|
Metro
Situasi Bojong Mulai Pulih
Rabu, 01 Desember 2004 | 19:29 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Kehidupan masyarakat Desa Bojong, Cileungsi, Bogor, mulai pulih kembali. Warga mulai melakukan aktifitasnya sehari-hari. Padahal tiga hari lalu warga Desa Bojong pasca kerusuhan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu, Bojong, 22 November lalu, keadaan desa ini masih terlihat sepi. Sejak Selasa kemarin warga Desa Bojong dan Desa Setusari sudah mulai melakukan ronda malam. Meski kondisi mulai pulih, ada saja warga yang belum berani keluar rumahnya.
Pemantauan Tempo kemarin sejumlah petani terlihat
melakukan aktifitasnya di ladang dan sawahnya tidak
jauh dari lokasi TPST Bojong. Beberapa warga desa Bojong mulai berani berlalulalang di Jalan Desa Setusari-Bojong. Ada juga yang terlihat berkumpul di bale-bale rumah salah seorang penduduk. Umumnya mereka membicarakan peristiwa yang tidak disangka bakal
terjadi yakni aksi perusakan dan kerusuhan di TPST
Bojong.
"Saya tidak mengira kalau kemarin banyak warga sini
yang ditangkap, wajar kalau kami takut ditangkap juga,
sebab tidak semua ikutan merusak, kalau aksi menolak
sampah saya juga ikut," tutur Sainan, warga Bojong. Ia
menuturkan saat aksi masa merangsek ke areal TPST, ia
langsung pulang, karena takut kena tembakan. "Mendengar tembakan saya sudah takut, saya pulang," tuturnya.
Ia mengaku selama 4 hari masih takut dan bersembunyi
di rumahnya, apalagi banyak tetangganya yang ditangkap. Kini Sainan tidak takut lagi keluar rumah setelah ada keterangan bahwa polisi tidak akan melakukan penangkapan lagi terhadap warga. Hal yang sama diungkapkan Uus, Jaja dan Rohmin, warga Setusari yang juga sempat tidak berani keluar rumah.
Kondisi desa Bojong memang belum sepenuhnya pulih seperti sebelum terjadinya aksi kerusuhan. Masih ada
warga yang belum berani main ke pinggir jalan, kecuali
berada di gang atau di perkampungan agak jauh dari
jalan. Supardi, warga Bojong Hilir mengatakan hari
Jumat pekan lalu, Mesjid Al Hidayah di Kampung Rawa
Jeler sempat sepi hanya terihat lima sap (baris) saja,
padahal biasanya, saat Sholat Jumat jemaah terlihat
sampai halaman mesjid. "Ya wajar kami takut ditangkap
karena belum tentu kami ikut pengrusakan dan
pembakaran," kata Supardi. Supardi menambahkan beberapa
tetangganya sempat bersembunyi di rumah saudaranya di
luar Desa Bojong, kemudian kembali lagi empat hari
lalu.
Situasi yang mulai kondusif memang terlihat warga juga
mulai akrab dengan wartawan dan berani mengemukakan
pendapatnya, bahwa sepenuh hati mereka tetap menolak
keberadaan TPST Bojong sampai kapanpun. "Saya heran
pejabat di Jakarta termasuk Sutiyoso terkesan memaksakan kehendaknya, termasuk anggota DPR ikut-ikutan," kata
Jaja yang mengikuti perkembangan TPST Bojong di televisi. Ia menyesalkan pernyataan 'nekad' TPST Bojong tetap akan dilanjutkan. "Dulu kata TPST Bojong yang menolak hanya puluhan orang, padahal hampir semua warga Bojong menolak."
Diakui warga lainnya, pasca aksi tanggal 4 Oktober
lalu yang juga mengakibatkan kerusakan di TPST Bojong
warga masih berani keluar rumah dan berkumpul, namun
setelah aksi kerusuhan terakhir kemarin, warga banyak
yang belum pulang, kemungkinan mereka menyembunyikan
diri.
Sedangkan di TSPT Bojong memang belum ada aktifitas
sama sekali, meskipun pintu gerbang pabrik sampah ini
'police line-nya sudah hilang. Sisa-sisa puing yang terbakar masih belum semuanya dirapikan, kecuali di
bagian dalam perkantoran semuanya sudah dibersihkan.
Pos keamanan dan gudang genset masih terlihat gosong
belum diperbaiki. Beberapa orang yang diduga karyawan
TPST terlihat hanya berjaga-jaga saja.
Sebelumnya Kepala Kepolisian Resort Bogor Ajun Komisaris
Besar Muh. Taufik membantah pihaknya masih terus
melakukan penangkapan terhadap pelaku perusuhan TPST
Bojong. Karena beberapa saat setelah kerusuhan TPST
Bojong, pihaknya hanya baru menetapkan 19 orang
tersangka. Sisanya 19 orang telah dikembalikan esok
harinya. Berkas 19 tersangka sudah diserahkan ke
Kejaksaan Negeri Cibinong. Tersangka tersebut belum
termasuk lima orang yang tertembak
Deffan Purnama-Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|