|
Bekasi
U-turn Bekasi Flyover Belum Efektif Atasi Kemacetan
Rabu, 01 Desember 2004 | 10:21 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Upaya pemerintah membangun proyek jalan putar balik (u- turn) untuk mengurangi kemacetan di Jalan Achmad Yani menuju gerbang tol Bekasi Barat belum efektif mengatasi kesemrawutan dan kemacetan lalu lintas. Penyebabnya, tidak dibarengi penertiban kendaraan yang serampangan berhenti di jalur larangan berhenti.
Pengamatan Tempo pada Rabu (1/12) pago, di persimpangan lalu lintas Jalan Ahmad Yani masih terlihat aksi serampangan pengemudi angkutan, khususnya angkutan umum yang hendak memasuki pintu tol Bekasi Barat. Padahal, di sepanjang jalan itu terpasang rambu-rambu lalu lintas larangan berhenti.
Rencana semula, proyek jalan putar balik yang merupakan pembangunan satu paket dengan jalan sepanjang 1,8 kilometer bernama Bekasi Flyover itu, dirancang untuk mengurangi hambatan di depan pintu tol Bekasi Barat yang notabene menjadi jalur bisnis dan perdagangan, tetap semrawut.
Angkutan umum di sekitar kawasan percontohan itu tetap menurunkan penumpang dan menaikkan penumpang seenaknya. Padahal, di sekitar kawasan itu setiap pagi dipantau petugas keamanan, baik dari Dinas Perhubungan dan aparat kepolisian lalu lintas Kepolisian Resort Bekasi.
Akibatnya, arus lalu lintas di kota yang tengah membangun itu, setiap pagi (06.00-10.00 WIB) dan sore (16.00-21-00) selalu terhambat. Ujung-ujungnya, antrean kendaraan tetap saja tidak dapat dihindari. Jalur putar balik itu, untuk sementara ini difungsikan antara pukul 06.00 WIB sampai pukul 09.00 WIB. Diluar jam kerja itupun semrawut.
Kondisi ini bertolak belakang dengan tekad pemerintah Kota Bekasi yang merencanakan akan menjadikan kota yang diminati investor untuk berwirausaha dan menjadi jalur yang akan memudahkan masyarakat dan kalangan industri. Bila ditimbang-timbang kesemrawutan di jalur ekonomi itu justru menambah cermin buruknya penataan kota.
Buruknya pengaturan lalu lintas di jalur segitiga emas yang selalu dikeluhkan para pengguna jalan raya yang hendak keluar dan masuk pintu tol Bekasi Barat itu merupakan contoh pemerintah setempat yang tidak serius menindak lanjuti program pemerintah pusat yang bertekad membangun infrastruktur jalan untuk kepentingan daerah.
Kepala Pengendali Operasional Dinas Perhubungan Pemerintah Kota Bekasi, Tri Adhianto, mengakui kesemrawutan memang tetap terjadi, meski petugas sudah berupaya mengaturnya. "Ini terkait juga dengan disiplinnya para pengendara dan jumlah kendaraan yang melintas\" kata Tri.
Pemecahan kemacetan ini merupakan pekerjaan pemerintah dan masyarkat pengguna jalan. Karena itu dia berharap, masyarakat juga ikut menumbuhkan disiplin berlalulintas. Dari hasil evaluasi u-turn yang diresmikan Menteri Pekerjaan Umum, Kirmanto, pada 4 November 2004, "Sudah menunjukkan pengurangan kesemrawutan," kata Tri.
DMeski begitu, baru berhasil mengurangi masalah waktu kemacetan. Antrian kendaraan di ruas jalan dan u-turn yang dibangun atas bantuan dana dari pemerintah Jepang melalui JBIC (Japan Bank for International Cooperation) itu kini hanya sekitar 10 menit sampai 15 menit.
Sebelum ada jalur putar balik itu, antrian di ruas jalan itu setiap pagi dan sore (jam kerja) lamanya mencapai satu jam. "Hambatan yang terjadi di Jalan Ahmad Yani kita sudah hampir menyelesaikannya, khususnya di jalur menuju gerbang tol Bekasi Barat, juga mengurangi kemacetan di Jalan Cut Meutia, jalur provinsi," ujar Tri.
Siswanto-Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|