Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Jakarta

Baru 12 Persen Tanah Dibebaskan untuk BKT
Kamis, 02 Desember 2004 | 18:54 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT) yang diharapkan menjadi solusi permasalahan banjir di Jakarta, belum juga tuntas dalam tiga tahun ini. Koesnan Abdul Halim, Walikota Jakarta Timur menyampaikan proyek kanal sepanjang 23 kilometer melintasi wilayah Jakarta Timur ini terhambat karena masalah pembebasan tanah warga.

Pelaksanaan pembebasan tanah proyek BKT yang selama ini dipegang walikota masing-masing wilayah (Jakarta Timur dan Jakarta Utara), dinilai belum mencapai hasil maksimal. Bahkan sampai muncul kritik tajam dari pemerintah provinsi (Bappeda), jika sampai batas akhir 2007 lahan tidak terbebaskan, Pempov DKI akan mengambil alih proyek ini.

Pemerintah kotamadya yang bertanggungjawab terkesan lamban, padahal dana yang dihabiskan terbilang tidak sedikit sejak proyek ini dimulai. Selama 2004 saja, proyek ini menelan dana Rp 450 miliar tetapi hasilnya tidak seberapa. "Baru 12 persen yang bisa dibebaskan selama tiga tahun proyek ini," kata Koesnan ketika memberikan sambutan Talk Show Interaktif Jajaran Aparatur dan Masyarakat Jakarta Timur dengan DPRD DKI Jakarta di ruang Pola Gedung Walikota Jakarta Timur, Kamis (2/12).

Pembebasan tanah menjadi lama dan menyisakan kurang lebih 200 hektar lahan yang akan dilalui sudetan BKT, terjadi karena konflik penentuan harga tanah antara warga dan pemkot. Perdebatan yang terjadi apakah menggunakan pembebasan tanah dengan harga pasar ataukah sesuai dengan nilai jual obyek pajak (NJOP). "Masyarakat banyak yang komplain, masak tanah yang harganya Rp 300 ribu cuma dihargai Rp 150 ribu," ujar Perdata Tambunan wakil Komisi A (bidang Pemerintahan). "Padahal NJOP-nya masih menggunakan yang lama," lanjutnya.

Dilain pihak ada sebagian masyarakat yang ngotot hanya mau melepaskan tanah dan pemukiman mereka jika harga yang diberikan sesuai dengan harga pasarnya. Ada tawaran dari DPRD untuk menengahi dengan menerapkan penetapan harga tanah dengan formula harga pasar ditambah NJOP dibagi dua. Usul dari Dewan Provinsi mendapat tanggapan positif dari dewan kota. Namun, Suyadi Ketua Dewan Kota Jakarta Timur masih menyangsikannya, "Tentang penggantian tanah dengan rumusan NJOP+Harga pasar dibagi 2 menurut saya bagus. Tapi siapa yang menentukan besarnya harga pasar?".

Menurut Suyadi,masyarakat juga masih mengeluh karena denda-denda yang dibebankan kepada mereka akibat pajak-pajak tanah dan bangunan yang belum terbayar. "Menurut saya diputihkan saja, sehingga warga tidak terbebani dan mau melepaskan tanahnya," lanjutnya.

Namun pihak pemkot menolak dengan dalih masih menggunakan SK 175 tahun 2001 bahwa penetapan harga sesuai dengan NJOP. "Kami tidak memakai ketentuan itu," kata Koesnan kepada wartawan seusai Talk Show.

Menurutnya saat ini sudah ada 90 berkas milik masyarakat yang bersedia tanahnya dibebaskan, namun anggaran untuk 2004 sudah habis sehingga realisasinya menunggu APBD 2005. "PU tinggal bayar, tapi belum ada uangnya," lanjut Koesnan.

Selain masalah NJOP, di lapangan selama proyek pembebasan tanah berlangsung, ditemukan beberapa sertifikat ganda yang dimiliki warga. Menurut Perdata Tambunan dari Komisi A yang hadir dalam pertemuan tersebut, ada tanah-tanah yang tidak jelas siapa pemiliknya, mana yang milik warga dan mana yang milik pemerintah. "Perlu pengkajian lebih lanjut," katanya.

"Banyaknya sertifikat ganda karena kepentingan orang-orang tertentu memanfaatkan situasi untuk bisnis," kata Perdata Tambunan. Menurutnya bisa jadi banyaknya sertifikat ganda karena pemalsuan.

Terkait dengan pemalsuan sertifikat tersebut komisi A dalam waktu dekat akan memanggil M. Khudlori, Kepala BPN Jakarta Timur.

BKT melintas mulai dari Kelurahan Cipinang Besar, Cipinang Muara, Pondok Bambu, Duren Sawit, Pondok Kelapa, Malaka Sari, Malaka Jaya, Pondok Kopi, Pulo Gebang, Ujung Menteng, Cakung Timur, Rorotan hingga Marunda.

Pemerintah Kota Jaktim yakin jika rencana yang ditargetkan pada 2007 ini selesai, akan mampu mengatasi 80 persen banjir di Jakarta Timur. Sesuai rencana proyek BKT dengan panjang 23,575 kilometer itu akan dibagi dalam empat tahap. Masing-masing mulai tahap pertama pada 2004, kedua pada 2005, ketiga pada 2006 dan tahap terakhir pada 2007.

Agus Supriyanto - Tempo

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Proyek Banjir Kanal Timur Terhambat Pembebasan Tanah
Tanah Retak, 46 Rumah Warga Terancam Ambruk
Ketinggian Air di Jakarta Utara Turun
Sangkur Trantib akan Diganti Tongkat Getar
Meski DPRD Minta Penundaan, Pemerintah Tetap Sosialisasikan UMP 2005
Turun Jabatan, Bagi Pegawai Pemprov DKI Jakarta Yang Tidak Disiplin
Puluhan Pendatang Terjaring Operasi Yustisi
Sungai Citarum Rusak Berat, 8 Titik Rawan Jebol
Butuh Rp 10 Miliar Perbaiki Pintu Bendung Kali Bekasi
Enam Kecamatan di Tangerang Siaga Banjir
> selengkapnya...


Referensi

Konflik Sampah, Lemahnya Manajemen Persampahan
Kompos, Salah Satu Jalan Keluar Problem Sampah
Reusable Sanitary Landfill, alternatif pengolahan sampah Jakarta
Keppres RI No. 3 Tahun 2001 Tentang Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi
UU RI No.25 Thn.1999 Tentang Pertimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah
Keppres RI No. 114 Tahun 1999 Tentang Penataan Ruang Kawasan Bogor-Puncak-Cianjur
> selengkapnya...

Website

Proyek Induk Pengembangan Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (PPWSCC)
Departemen Sosial
Situs INFORM
Info Jakarta
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< December,2004>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data