DPRD datang, baru mereka angkut dengan truk," kata Yusuf.
Selain pengerjaan yang tidak menyeluruh, pihak pemerintah kota dituding tidak menjalankan kesepakatan yang telah dibuat bersama dengan warga. Salah satunya adalah tidak adanya pemberitahuan kepada warga mengenai rencana pengerukan dan pembongkaran rumah. Padahal dalam kesepakatannya, menurut, pemerintah akan memberitahukan secara tertulis rencana tersebut seminggu sebelum pelaksanaannya. "Saya sendiri anggota dewan kelurahan belum dikasih tau," ujar Yusuf kesal.
Salah satu hal lain yang tidak sesuai kesepakatan, adalah akan diadakannya kembali rapat yang melibatkan unsur warga dan pemerintah selaku pelaksana proyek itu. Dalam rapat itu sedianya akan membahas mengenai teknis pelaksanaannya sebelum dilaksanakan. Misalnya, tempat lumpur akan dibawa, tempat mesin pengeruk (back hoe) akan ditaruh, dll.
Beberapa warga juga mencemaskan rumahnya akan longsor karena tidak adanya fondasi. Karena ketika mesin pengeruk bekerja, rumah di pinggir kali mengalami getaran yang sangat hebat. Sehingga, seharusnya cerocok dari bambu untuk menahan rumah warga dipasang terlebih dahulu. "Seandainya ada rumah yang longsor atau rusak, juga belum dibahas berapa ganti ruginya," kata Yusuf.
Warga sebenarnya menyadari arti penting pengerukan dan pelebaran kali Tirem ini. Namun, warga menyesalkan tindakan pemerintah yang seakan-akan tidak mau melibatkan warga sekitar. "Dari awal program kita dukung," kata Yusuf.
Menurut Lurah Warakas, Jakarta Utara, Musa Syafrudin, pihaknya sudah melakukan sosialisasi sebulan sebelum bulan puasa. Bahkan, sosialisasi itu dilakukan dengan mendatangi warga dari rumah ke rumah. "Ada warga yang sadar dan akan membongkar sendiri rumahnya,"kata Musa.
Menurut Kepala Suku Dinas Tata Air Kotamadya Jakarta Utara, Sulaeman, selain pengerukan, kali Tirem juga akan dilebarkan. "Pelebaran akan dilakukan hingga mencapai 12 meter dari 6 meter yang ada sekarang." katanya. Pembongkaran atau penertiban hanya dilakukan terhadap rumah atau bangian dari rumah yang menjorok ke aliran sungai.
Program pengerukan dan pelebaran kali Tirem, menurut Sulaeman, adalah program dari pemerintah propinsi melalui dinas pekerjaan umum. Penertiban atau pembongkaran, dilakukan setelah adanya surat tugas dari dinas pekerjaan umum ke Walikotamadya Jakarta Utara. "Penyuluhannya sudah kami lakukan sebulan sebelum puasa di tiap kelurahan,"kata Sulaeman.
Warga, menurut Yusuf, mengharapkan aparat lebih terbuka terhadap masyarakat dalam melakukan suatu program. "Hargailah masyarakat bawah. Jangan hanya kalau dibutuhkan baru kita dilibatkan,"kata Yusuf.
Tito Sianipar
INDEKS BERITA LAINNYA :
|